Tiga tahun kemudian waktu berjalan begitu cepat tak terasa masih di keluarga yang sama yaitu di keluarga Jensoo kini anak perempuan pertama dari Jennie kini tumbuh dengan sangat baik dan dia sudah bisa bicara berlari tumbuh menjadi anak yang sangat ceria dan sangat pintar namun di pertumbuhan anak itu dia berharap dan sangat ingin seperti anak-anak normal lainnya yang memiliki kedua orang tua yang sangat menyayanginya memperhatikannya mengajaknya bermain mengantarnya bersekolah mengajaknya belajar dan lain-lainnya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ya memang faktanya hal itu tidak Ji Eun dapatkan dari seseorang yang sangat ia inginkan Jisoo yang Ji Eun kenal sebagai ayahnya dia tidak memberikan itu semua pada Ji Eun di karena kan jisoo yang belum menerimanya sepenuhnya.
Padahal ji Eun anak yang sangat ceria, Ia sering mencoba mendekat,mengajak jisoo bermain atau sekedar menunjukkan gambar yang ia buat
"Dada lihat ini"katanya suatu sore menyodorkan kertas penuh coretan warna-warni yang ia gambar
"bagus" balas jisoo tersenyum sangat tipis
jawabannya singkat lalu kembali menatap layar ponselnya ia sejujurnya belum terbiasa dengan panggilan itu meski jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat senang akan panggilan itu tapi egonya selalu menyampingkan rasa senangnya itu dan kembali bersikap acuh tak acuh pada anak itu.
Jennie melihat semuanya,ia tidak memaksa tapi di matanya tersimpan harapan-harapan agar jisoo bisa bener-bener hadir bukan hanya sebagai suami tapi juga sebagai ayah.
Pernah suatu hari Ji eun jatuh sakit demamnya tinggi dan Jennie sedang tidak ada di rumah ia hanya menitipkan Ji eun pada asisten rumah tangganya karena Jennie tidak memiliki baby sitter tentu itu keinginannya sendiri saat Ji eun sakit demamnya tinggi saat itu yang ada di rumah hanya asisten rumah tangganya juga jisoo yang sedang libur dari kantor nya namun sayangnya asisten rumah tangganya sedang keluar dan jisoo mau tidak mau dia yang harus turun tangan mengecek kondisi Ji eun yang demam.
Awalnya canggung jisoo duduk di samping tempat tidur memperhatikan wajah kecil yang pucat itu Ji eun menggenggam tangan disuruh dengan lemah.
"Dada... jangan pergi ya"bidiknya
Jisoo terdiam
Untuk kesekian kalinya jisoo merasakan ada sesuatu yang retak di dalam dirinya panggilan itu yang dulu terasa asing kini terdengar tulus dan membutuhkan
hari itu jisoo belajar hal-hal kecil dan sederhana seperti mengompres dahi Ji eun membuatkan sup bahkan membacakan dongeng sebelum Ji eun tidur ia melihat sisi lain dari anak itu bukan sekedar anak orang lain tapi seorang anak kecil yang hanya ingin disayangi.
Saat malam tiba Ji eun terbangun dan menangis pelan tanpa berpikir panjang jisoo memeluknya dan berkata
"Dada di sini sayang"katanya refleks
Jisoo sempat terkejut dengan kata-katanya sendiri.
Sejak hari itu sesuatu berubah tidak drastis tidak instan tapi perlahan jisoo mulai pulang lebih cepat mulai ikut tertawa saat Ji eun bercerita mulai merasa kehilangan saat rumah sepi tanpa suara kecil itu.
Ada rasa penyesalan dalam dirinya karena sempat berpikir untuk meninggalkan keluarga kecilnya ini dan lebih memilih masa lalunya.
Ya saat pertemuan jisoo dengan sang mantan kekasihnya kala itu pikiran-pikiran seperti itu sempat ia lakukan dan tentunya Jennie istrinya dia mengetahui hal itu sempat terjadi perdebatan-perdebatan hal semacam itu diantara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah Jennie masih ingin mempertahankan pernikahannya dan di satu sisi lainnya lagi Jisoo ia ingin berpisah
pada akhirnya Ji Soo memutuskan untuk mempertahankan pernikahan ini namun dengan kata tertentu yaitu Jisoo yang tidak bisa dan tidak akan bisa menerima anak itu yang tak lain putri dari istrinya dan Jisoo juga tidak bisa mencintai Jennie seutuhnya karena yang ia cintai adalah sang mantan kekasihnya Jisoo akan melakukan semuanya sesuai tanggung jawabnya sebagai seorang suami kepada istrinya termasuk nafkah batin.
Namun hal itu tidak sesuai dengan harapan yang Jisoo harapkan karena pada kenyataannya seiring berjalannya waktu perlahan tapi pasti dia mulai menyadari hal-hal dari hal yang paling kecil hingga yang paling membuatnya tidak bisa berpaling ia ia ingin menetap di situ Di kehangatan itu.
Ketulusan Jennie juga Ji eun mampu merobohkan tembok yang ia bangun yang sangat kokoh hancur Jisoo kalah oleh egonya sendiri cinta yang ia yakini hanya untuk sang mantan kekasih nyatanya perlahan-lahan cinta itu mulai hilang dan tumbuh kembali di tempat yang baru.
Suatu hari Ji eun kembali membawa gambar yang ia lukis sendiri kali ini Ji eun menggambar 3 orang perempuan 2 perempuan dewasa dan satu perempuan kecil yang menggandeng tangan keduanya di atasnya tertulis dengan huruf besar keluarga ku
"Ini Dada ini mommy ini aku"kata Ji eun sambil tersenyum lebar
Jisoo menatap gambar itu lama dadanya terasa hangat sekaligus sesak ia sadar menerima bukan tentang darah atau asal usul menerima adalah tentang memilih untuk hadir untuk peduli untuk mencintai meski awalnya terasa sulit.
Ia mengangkat Ji eun pada pengakuannya dan memeluknya.
"Iya,ini keluarga kita"katanya pelan.
Jennie yang melihat itu dari kejauhan hanya tersenyum matanya berkaca-kaca
Hal yang sempat membuatnya menyerah kini ia melihatnya membuat semangatnya kembali tumbuh untuk tetap mempertahankan kebahagiaan dirinya juga Putri tercintanya yaitu dengan mempertahankan pernikahan ini.
"Unnie akhirnya aku tahu maksud dari kata-katamu waktu itu"ucap Jennie dari dalam hati nya.
Ya setelah perdebatan dirinya dengan Jisoo waktu itu dia langsung bercerita dengan Irene dan sahabatnya mereka meyakini bahwa dirinya bisa melewati ini semua dan Jisoo bisa menerima semua hal yang terjadi dalam hidupnya termasuk mencintai dan menerima jennie dan putrinya dan kini hal itu terbukti kata-kata itu terbukti nyata terjadi bisa menerima putrinya mereka berdua hanya perlu waktu untuk saling menerima satu sama lain.
sore itu di teras rumah yang sama Jisoo kini tidak lagi duduk sendiri di sampingnya Ji eun bercerita tanpa henti dan di dalam Jennie menyiapkan teh hangat.
**
malam-malam berikutnya terasa berbeda bagi Jisoo ia tidak lagi mencari alasan untuk duduk sendirian di teras kini justru ia menunggu suara langkah kecil yang berlari menghampirinya.
"Dada, hari ini Ji eun dapat bintang di sekolah"katanya dengan gembira
"Dada, besok ada pentas,....papa datang ya?"lanjutnya dengan hati-hati.
Karena dulu Jisoo sering kali mengabaikan ajakan Ji eun dan bersikap acuh seakan tidak menganggap kehadiran gadis kecil itu maka dari itu Ji eun dengan kepekaan dan kecerdasannya dia tahu apa yang dilihatnya dan apa yang dirasakannya meskipun berkali-kali mommy nya Jennie berusaha untuk menghiburnya Ji eun tahu dia mengerti bahwa dirinya memang tidak di inginkan oleh Dadanya.
Dan di lain sisi hal-hal kecil itu dulu Jisoo mungkin akan ia anggap biasa dan mengabaikannya tapi sekarang setiap cerita Ji eun seperti membuka ruang baru di hatinya ruang yang sebelumnya ia tutup rapat.