Part 45
Isabella sedikit kecewa saat mendapati sang tamu bukanlah Dominic. Namun karena yang datang adalah sang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa, kekecewaan itu pun dengan cepat berganti ke rasa senang.
"Kejutan!" Daysi tersenyum lebar saat Isabella membuka pintu pagar. Gadis itu melepas genggamannya pada gagang koper, lalu memeluk Isabella dengan sebelah tangan masih menenteng tas dan sebuah kotak pizza berukuran besar.
Isabella balas memeluk dengan haru dan rindu. "Daysi! Sudah sangat lama kita tak bertemu! Aku sangat merindukanmu!" Beberapa hari lalu Isabella menghubungi sang sahabat, bertukar kabar dan mengatakan bahwa ia sudah kembali ke rumah.
Setelah cukup lama keduanya pun mengurai pelukan.
"Aku juga sangat merindukanmu, karena itu dari bandara aku langsung kemari." Daysi memandang Isabella dengan hangat.
Isabella mengedip tersentuh. "Seharusnya kau pulang istirahat dulu."
Daysi menggeleng sambil tersenyum. "Aku bisa beristirahat di sini. Aku berencana menginap di rumahmu malam ini."
"Kau serius?"
"Tentu!"
Isabella seketika tersenyum lebar.
"Aku beli pizza. Aku harap kau belum makan."
"Yah, memang belum."
Lalu senyum Daysi memudar. Gadis itu memandang Isabella dengan heran. "Kau akan pergi?"
Isabella memandang penampilannya dan sadar ia masih mengenakan gaun dengan riasan wajah sempurna. Ia tersenyum tipis menutupi kekecewaan teringat kencannya dan Dominic yang gagal dilaksana malam ini. "Tadinya. Tapi Dominic ada urusan mendesak."
"Dominic? Pria itu?"
Isabella mengangguk.
"Bagaimana bisa?? Bukankah—"
"Nanti kita bicara di dalam saja, Si." Setelah mengatakan itu Isabella bergerak hendak menutup pintu pagar. Saat itulah ia melihat seorang pria berusia awal tiga puluh, bertubuh gagah dengan wajah tampan sedang berdiri di beranda rumah seberang. Pria itu memegang ponsel dan memandang ke arahnya.
Untuk sesaat tatapan Isabella dan pria itu bertemu. Lalu Isabella menutup pintu pagar. Sejak kembali, Isabella beberapa kali melihat pria itu. Apakah dia saudara dari pasangan suami istri yang tinggal di rumah seberang? Namun akhir-akhir ini Isabella belum pernah melihat kedua suami istri itu lagi. Ataukah rumahnya sudah dijual pada pria itu?
"Bella."
Panggilan Daysi membuyarkan lamunan Isabella. Ia pun memandang sang sahabat dan tersenyum. "Ayo," ajaknya sembari menarik koper Daysi dan berjalan menuju rumah.
***
Dominic duduk di ruang keluarga di antara keluarganya dan keluarga handoko. Namun hanya tubuhnya yang ada di sana, seluruh pikirannya sepenuhnya pada Isabella. Apakah kekasihnya itu sudah makan? Apa yang Isabella lakukan sekarang? Isabella pasti kecewa karena ia tiba-tiba membatalkan kencan mereka.
Tanpa memedulikan percakapan yang berlangsung di sekitarnya, Dominic meraih ponsel, berencana mengirim pesan pada Isabella, sekaligus memantau kekasihnya itu lewat kamera pengawas yang terhubung ke ponselnya. Tepat saat itu benda canggih tersebut berdering singkat. Beberapa pesan masuk dari Jacky.
Dominic dengan antusias membukanya. Jacky mengirim foto Isabella bersama seorang gadis seumurannya. Meski tak pernah bertemu langsung, Dominic pernah melihat foto gadis itu dan mengenalinya sebagai Daysi, sahabat karib Isabella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
