PART 47
Bagian luar rumah Isabella berwarna cokelat muda, dengan hiasan batu alam di depannya. Dalam rumah, juga berwarna cokelat, tapi lebih muda dari warna bagian luar.
Rumah Isabella memiliki dua kamar berposisi sejajar, dengan pintu yang saling berhadapan, sementara kamar mandi berada di antaranya.
Dominic yang duduk di ruang tamu melihat Isabella melangkah ke kamar mandi sembari membawa handuk dan pakaian.
Hari ini Isabella mengenakan celana pendek yoga dipadu dengan kaus pas badan berlengan pendek. Wajah Isabella tanpa riasan dan rambut sebahunya dijepit ke belakang. Meskipun berpenampilan rumahan seperti itu, Isabella masih tampak memikat dan cantik.
Tatapan Dominic berhenti lama di bokong kencang Isabella, lalu turun ke paha dan betis mulusnya yang begitu indah dan sempurna.
Hasrat seketika membakar Dominic. Darahnya dengan cepat menderu ke bawah pusar. Tak menunggu lama, bukti gairahnya pun menegang.
Benak Dominic dipenuhi betapa menyenangkan mengelus bokong Isabella, paha, juga betisnya. Tungkai Isabella benar-benar indah dan membuatnya tak mampu mengendalikan pikiran-pikiran nakal.
Gairah Dominic yang sudah lama nyaris mati oleh kesibukan kerja, kini mengamuk menuntut penuntasan. Dominic menahan napas frustrasi. Celananya terasa kian mengetat dan itu membuatnya sakit.
Tak sanggup menahan diri, Dominic akhirnya bangkit.
Isabella sudah masuk ke kamar mandi. Pintu tertutup.
Dominic berjalan menuju ke kamar mandi. Tanpa ragu ia menyentuh gagang pintu. Tidak dikunci. Dominic pun mendorongnya pelan.
Isabella yang baru saja melepas semua pakaian, tampak terkejut. Gadis yang sudah polos tanpa selembar benang pun itu dengan cepat menutup kedua payudaranya dengan tangan kanan, sementara pangkal pahanya dengan tangan kiri.
"Dominic, apa yang kau lakukan?" tanya Isabella dengan mata melebar.
"Aku akan menemanimu mandi." Lalu Dominic mendekati Isabella.
"Tapi—"
"Ssst ...." Dominic membungkam pelan bibir Isabella dengan jari telunjuk, lalu menggiring gadis itu ke bawah pancuran, kemudian memutar kran air.
Air dengan suhu hangat sedang pun berjatuhan dari pancuran bak hujan.
Dominic mendorong Isabella sedikit ke bawah pancuran. Bagian punggung ke bawah tubuh Isabella pun basah.
"Dominic ...."
Dominic memandang Isabella dengan mata berkobar api hasrat. Kedua tangannya terjulur dan menyentuh kiri dan kanan bahu Isabella, lalu membelai lembut.
Isabella memejam sembari menggigit bibir pelan.
Dominic membelai bahu mulus sang kekasih.
Isabella membuka mata dan tatapan keduanya bertemu. Dominic bisa melihat api hasrat juga berkobar di mata sang kekasih. Iris cokelat keemasan yang indah itu kini tampak berkabut.
Tangan kiri Dominic merayap membelai leher jenjang Isabella. Merayap lagi hingga ke belakang kepala gadis itu. Sementara tangan kanan Dominic mengelus lembut ujung bahu sang kekasih, lalu sedikit turun ke lengan.
Tatapan keduanya masih terkunci dalam kobaran api gairah. Air hangat terus mengucur dari pancuran.
Dominic menunduk, mengecup lembut bibir Isabella. Gadis itu pun memejam.
Tangan kanan Dominic bergerak meninggalkan lengan Isabella dan kini hinggap di payudara kiri gadis itu.
Dominic meremasnya lembut. Payudara Isabella kencang dan besar, sangat pas di tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomansaCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
