CATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE:
MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA
FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK
CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!!
________________________
Tiada angin, tiada hujan, ti...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Part 50
Dominic mengajak Xavier makan siang di sebuah restoran masakan nusantara yang terdapat tak jauh dari kantornya. Usai makan keduanya masih duduk-duduk sambil berbincang.
"Aku harus menyingkirkannya secepatnya," kata Dominic tiba-tiba setelah keheningan membentang cukup lama antara keduanya.
"Siapa? Lucy?" Xavier menatap Dominic.
Dominic menggeleng. "Katerine."
Alis Xavier terangkat.
"Tadi pagi dia menemuiku di kantor. Sangat berbahaya jika Isabella tahu bahwa Katerine yang sebenarnya ada, dan aku telah menipunya."
Xavier mengangguk-angguk. "Tapi menyingkirkannya bukan ide yang tepat, Kawan. Bagaimanapun, gadis itu saudari kembar Isabella."
"Isabella tidak tahu tentangnya."
"Bagaimana kalau suatu hari dia tahu? Latar belakang Isabella dan Katerine begitu buram, menyimpan misteri. Tak menutup kemungkinan suatu hari Isabella akan tahu yang sebenarnya, tentang saudarinya, termasuk siapa yang menghabisinya."
Dominic menghela napas panjang. "Aku benar-benar tak mau Isabella tahu tentang Katerine."
"Menurutku keduanya tak akan bertemu. Lingkup pergaulan mereka berbeda. Selama ini pun keduanya tidak tahu akan keberadaan satu sama lain, bukan?"
Dominic mengangguk mengiyakan, tapi kekhawatiran dalam hatinya tetap tak berkurang.
"Kau tidak bisa menyingkirkan semua orang yang menurutmu mengganggu, Kawan. Okelah kau melakukan itu dalam urusan bisnis, tapi percintaan? Itu sangat kekanakan."
"Karena kau tidak sedang jatuh cinta, tidak tahu bagaimana rasanya takut kehilangan." Dominic mendengkus.
"Ah ..., jadi kau mengakui kau sedang jatuh cinta?"
Dominic menatap Xavier terkejut.
Xavier menyeringai lebar. "Ah, masih mau menyangkal? Baiklah, tidak apa-apa. Meski sudah tidak sabar memiliki Buggati-mu itu, aku akan menunggu." Kemudian Xavier terbahak.
Alih-alih menyangkal dengan defensif seperti biasa, Dominic termenung. Pikirannya penuh pertanyaan, benarkah ia telah jatuh cinta pada Isabella?
***
"Jangan biarkan kisah kita berlalu, Bella. Kau dan aku saling mencintai, sudah sepantasnya kita bersama dan saling memiliki."
Isabella menuang gado-gado ke piring, lalu memandang Arvin dengan nelangsa. "Aku sudah punya kekasih, Ar."
"Dia bukan pria yang tepat untukmu, Bella. Kau tak mencintainya, bukan?" Isabella bergeming dan itu membuat Arvin merasa apa yang ia katakan benar. "Kau tak mencintainya. Akulah yang kau cinta, dari dulu sampai sekarang, Sayang." Arvin meraih kedua tangan Isabella yang seketika mendapat penolakan.