PART 46
Dominic mengendarai salah satu mobil mewahnya, yakni Maserati Granturismo MC Stradale V8 berwarna biru, dengan perasaan bergolak oleh amarah. Jalan raya masih ramai. Beberapa kali ia menekan bel dengan lama dan kuat.
Lucy adalah biang masalah, dan sang kakek yang masih saja tak puas dengan kekayaan dan kesuksesan bisnis mereka saat ini, membuat Dominic muak.
Dominic berkendara tanpa tujuan. Ia terkejut ketika mobilnya membelok ke kompleks perumahan Isabella.
Ia berhenti di jalan depan rumah gadis itu. Dominic melihat Jacky keluar dari rumah dengan sebuah ponsel lalu memotret. Ia pun membuka kaca jendela mobil.
Jacky terkejut melihat siapa di balik kemudi, kemudian mengangguk dan kembali ke dalam rumah.
Dominic menatap rumah Isabella untuk beberapa saat. Keinginan menemui gadis itu saat ini bergelora di dadanya, tapi teringat Daysi sedang berkunjung, Dominic menahan diri. Ia tak mau mengganggu pertemuan dua sahabat itu.
Setelah beberapa saat, Dominic menghubungi Xavier, lalu meninggalkan kompleks perumahan Isabella.
***
"Aku pikir aku harus melenyapkannya." Dominic memandang cairan kekuningan di dalam gelas kristal di tangannya, lalu menyesapnya sedikit. Emosinya saat ini sudah tenang.
Xavier yang sedang duduk di sofa seberang Dominic, menyesap wiski, langsung dari sloki. Keduanya saat ini berada di salah satu bar elite milik Xavier.
"Itu bukan solusi, Kawan," kata Xavier datar.
Dominic menatap sang sahabat. Rasa penasaran berpijar di iris gelapnya.
"Aku punya cara lebih manis untuk menyingkirkannya dari hidupmu." Xavier menyeringai licik.
"Apa?"
Alih-alih menjawab, Xavier berkata, "Gadis nakal seperti itu harus diberi pelajaran."
Dominic mengangguk-angguk kecil. "Aku sepenuhnya percaya padamu. Lakukan yang kau mau."
Seringai Xavier kian melebar.
Untuk sesaat keduanya terdiam dan menikmati minuman masing-masing.
Setelah cukup lama, Xavier berujar, "Omong-omong pria itu mantan kekasih Isabella."
"Pria itu?" alis Dominic terangkat. Ia menatap Xavier dengan bingung. Siapa yang Xavier maksud?
"Pria yang kau minta aku selidiki. Namanya Arvin. Dia mantan kekasih Isabella."
Genggaman Dominic di gelas menguat. Membayangkan ada pria yang pernah dekat dengan Isabella, bahkan gadis itu cintai, anehnya membuat Dominic merasa marah. Dadanya dengan cepat memanas. Napasnya pun seketika memburu. Apakah Isabella masih mencintai pria itu? "Aku harus segera menyingkirkannya," kata Dominic pelan tanpa sadar. Jika dibiarkan, ada risiko yang menunggu Dominic. Bisa saja keduanya kembali bersama. Dominic tak mau kehilangan Isabella.
"Kenapa?" Xavier menatap Dominic geli. "Kau takut dia merebut Isabella darimu?"
"Tentu saja!"
Xavier terkekeh. "Aku baru tahu sahabatku pengecut."
"Apa maksudmu?"
"Cobalah bersaing dengan adil. Bila akhirnya Isabella memilih pria itu, kau harus melepaskannya."
"Dan kau tak keberatan kehilangan kesempatan memiliki Bugatti-ku itu?"
Xavier tertawa dan memandang sahabatnya dengan sorot mengejek. "Kau mencoba memanas-manasiku agar mendukungmu menyingkirkan pria itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Over Possessive
RomanceCATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE: MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!! ________________________ Tiada angin, tiada hujan, ti...
