PART 48

1.3K 41 3
                                        

Part 48

Menjelang pukul delapan malam, Isabella dan Dominic selesai makan. Dominic membantu Isabella mencuci piring, yang seketika mendapat penolakan dari gadis itu.

"Aku saja, Dom. Duduklah di ruang tamu," kata Isabella sembari menghampiri Dominic yang sedang mencuci piring. Ia baru saja selesai mengelap meja makan. Dapur yang sempit itu terasa sesak dengan kehadiran Dominic.

"Ini bukan pekerjaan berat. Meski selalu ada pengurus rumah, sejak kecil mama membiasakan kami mandiri," cerita Dominic.

Isabella menatap sang kekasih dengan kagum. "Ibumu mendidik kalian dengan sangat baik."

Dominic hanya tersenyum samar, lalu melanjutkan kegiatannya.

Beberapa menit kemudian, Dominic dan Isabella sudah duduk-duduk di ruang tamu.

"Tentang liburan yang aku katakan kemarin, kau ingin berlibur ke mana?" Dominic memandang Isabella yang duduk di sampingnya.

Isabella meringis samar. "Sepertinya aku tidak bisa, Dom." Lalu Isabella menunjuk tiga kotak besar buku yang baru saja tiba dari Jakarta. "Ada buku baru masuk."

Dominic mengikuti arah yang Isabella tunjuk. "Tidak bisa ditunda hingga hari Senin? Besok Jumat, kita pergi sore, dan kembali Minggu malam."

Isabella menatap Dominic dengan perasaan bersalah. Ia menggeleng. "Ini novel terbaru dari penulis terkenal. Pembaca sudah menunggu. Aku harus segera mengemasnya lalu mengirimkan ke pembeli secepat mungkin. Tidak akan selesai dalam waktu sehari karena ada ratusan paket, belum lagi orderan dari penulis lain. Maaf."

"Aku akan membantu."

"Apa?" bibir Isabella ternganga.

"Aku akan membantumu. Kenapa? Ada yang salah?"

"Tapi ...."

"Kau hanya perlu mengajariku apa yang harus dilakukan."

Isabella menggeleng. "Itu bukan ide baik. Setelah makan malam kau harus pulang dan istirahat. Tentunya kau juga lelah setelah seharian bekerja."

"Saat bersamamu aku sama sekali tak merasa lelah."

Isabella menatap Dominic. Apa yang pria itu katakan terdengar gombal dan umum dikatakan oleh sebagian besar pria, tapi Isabella menangkap kejujuran dalam ucapan Dominic.

"Baiklah."

Jadilah malam itu Dominic membantu Isabella hingga pekerjaan gadis itu selesai separuhnya. Sisanya akan Isabella selesaikan sendiri keesokan harinya.

Dominic meninggalkan rumah Isabella menjelang pukul dua belas malam.

***

Cuaca pagi itu sangat cerah, matahari bersinar cemerlang, sementara nyaris tiada awan menghias mega-mega. Sesekali angin berembus sepoi-sepoi, berusaha menyejukkan pagi yang panas itu.

Di dalam sebuah rumah mungil di kompleks perumahan kelas menengah, seorang gadis cantik berpakaian sederhana, yakni celana panjang sebetis dan kaus oblong, tampak sibuk mengemas orderan dari toko online-nya ditemani musik instrumen yang mengalun lembut.

Bel yang berdering membuatnya menghentikan aktivitas, lalu berjalan keluar rumah untuk melihat siapa gerangan sang tamu.

Tiba di depan pintu pagar, Isabella terkejut melihat sosok tinggi nan gagah yang berdiri di sana.

"Arvin?" Isabella membuka pintu pagar.

Arvin tersenyum. "Pagi, Bella."

"Yah, pagi. Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi begini?"

Over PossessiveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang