PART 44

1.6K 57 3
                                        

Part 44

Usai mandi, Isabella duduk di ruang tamu yang juga merangkap ruang keluarga di rumah mungilnya. Matanya menatap ke layar televisi yang berhadapan dengan sofa. Tangannya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk.

Malam ini Dominic mengajaknya makan malam di luar. Tadinya Isabella menawarkan diri memasak dan mereka makan malam di rumahnya, tapi Dominic menolak dengan alasan tak ingin Isabella kelelahan mengingat gadis itu sudah bekerja seharian.

Perhatian sekecil itu saja, diam-diam membuat Isabella tersentuh. Ia mulai takut akan jatuh cinta pada Dominic. Seharusnya Isabella berlari menjauh. Alih-alih melakukan itu, ia justru mulai terjebak.

Bayangan kebaikan dan keramahan orangtua Dominic melintas di benak Isabella. Tak tampak ketidak-setujuan dalam sikap mereka, bukankah itu pertanda mereka merestui jalinan asmara sang putra dengan Isabella?

Isabella menghela napas panjang. Itu tidak bisa menjadi pegangan, pikirnya. Bisa saja sewaktu-waktu sikap mereka berubah, entah karena merasa Isabella tak pantas untuk Dominic, atau pun ada calon potensial lainnya.

Suasana hati Isabella seketika memburuk. Ia takut. Takut sejarah terulang. Haruskah ia mundur sekarang?

Pikiran Isabella melayang pada percakapannya dengan Arvin tadi siang.

"Jangan pedulikan mama. Dia tak akan berani lagi menentang hubungan kita."

"Arvin ...."

"Please, Bella. Kembali padaku. Aku sangat mencintaimu."

Meski tahun demi tahun telah berlalu, tapi tidak mudah untuk Isabella melupakan Arvin. Saat ini pun, meski perasaannya kepada pria itu tak lagi menggebu seperti dulu, tapi Isabella tak yakin cintanya telah benar-benar pupus. Kesempatan bersama Arvin kembali, kini terbentang besar. Pria itu meyakinkannya kalau ibunya tak akan berani mengganggu hubungan mereka lagi. Namun Isabella tak ingin dimusuhi oleh ibu Arvin yang pastinya terpaksa menerimanya. Jadi ia menggeleng.

"Kenapa? Kau tak mencintaku lagi, Bella? Kau mencintai pria gila yang over posesif itu?"

Isabella menghela napas panjang. Ia berdiri dan berjalan menjauh. "Pulanglah, Ar. Aku sudah memberimu jawaban."

Arvin berdiri dan mendekati Isabella. Kemudian meraih kedua tangan gadis itu. "Aku benar-benar mencintaimu, Bella. Dulu kau juga sangat mencintaiku. Karena ibuku, semuanya berantakan. Beri cinta kita kesempatan, Sayang. Aku mohon."

Isabella menatap Arvin. Melihat cinta dan ketulusan di pria itu, ia tergoda mengangguk dan mengatakan "Ya". Namun, bayangan Dominic yang tiba-tiba melintas di benaknya, anehnya membuat ia menggeleng. "Pulanglah, Ar. Lupakan aku. Ini yang terbaik. Kencanilah gadis yang pantas, yang akan disukai ibumu." Isabella melepaskan genggaman Arvin, tapi tak berhasil.

Arvin menatap mata Isabella dan menggeleng. "Aku tak peduli tentang gadis yang disukai ibuku. Itu tak penting. Yang terpenting bagiku adalah dirimu."

Isabella kembali menggeleng. Ia mencoba melepas genggaman Arvin meski berkali-kali pria itu menahannya. Akhirnya ia berhasil. "Pulanglah. Aku ingin istirahat."

Setelah mengatakan itu, Isabella meninggalkan Arvin. Ia masuk ke kamar, menutup pintu dan menguncinya, lalu bersandar di daun pintu.

Setetes kristal bening yang terasa hangat menetes membasahi pipinya. Isabella menahan isak dan menekan dadanya yang terasa sakit.

Ia tidak tahu sakit di dadanya ini karena cintanya untuk Arvin yang masih ada dalam hatinya, atau karena sedih melihat Arvin begitu menginginkannya padahal tidak direstui oleh ibunya.

Isabella tersadar dari lamunan panjang itu saat ponselnya berdering singkat. Ia menarik napas dalam-dalam karena dadanya terasa sesak.

Aku akan menjemputmu tiga puluh menit lagi.

Over PossessiveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang