CATATAN PENTING UNTUK MENDAPAT NOTIFIKASI UPDATE:
MASUKKAN CERITA INI KE DALAM PERPUSTAKAAN/ LIBRARY ANDA
FOLLOW AKUN WATTPAD EVATHINK
CERITA DILANJUTKAN DI WATTPAD SAMPAI TAMAT. SO STAY TUNE!!
________________________
Tiada angin, tiada hujan, ti...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
hai teman2, part berikutnya adalah part terakhir dari season 1 yah.
cerita ini sangat panjang, yakni 96.000 kata,
season 1 tamat di wattpad 64.000 kata (sampai dengan part 52), masih sisa 32.000 kata
untuk yang ingin membeli pdf season 1 dan 2 cerita ini, bisa chat aku di wa id evathink
Part 51
Malam semakin larut, tapi Dominic masih belum bisa memicingkan mata. Ia berdiri di balkon kamar dan memandang langit malam yang bertabur bintang, pertanda esok akan cerah.
Dominic menggoyang-goyang gelas anggur di tangan kanannya, lalu menyesap sedikit.
Percakapannya dengan Xavier siang tadi tak mau meninggalkan benaknya. Dominic masih terus bertanya-tanya benarkah ia telah jatuh cinta pada Isabella.
Sekeras apa pun Dominic mencoba, ia tak menemukan jawaban itu. Hatinya sudah lama membeku dikarenakan pengkhianatan. Dominic bahkan tak ingat lagi bagaimana rasanya jatuh cinta. Mungkin karena itulah ia tak bisa memberi nama rasa di hatinya saat ini.
Lalu bayangan Katerine dan Arvin silih berganti bermain di benak Dominic. Keduanya berpotensi memisahkan Isabella darinya dan ia tak mau itu terjadi. Meski tidak tahu apakah ia mencintai Isabella atau hanya sebatas suka yang akan memudar oleh waktu, tapi saat ini yang Dominic tahu, ia tak mau kehilangan gadis itu.
Dominic meneguk anggurnya dengan frustrasi. Solusinya adalah menyingkirkan keduanya, tapi itu terdengar berlebihan dan akan menjadi kebiasaan buruk jika ia melakukannya.
Atau menikahi Isabella.
Ide itu begitu saja melintasi benaknya. Dominic tercengang.
Menikah.
Mata Dominic seketika berbinar.
Ibarat peribahasa, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Menikah dengan Isabella, maka semua permasalahannya akan terselesaikan. Katerine, Arvin, dan Lucy tak akan bisa lagi mengganggunya. Tak akan ada lagi perseteruan dengan sang kakek.
Meski belum yakin sudah menyerahkan hatinya pada Isabella, tapi tak ada ruginya menikahi Isabella. Sebuah pernikahan tak melulu soal cinta. Banyak yang menikah karena cinta, tapi akhirnya bercerai. Banyak juga yang menikah bukan karena cinta yang menggebu-gebu, tapi karena rasa nyaman yang diberikan pasangan, akhirnya bisa menua bersama dan bahagia.
Dominic nyaman bersama Isabella. Dominic yakin ia akan bahagia apabila menikahi gadis itu. Mereka bisa bercinta dengan panas, memiliki banyak anak-anak dan hidup bahagia.
Dominic menyeringai lebar.
Itu dia.
Ia sudah menemukan solusi untuk masalahnya yang rumit.