Susan membawa kertas yang baru saja ia print tadi pagi ke dalam pelukannya. Jika di masukan ke dalam tas takutnya tertekuk. Jadi ia memutuskan membawanya saja.
Mata Susan menyipit saat melihat seseorang yang tampak tidak asing bersama cewek yang berbeda dari beberapa hari yang lalu.
Susan menggelengkan kepalanya gemas, cowok itu tidak berubah. Setahu Susan cewek yang ada di samping Verga adalah pacar dari Febrian, ketua eskul Jurnalis. Tidak habis pikir, kenapa Verga begitu susah-susah merebut pacar orang disaat banyak cewek yang melirik padanya. Verga itu ganteng, Susan akui itu. Tapi selalu saja sama, memiliki kekurangan yang begitu buruk. PHO, siapa coba cewek yang mau sama cowok yang tukang rusak hubungan orang. Hubungan orang saja di rusak apalagi hubungan sendiri.
Susan sedikit berlari menaiki tangga, bel akan berbunyi beberapa menit lagi. Segera ia mempercepat langkahnya.
"Ky, ini yang kemarin." Susan meletakan kertas yang sudah rapi ter-jilid itu ke atas meja Rizky. Cowok jakung itu mengangguk.
"Kayaknya gue kemarin minta Verga deh yang print." Rizky membaca sebentar hasil kerja mereka kemarin--walau ia yang mengerjakan.
"Dia suruh gue. Nggak pa-pa juga, gue kemarin nggak bantu lo. Itung-itung gue bantu lah, walau cuma print doang." Susan tersenyum.
Rizky mengangguk. "Itu juga nggak masalah kok."
Susan mengangguk lalu berjalan ke tempat duduknya yang sudah ada Sheva yang membaca novel yang lumayan tebal di tangannya.
"Hai, Va." Sheva menoleh dan balas tersenyum.
"Hai, juga." Balas Sheva. "Lo tau nggak kalo Verga katanya udah dapetin target baru."
Susan kembalikan badannya menghadap Sheva. "Target apa?"
Sheva berdecak. "Target buat merusak hubungan orang."
"Lah, terus apa hubungannya sama gue? Kalo dia mau rusak hubungan orang ya udah, biarin aja. Mungkin itu salah satu kesenangan baru dia, kenapa harus dilarang?" Susan nampak tidak peduli. Ia tentu sudah tau, tadi pagi ia sudah melihat gerak-gerik Verga jadi tidak mungkin ia tidak tau. Tapi pura-pura tidak tau saja.
"Eh, itu Verga." Sheva menunjuk pintu dengan dagunya.
Verga baru saja melambaikan tangannya pada seorang gadis yang Susan yakin adalah target selanjutnya Verga untuk di rusak hubungannya, setelahnya cowok itu masuk dengan wajah seandainya. Satu tangannya di masukan ke dalam saku celananya sedangkan yang satu lagi ia gunakan untuk mengacak rambutnya uang arah berantakan.
Susan melirik Verga bertepatan saat cowok itu juga melihatnya. Tiba-tiba sudut-sudut bibir cowok itu tertarik membuat senyuman kecil merekah di sana.
Susan yang ketahuan melihat segera mengalihkan pandangannya.
Kring!
"Temani gue ke ruang guru, tadi katanya ada Bu Eka manggil gue." Sheva memberi pembatas pada novel yang ia baca, segera ia merapikan tatanan rambutnya. Belakangan ini cewek itu memang sering memperhatikan penampilan, mungkin masa puber mempengaruhinya.
"Kalian ibu kasih tugas, kerjakan halaman 47 sama 48. Ada urusan mendadak, nggak bisa ditinggal." Itu kata Bu Eka saat Susan dan Sheva menemuinya di kantor.
Saat sampai di kelas Sheva segera mengambil spidol dan menulis besar-besar di papan jika ada tugas. Dan akan di kumpulkan. Ia yakin dengan begitu para anak cowok akan mencak-mencak mencari jawaban, entah dari internet atau menyontek.
Susan segera mengerjakan tugas yang diberikan, ia tidak ingin menunda. Walau sebenarnya tugas itu akan di kumpul minggu depan, pada pertemuan selanjutnya tapi ia tidak ingin mengukur waktu. Jika mengerjakan di rumah takut tidak sempat karena malas.
Sheva yang malas hanya mengerjakan tugasnya, yaitu membaca novel.
Verga yang tentunya tidak akan mengerjakan tugas yang di berikan, mau di kumpulkan detik itu juga atau tahun depan ia tidak akan mau mengerjakannya. Terlalu malas menggunakan otak dan tangannya. Matanya melirik Susan yang sedang serius mengerjakan soal, dengan iseng ia melempar kertas yang sudah ia renyukan hingga berbentuk bulat ke arah Susan. Gadis itu awalnya kaget, lalu tampak kesal. Sepertinya tidak ingin di ganggu.
Tapi yang kalau tidak iseng bukan Verga namanya. Tangannya menelusuri laci meja miliknya, mengumpulkan beberapa lembar kertas yang ada di dalam sana. Segera ia merenyuk kertas-kertas itu dan melempar satu ke Susan, tepat mengenai kepala gadis itu.
Dengan tatapan galak cewek itu menatap kelas, tapi tidak ada yang menimbulkan kecurigaan tentang keras yang terlempar ke arahnya.
Mendengus, Susan kembali fokus pada soal yang ada di bukunya.
Verga yang berpura-pura mengerjakan soal segera merenyuk kertas yang di sembunyikan di laci. Tapi saat ia hendak melempar kertas itu ke Susan, cewek itu berbalik padanya dengan tatapan super galak.
Matanya benar-benar memberikan tatapan permusuhan. Dengan tangan yang terkepal ia mengacungkan tangannya ke Verga.
Verga menghela nafas saat Susan tidak lagi melihatnya. Seram juga tatapan cewek itu jika marah ternyata.
Verga membalikkan badan ke belakang kelas, melihat jam yang sengaja berada di sana. Masih banyak waktu sebelum jam istirahat.
Susan menghela nafas saat tugas yang baru ia kerjakan selesai.
"Mau nyontek nggak?" Susan mengacungkan buku ke arah Sheva. Ketua kelas itu menggeleng. "Tumbenan." Susan meletakan kembali bukunya di atas meja.
"Gue mau berusaha dengan tenaga gue sendiri." Sheva sama sekali tidak menoleh ke Susan.
Susan terkekeh. "Lo kepentok apaan pagi? Mendadak berubah," kata Susan. "Nih, kalo udah nyerah. Gue dengan lapang dada kasih ke elo." Susan dengan iseng membuka bukunya tepat pada jawaban dari soal yang di berikan ke samping Sheva. Tapi tampaknya sang Ketua kelas sedang sangat tekun hingga tidak menghiraukan Susan.
Susan tersentak saat tangannya di tarik secara tiba-tiba membuatnya mau tidak mau berdiri.
"Gue ijin ke perpus." Verga berkata singkat ke Sheva. Tanpa mau tau apa jawaban Sheva segera ia menarik tangan Susan keluar.
"Verga lh! Nggak udah pake narik juga, sakit woy!" Seru Susan jengkel.
Tapi, cowok rambut messy itu sama sekali tidak peduli.
Mendengus, Susan hanya mengikuti Verga. Apa cowok itu sakit? Tapi Susan tidak yakin deh cowok itu bisa sakit.
Verga memang membawanya ke ruang kesehatan. Ruang kesehatan sepi, apalagi ini masih jam pelajaran.
"Ngapain sih?" Tanya Susan setelah Verga melepaskan tangannya.
"Temani gue, gabut tau di kelas." Cowok itu merebahkan badannya diatas kasur UKS.
"Eh, Verga. Kamu di sini juga, sakit ya?" Gadis yang Susan tau adalah target Verga masuk ke dalam UKS cewek itu memang bisa dikatakan cantik. Tapi sayang terlalu memakai banyak make up.
"Hai, Di." Sapa Verga, cowok itu berdiri.
Dien tersenyum. "Kamu sakit, hm?"
"Nggak, cuma gabut di kelas."
"Terus ini siapa?" Dien menoleh ke Susan. Susan hanya melayangkan tatapan tidak pedulinya.
"Teman gue. Tadi katanya sakit perut. Biasalah PMS." Susan melotot mendengar ucapan Verga, dengan tangannya yang bagai capit kepiting mencubit pinggang Verga kuat hingga cowok itu mengaduh kesakitan. Susan tidak peduli, perasaanya sudah kesal ia segera keluar dari UKS itu, tidak ingin menganggu acara Verga yang sedang merusak hubungan orang.
. . .
KAMU SEDANG MEMBACA
Versus
Novela Juvenil"Vergara Saketa Rigelo, anak paling nakal, tukang bolos, player, dan yang terpenting Raja PHO!" "Wow," Verga berdecak kagum. "Lo hapal semua kelakuan gue, ternyata diam-diam elo stalker semua yang gue lakuin." Versus ©2017 ...
