Tidak ingat, Susan lupa tepatnya kapan terakhir kali datang ke rumah Verga. Tapi yang berbeda dari rumah ini sekarang adalah orang yang tinggal di rumah tersebut.
Kata tetangga sebelah rumah Verga, Ibu Verga di pindah tugaskan sedangkan Verga di titip pada Ayahnya hingga lulus nanti, setelahnya terserah pada Verga akan melanjutkan dimana.
Susan meremas pelan ponsel yang ada di genggamannya, sekarang ia tau kenapa pesan dan telfon yang pernah Susan buat pada Verga tak pernah sampai, cowok itu mengganti nomor ponselnya.
Bisa kah lebih kejam lagi?
Masih segar di ingatan Susan, Verga akan mengajaknya jalan atau hanya sekedar ke taman di hari minggu. Tapi, itu dulu.
Susan melangkahkan kakinya menjauh dari depan gerbang rumah Verga, yang tidak lagi di tempati oleh Verga dan Ibunya.
Susan ingat, dia yang tidak sengaja menabrak seseorang yang ternyata adalah Verga di hari pertama sekolah. Dan ini sudah seminggu setelah kejadian itu.
Susan seakan menjadi baru, banyak yang mendekatinya terutama dari kalangan murid laki-laki. Bahkan dalam satu minggu ini, Susan sudah menolak tiga orang laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Tapi, walau begitu tidak satu pun yang dapat menggerakan hati Susan. Semua terasa, hambar. Rasa itu telah hilang.
Langkah Susan berhenti di taman, matanya menatap tempat yang pernah menjadi saksi salah satu tingkah manis Verga padanya, di malam yang dingin Verga menggenggam tangannya yang berada di dalam saku hoodie.
Susan tersenyum miris. "Cuma kenangan."
Sore itu, taman terlihat ramai. Banyak anak kecil yang bermain sepeda, ada juga para anak muda yang sedang bercanda.
Susan melangkahkan kakinya, berjalan menjauh dari taman. Ia tidak ingin pulang untuk sekarang ini.
Salahkah aku mencintainya
Menginginkan dirinya
Yang kini tak sendiri lagi
Sungguh perasaanku ini
Membodohi aku
Rasanya aku tak percaya
Saat ku jatuh cinta dengannya
Langkah Susan terhenti, tepat di depan sebuah kafe yang sedang Live Music. Lagu yang seakan menyentil hati Susan. Menoleh pada kafe yang sedang yang terlihat sepi, Susan berjalan ke salah satu meja yang berada di daerah out door, Susan mengambil tempat paling luar.
Tuhan tolong aku
Untuk melupakannya
Dia yang tak mungkin
Ada disampingku
Tuhan tolong aku
Hapuskan cintaku
Meski sepenuh hatiku untuknya
Air mata Susan jatuh, lagu itu seakan menggambarkan perasaanya sekarang. Sangat-sangat, persis dengan apa yang ia rasakan. Susan jatuh cinta pada Verga, tapi sayangnya Verga milik Lona.
Salahkah aku merindukannya
Menginginkan dirinya
Meskiku tak sempurna
Sungguh perasaanku ini
Tak dapat kudustai
Hatiku berkata
Ku mencintainya
Tangisan Susan semakin keras. Bahkan seorang waiter sampai menghampiri meja yang ia tempati dan bertanya. Tapi Susan hanya menutup wajahnya dan terus menangis, membiarkan orang-orang yang berada di kafe melihatnya.
Tuhan tolong aku
Untuk melupakannya
Dia yang tak mungkin
Ada disampingku
Tuhan tolong aku
Hapuskan cintaku
Meski sepenuh hatiku untuknya
Usapan pada kepalanya bukan membuat tangisan Susan mereda, malah semakin menjadi. Gadis itu terus menangis, menumpahkan semua yang tertahan selama ini.
Tuhan tolong aku
Untuk melupakannya
Dia yang tak mungkin
Ada disampingku
Tuhan tolong aku
Hapuskan cintaku
Meski sepenuh hatiku untuknya
KAMU SEDANG MEMBACA
Versus
Fiksyen Remaja"Vergara Saketa Rigelo, anak paling nakal, tukang bolos, player, dan yang terpenting Raja PHO!" "Wow," Verga berdecak kagum. "Lo hapal semua kelakuan gue, ternyata diam-diam elo stalker semua yang gue lakuin." Versus ©2017 ...
