Sudah hampir seminggu Bara di rawat, dan sudah hampir seminggu pula Susan dan Sheva berubah menjadi baby sister untuk Jafrel.
Seperti sekarang, Susan sedang menggendong Jafrel sambil menyuapi balita kecil itu. Untung saja Jafrel bukan anak bandel dan malah penurut walau masih kecil. Sepertinya sifat yang Jafrel dapat bukan sifat Bara.
"Udah bisa jadi ibu itu." Ibu Bara tertawa melihat Susan yang menggendong Jafrel di taman rumah sakit.
Susan ikut tertawa. "Masih SMA, Tante. Belum lah, masih lama."
Ibu Bara tersenyum. "Makasih loh. Berkat kalian semua hubungan Bara dengan Lona jadi baik." Sejak malam itu, memang hubungan Bara dan Lona semakin membaik, Lona selalu datang dan membantu semua keperluan Bara. Tentunya membuat cowok itu senang karena begitu di perhatikan oleh Ibu dari anaknya.
Bara juga begitu sayang pada Jafrel, bahkan kadang meminta Jafrel untuk tidur bersamanya. Kedua orang tua Bara juga sangat senang, bahkan meminta keduanya segera menikah dan memberikan keluarga utuh untuk Jafrel.
Kata Ayah Bara, mereka sudah bertemu dengan orang tua Lona untuk membicarakan soal pernikahan mereka. Awalnya orang tua dan keluarga Lona tidak peduli karena katanya Lona telah membuat malu keluarga mereka. Tapi setelah bertemu dengan Jafrel dan Bara keluarga Lona menyetujui. Bahkan beberapa waktu yang lalu menjenguk dan memberikan restu pada Bara dan Lona.
Dengan keadaan masih sakit, Bara melamar Lona dengan cincin yang telah lama ia beli, dulu ia ingin memberikan saat Lona lulus SMA dan mereka akan menikah dan hidup bahagia. Tetapi karena insiden malam itu, cincin bertahtahkan berlian itu hanya tersimpan, tanpa pernah di pakai atau di berikan. Lamaran yang tentu saja di terima oleh Lona.
"Itu karena mereka juga, Tan. Kalau mereka mau berubah semua pasti jadi lebih baik." Susan tersenyum. "Jafrel udah makannya?" Jafrel hanya mengoceh dengan bahasanya.
"Sini, biar sama Tante aja." Ibu Bara mengambil alih Jafrel, wanita itu terlihat sangat menyayangi Jafrel. Pasangan Nenek dan cucu itu masuk ke dalam area rumah sakit.
Susan menghela nafas pelan. Hanya ada satu masalah saja. Verga, masih tetap tidak ingin bertemu dengan Bara. Meski telah di bujuk berkali-kali. Bahkan masih perang dingin dengan Fajar.
Susan mengeluarkan ponselnya, menekan nomor seseorang.
"Lo di rumah, kan, Va?"
***
Tangan Susan meremas pelan tali tas selempang, dengan perlahan mengetuk pintu kamar dengan tulisan 'jangan di ganggu' itu.
Tidak ada jawaban, ataupun pintu yang terbuka untuk mempersilahkan masuk. Susan menoleh pada Sheva yang mengangkat bahu.
Susan tidak menyerah, kembali dia mengetuk pintu kamar itu. Kesal, hingga ketiga kali tidak di bukakan pintu, Susan nekat masuk. Meninggalkan Sheva yang tersenyum geli di luar.
Kamar itu terlihat gelap karena tidak adanya cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan. Kamar yang berantakan entah karena barang-barang yang berada di sembarang tempat, juga pakaian serta kertas yang bertebaran di lantai kamar.
Susan berjalan menuju jendela dan menyibak gorden yang menghalangi cahaya masuk. Susan lalu mulai merapikan kekacauan yang terjadi di ruangan besar itu.
Susan berhenti saat menemukan bungkus rokok pada tempat sampah. Lalu suara batuk yang berasal dari kamar mandi membuat Susan bergerak pada pintu kamar mandi.
Tangan Susan terulur membuka pintu itu, menemukan cowok yang sedang sibuk menyesap rokoknya di bathtub.
Dengan langkah besar, Susan menarik paksa pungung rokok di bibir cowok itu. Membuat cowok yang tadinya sibuk menghirup rokoknya menoleh kaget.
Susan menyalakan air di wastafel dan membuang puntung rokok yang masih menyala itu ke dalam air.
Matanya menatap tajam sosok yang hanya diam sambil menatapnya.
"Lo kira dengan merokok bisa selesaikan masalah? Masalah selesai dengan lo nyebat? Iya?"
Verga, bergeming. Bahkan mengalihkan pandangannya ke tempat lain, tidak ingin menatap mata Susan.
"Mana Verga yang dulu?" Susan mengepalkan kedua tangannya. "Mana Verga yang selalu kuat?"
"Lo ngapain di sini?" Suara Verga terdengar serak, wajahnya masih berpaling ke arah lain. "Pergi."
Susan tersenyum sinis. "Sebesar itu cinta lo ke Lona? Sampai lo nggak bisa bangkit dari kenyataan?" Susan menggeleng dengan tidak percaya. "Kenapa nggak sekalian bunuh diri aja? Kenapa cuma rokok doang? Kenapa nggak narkobaan sekalian lo."
"PERGI!" Verga berteriak, tidak peduli jika gadis di depannya pernah mengisi hatinya. "Pergi atau gue seret keluar."
"Gue pengen banget berkata kasar," ungkap Susan jujur. "Lo banci banget sih? Cuma karena cinta lo sampe segininya."
Verga bangkit dari tempatnya, seakan kehilangan akal cowok itu mencengram kerah baju Susan.
"Lo tau apa?" Tekan Verga tajam giginya bergemelutuk. "Lo tau apa? Lo nggak tau gimana sakitnya di tinggal orang yang paling gue sayang cuma buat orang dari masa lalunya!"
"Gue tau," Susan membalas tatapan penuh api amarah Verga. "Gue pernah rasa. Gue pernah di manfaatkan untuk jadi pelampiasan, terus gue di tinggal cuma buat masa lalunya, padahal perempuan dari masa lalunya itu nggak pernah anggap dia lebih dari sahabat. Terus setelah dia dapat karma, setelah dia rasa apa yang gue rasa, dia bilang kalo gue nggak tau rasanya. Menurut lo, lebih sakit mana?"
Tatapan mata Verga berubah, kobaran api itu menghilang. Tangannya melepaskan kerah baju Susan.
"Gue hancur, tapi gue nggak meratapi kayak lo. Gue maju terus," Susan tersenyum masam. "Mungkin yang gue dengar di perpustakaan itu cuma bisikan setan." Susan menatap ke tempat lain. "Harusnya gue nggak berharap."
Verga mengusap wajahnya frustasi. "Lo pergi deh. Gue lagi nggak bisa di ajak ngomong."
Susan hanya diam, tidak peduli pada usiran Verga.
"Berarti lo pilih Lona, kan?" Langkah Verga berhenti. "Cinta pertama memang nggak pernah mati, tapi cinta selanjutnya akan mati."
Susan mendekat, tangannya terulur memeluk Verga dari belakang. "Gue juga kangen sama lo. Tapi, gue takut. Seperti sekarang, lo nolak gue lagi. Ternyata kata Kak Arga benar, gue harus buka hati gue. Makasih, karena telah ajarkan gue cinta, walau sakit." Susan melepaskan pelukannya, gadis itu berbalik untuk mengusap air matanya.
Dengan langkah cepat Susan berjalan keluar dari kamar mandi, keluar dari kamar Verga. Bahkan tidak menghiraukan Sheva yang memanggilnya, Susan menaiki mobilnya dan melajukan benda itu dengan cepat.
Verga menatap kepergian mobil Susan dengan tatapan sendu. "Mungkin ini yang terbaik."
. . .
Lah lah lah, aku kesel sekali sama Verga - pake nada doraemon...
KAMU SEDANG MEMBACA
Versus
Подростковая литература"Vergara Saketa Rigelo, anak paling nakal, tukang bolos, player, dan yang terpenting Raja PHO!" "Wow," Verga berdecak kagum. "Lo hapal semua kelakuan gue, ternyata diam-diam elo stalker semua yang gue lakuin." Versus ©2017 ...
