Susan memilih Biologi sebagai pelajaran peminatan yang dia pilih, sama seperti Verga dan Sheva. Sedangkan Rizky lebih memilih pelajaran Fisika, biasalah orang otak encer menghitung.
Susan duduk di kursi yang ada di ruang lab biologi, meja panjang dengan kursi yang berjejer tiga yang bisa membuat para murid duduk bertiga dalam satu meja.
Susan dan Sheva memutuskan duduk di bagian agak belakang, sedangkan Verga tanpa permisi duduk di antara keduanya.
Sheva mendengus kesal. "Pengganggu."
Verga menatap Sheva dengan satu alis terangkat. "Kenapa? Gue cuma mau dekat sama yayang gue, sewot aja lo!"
Sheva mendelik.
"Kalian ribut tau nggak?" Susan yang berada di seberang mengeluh dengan wajah malas. Dua orang itu tidak pernah bisa akur. "Ini lagi, yayang-yayang pala lo peang!"
"Sayang kamu jahat." Verga berlagak dramatis.
Susan mendengus.
Tepat setelah Susan mendengus guru yang mengajar datang.
***
Susan tidak menyukai orang yang suka mengumbar janji dan tidak menepatinya. Sama seperti Verga yang kemarin malam berjanji padanya, dan sekarang sedang merayu yang jika tidak salah adalah pacar dari Bara. Dan cowok itu bagai tidak memiliki urat malu, dia bahkan sengaja duduk di samping cewek yang notabenya adalah Pacar dari Bara. Tanpa peduli pelototan dari Bara atau dua temannya dia begitu gencar mendekati cewek itu.
"Dasar Verga." Rizky hanya bisa geleng kepala melihat tingkah sahabat tidak warasnya itu. "Lo baikan sama dia, kan?"
Susan mengalihkan pandangannya dari Verga ke Rizky yang menunggu jawabnya.
Susan mengangguk. "Yap, dan dia janji sama gue. Tapi kurang dari 24 jam udah di langgar."
"Janji apa?" Sepertinya Sheva juga penasaran dengan janji yang di umbar Verga.
"Katanya dia nggak mau pacaran, tapi dia mau kita saling jaga perasaan. Lah, sekarang lihat apa yang terjadi." Susan mendengus kesal. "Emang dasar PHO nggak pernah tempati janji."
Rizky tertawa pelan. "Bener Verga bilang gitu?" Susan mengangguk. "Percaya sama gue dia serius sama lo."
Susan memutar bola matanya. "Bodo." Susan berdiri dan langsung keluar dari kawasan kantin. Hatinya panas. Jujur saja, Susan juga tidak terlalu yakin dengan apa yang dia rasa sekarang. Tapi dia tidak suka melihat Verga dekat dengan perempuan lain. Cemburu? Susan segera menggeleng. Masa iya?
Di toilet, Susan membasuh wajahnya, kepalanya terasa panas. Apalagi dadanya yang tegar terbakar. Setelah mengelap wajahnya yang basah Susan segera keluar dari toilet. Dan itu bersamaan dengan cewek yang sejak tadi membuat hati Susan panas masuk. Susan hanya memberikan senyum biasanya yang di balas dengan tatapan sinis. Tapi namanya Susan mana peduli.
"Marah?" Susan hampir saja menjatuhkan gelas minuman yang ia pegang sejak di toilet. "Atau... Cemburu?"
Susan mendengus. Tidak memperdulikan ucapan Verga.
"Hei." Verga menahan tangan cewek itu. "Waktu itu gue udah bilang sama lo, jangan ragukan itu, oke?"
Susan hanya menatap datar Verga. Saat suara pintu toilet terdengar Verga segera melepaskan tangan Susan.
Sudah tidak ingin terjadi masalah jadi dia dengan cepat pergi dari sana. Terserah apa yang mau di lakukan dua sejoli itu. Dia tidak peduli.
***
Hari ini Susan mendapat hari bebas, Verga sempat mengirimkan ia pesan yang berisi jika dia tidak bisa belajar bersama Susan hari ini. Dan Susan merasa sangat bahagia.
Sejak kejadian di toilet Susan benar-benar menjaga jarak dari Verga, dia masih kesal dengan cowok itu.
Karena tidak memiliki kerjaan Susan memutuskan untuk menyiram tanaman yang ada di depan rumahnya. Brian sedang les sedangkan Mamanya baru akan pulang jam 4.
Suara gerbang yang terbuka membuat Susan mengalihkan pandangannya ke pagar.
"Ngapain lo?" Susan tampak tidak suka dengan kehadiran cowok yang ada di depannya.
Verga tersenyum. Tangannya mengacak rambut Susan yang terurai.
"Ish!"
"Jangan ngambek, dong." Verga membantu Susan memperbaiki rambutnya. "Ikut gue, yuk!"
"Kemana?"
"Temani gue sparing di Taruna."
Susan menggeleng. "Nggak mau. Pergi aja lo sama calon pacar baru lo!"
Verga tertawa. "Cemburu bilang aja kali."
"G-gue nggak cemburu, kok." Susan mempertahankan agar wajahnya terlihat kesal. Walau rasanya wajahnya memanas karena ucapan Verga.
"Cemburu juga nggak pa-pa kok." Verga menarik selang yang sejak tadi masih di pegang Susan. "Gue udah izin sama Mama lo."
"Tapi gue nggak mau." Susan menggelengkan kepalanya.
"Harus mau." Verga berkeras.
"Gue ganti baju dulu." Tidak mungkin 'kan Susan menemani Verga dengan celana jins selutut dan kaos oblong yang terlihat kebesaran di badannya.
"Nggak usah." Verga menahan tangan Susan. Dia segera melepas jaket abu-abu yang ia pakai lalu memakaikanya ke Susan. Rambut Susan yang tadinya tergerai ia ikat, ketahuilah ini kali pertama Verga mengikat rambut seseorang selain Mamanya.
Susan membiarkan Verga melakukan apa yang dia inginkan. Ia hanya diam bagai patung saat Verga memakaikannya helm. Tepat setelah Verga memakaikannya helm Brian yang baru saja pulang dari les datang dengan motor besarnya.
"Gue pinjam Kakak lo. Pulang agak malam." Brian hanya mengacungkan jempolnya.
Verga naik ke atas motornya, setelahnya Susan ikut naik.
Sma Taruna, adalah sekolah yang selalu bekerja sama dengan Sma Sakti Bangsa. Dalam bidang pendidikan ataupun bidang ekstra kurikuler.
Susan segera turun dari motor Verga saat motor itu telah berhenti di parkiran.
Susan melepaskan helm yang ia kenakan. Verga memintanya untuk membawa helm dan tidak meletakkannya di motor. Katanya takut di curi.
"Ver tangkap!"
Bola oranye yang di lempar itu dengan cepat di tangkap Verga dengan satu tangan.
"Reflek yang bagus." Verga hanya tersenyum menanggapinya.
"Siapa nih? Cewek baru lagi?" Tanya orang itu lagi.
"Dari dulu gue nggak ganti kok." Verga merangkul Susan.
"Kayaknya kemarin lo baru aja punya cewek baru ini baru lagi." Timpal cowok yang ada di samping cowok sebelumnya.
"Enggak Kok, Put. Ini masih yang kemarin-kemarin cuma gue nggak pernah tunjukan aja." Putra hanya tersenyum.
"Kirain nggak ada yang punya. Mau daftar." Celetuk Alan.
Putra dan Alan adalah murid dari Sma Taruna dan sering bermain dengan Verga segera teman basketnya yang lain. Karena itu mereka dekat walau berbeda sekolah.
"Enak aja. Susah carinya tau." Verga terkekeh. Susan hanya diam saja tidak ingin ikut dalam pembicaraan tiga cowok itu.
"Gue Alan." Susan baru saja ingin membalas tangan Alan saat tangan Verga yang malah membalas uluran tangan Alan. "Si Verga,"
Putra tertawa. "Gue Putra,"
"Susan." Kali ini Verga tidak menghalangi tangan Putra. Sepertinya Verga tidak terlalu menyukai Alan, oleh katanya dia menghalangi saat dia ingin membalas tangan Alan.
"Ayo masuk," Putra menarik Alan yang tampak masih kesal karena Verga menghalanginya kenalan dengan Susan.
"Sini tangan lo." Susan menyodorkan tangannya ke Verga. Cowok itu sepertinya tau jika lengan jaketnya terlalu panjang hingga membuat tangan Susan tenggelam oleh jaket itu. "Bilang dong kalo kepanjangan." Verga masih mengambil tangan Susan yang satu lagi, lalu melipatnya sama seperti yang sebelumya sudah dia lipat.
"Ayo!"
. . .
KAMU SEDANG MEMBACA
Versus
Fiksi Remaja"Vergara Saketa Rigelo, anak paling nakal, tukang bolos, player, dan yang terpenting Raja PHO!" "Wow," Verga berdecak kagum. "Lo hapal semua kelakuan gue, ternyata diam-diam elo stalker semua yang gue lakuin." Versus ©2017 ...
