48. Masih Tak Dapat Memilih

7.2K 546 12
                                        

Sudah sebulan semenjak ungkapan perasaan Susan waktu itu. Dan semenjak hari itu, Susan menghindar, menjauh, seakan mereka memang tidak kenal.

Setiap Verga ingin bicara, pasti akan ada Brian. Seakan memang tidak ada cela untuk mendekat. Susan memblokade semua jalan untuk mendekat.

Selama sebulan juga Verga tidak bisa tidak memikirkan Susan, semua pikiran tanpa sadar tertuju pada Susan. Saat di kelas, tanpa sadar dia menuliskan nama Susan, saat makan dan tak sengaja menemukan kacang di dalam makanannya, ia akan langsung ingat pada Susan.

Verga frustasi.

Tepukan di bahunya membuat Verga menoleh. "Belakangan ini lo kayak orang linglung terus, tukang melamun. Gue nggak mau lo kesambet ya." Rizky duduk di samping Verga, taman terlihat sepi padahal bel istirahat baru berbunyi. "Kita di sini aja, guru-guru rapat dan kita bebas sampai pulang."

"Lama banget rapatnya." Verga menyandarkan punggungnya di pohon besar di belakang mereka.
"Katanya mau persiapan ulang tahun sekolah." Rizky mengacak pelan rambutnya yang telah memanjang. "Eh, itu Susan bukan sih?"

Pandangan Verga seketika tertuju pada seorang gadis yang sedang berjalan dengan tumpukan buku di dalam pelukannya. Berjalan masuk kedalam perpustakaan.

"Kesempatan tuh," Rizky beranjak. "Gue mau ke Sheva dulu." Rizky lalu berjalan pergi.

Verga perlahan berjalan, mengejar Susan yang telah masuk ke dalam perpustakaan.

Mengedarkan pandangannya, pandangannya berhenti pada seorang gadis yang tertidur dengan headphone putih menutupi kedua telinganya.

Perlahan Verga mendekat, ia pandangi dengan lekat. Rambut yang jatuh di dahi gadis itu, wajah gadis yang ia rindukan. Verga baru sadar jika rasa rindunya pada Susan bahkan lebih besar dari rasa rindu yang pernah ia rasakan pada Lona. Rindu pada Susan seakan menguras semua emosinya.

Tangan Verga tiba-tiba di tarik, begitu juga kerah bajunya yang di cengkeram kuat. "Ngapain lo?"

Verga menatap Brian dengan pandangan tidak terbaca, tangan Verga perlahan memegang tangan Brian meremas pelan kedua tangan Brian yang memegang kerah bajunya.

"Sekali ini, biarkan gue lihat dia. Gue capek lihat dia dari jauh, gue rindu setengah mati ke Kakak lo, dia bikin gue hampir gila karena dia menjauh. Please, biarkan gue dekat dengan dia kali ini aja." Verga menatap Brian sungguh-sungguh, ia tidak berbohong. Rasanya sesak setiap lihat Susan semakin hari, semakin jauh darinya. Brian terdiam, bahkan bisa melihat kesungguhan di mata Verga. Cengkeraman Brian pada kerah Verga melepas, perlahan terlepas.

Brian mengangguk pelan. "Sekali aja."

Verga tersenyum lebar, bagai mendapatkan sesuatu yang sangat membuat ia bahagia. "Makasih."

Verga menatap Susan yang terlihat pulas tidur dengan berbantal tangan yang di lipat di atas meja. Mata Verga menyendu melihat wajah polos gadis itu saat tertidur, tangannya perlahan menyingkirkan rambut yang menutupi mata Susan, membuat gadis itu sering terusik tapi tidak bangun. Verga tersenyum, mengusap rambut Susan perlahan.

"Gue rindu, elo. Banget." Verga mengusap rambut Susan sekali lagi sebelum bangkit dari kursi. Verga tersenyum ke arah Brian. "Makasih." Perlahan Verga berjalan keluar dari perpustakaan.

Dan tidak tau jika headphone yang di pakai Susan tidak mengeluarkan suara, serta gadis itu yang tidak tidur sama sekali.

***

Verga menatap langit yang oranye, cahaya matahari yang tenggelam membuat hawa di sekitar mulai terasa dingin.

Mengusap pelan lengannya yang hanya di balut kaos tipis, Verga membalikan badan.

"Hai," senyuman Lona membuat Verga ikut tersenyum. "Kamu melamun?" Lona berjalan mendekat dengan Jafrel gendongannya.

Jafrel mengangkat kedua tangannya, meminta Verga menggendong. Verga mengambil Jafrel, membuat anak kecil itu tertawa karena senang.

"Cuma capek aja." Verga mencium gemas pipi Jafrel membuat anak kecil itu tertawa karena kegelian. "Anak siapa sih? Lucu banget." Verga mencium sekali lagi pipi Jafrel gemas.

Lona terkekeh geli, tapi senyumannya menghilang. "Ver,"

Verga menoleh. "Hm?"

"Kamu beneran masih punya perasaan ke aku?" Verga yang tadinya kembali mencium pipi Jafrel gemas berhenti, menoleh pada Lona yang tampak tidak nyaman sambil memilin jarinya dengan kepala tertunduk. "Sheva selalu bilang kalo aku perusak hubungan kamu dengan orang lain. Emang bener, ya?"

Verga diam, bibirnya terasa kelu. Verga membuang muka ke arah lain. "Enggak kok."

Lona memegang ujung baju Verga. "Kamu tau sampai kapan pun aku nggak bakal bisa balas perasaan kamu."

Verga memejamkan matanya, berusaha agar bisa berdiri setelah mendengar ucapan Lona yang begitu menusuk pada hatinya.

"Perasaan aku nggak berubah dari dulu, Ver. Bahkan semakin tumbuh, walau kamu larang aku bagaimana pun. Dia tetap Ayah Jafrel, Ver. Dan aku sayang dia." Lona meremas ujung baju Verga. "Dia nggak akan pernah hilang."

Verga tersenyum masam. "Aku tau." Verga menatap mata Lona yang mulai berair. "Sekuat apapun aku tahan kamu, tetap saja kamu akan kembali ke dia."

"Seandainya aku bisa, aku bakal balas perasaan kamu. Tapi perasaan aku udah terlalu kuat." Lona menunduk, air matanya mengalir pelan. Rasanya sesak, walau berusaha seperti apapun tetap saja perasan Lona tak bisa berpaling dari Ayah biologis Jafrel yang selama ini selalu ia hindari karena Verga. Ia tak ingin menyakiti sahabatnya lagi.

Jafrel tiba-tiba menangis, balita kecil itu menangis keras membuat Verga panik. Sedangkan Lona dengan cepat mengambil Jafrel dari Verga dan berusaha menenangkan anaknya itu. Tetapi Jafrel terus menangis, tampak gelisah.

"Verga!" Verga menoleh pada Sheva yang terlihat terengah dengan ponsel di tangannya. "Bara kecelakaan."

Lona membeku, sedangkan Verga terdiam. Jafrel semakin menangis kuat.

"Keadaanya kritis." Sheva mengatakan itu masih dengan nafas tak beraturan. "Lona, Bara perlu lo sekarang." Mata Sheva menatap Lona dalam. "Biarin Bara ketemu anaknya."

Verga mengepalkan kedua tangannya, matanya terus menatap Lona yang tampak linglung.

"Ayo," Lona menatap tangan Verga yang menggenggam tangannya, cowok itu tidak melihat ke arahnya. Cowok itu menatap lurus ke depan. "Kita ke rumah sakit. Jafrel, perlu ketemu Ayahnya."

. . .

Sebelumya ada yang berhasil tegak Jafrel itu anak siapa?

VersusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang