22. Be Mine

9K 656 15
                                        

Susah bangun tepat pukul 4 pagi, tau kenapa? Itu semua karena Verga.

Semalam sebelum Susan memejamkan matanya, pesan dari Verga yang mengatakan akan menjemputnya membuat Susan yang tadinya hampir tertidur menjadi terbelak. Disinilah dia, mengoleskan selai kacang ke atas rotinya. Padahal masih jam enam kurang lima belas, tapi ia tidak boleh buang waktu. Jujur dia sedikit takut sekarang ke Verga, itu adalah kali pertama dia melihat sisi lain Verga dan sangat menyeramkan. Mungkin itu yang membuat orang-orang yang di rebut pacarannya oleh Verga tidak berani berkutik, karena Cowok itu menyeramkan. Bahkan Verga yang kemarin lebih menyeramkan dari waktu Verga bertanya tentang Bara yang sempat datang ke kelas menemuinya, seribu kali lebih menyeramkan.

Susan berpamitan pada Mamanya, setelah menutup pintu gerbang ia tersenyum lebar. Kakinya melangkah dengan riang, bahagia karena tidak bertemu Verga.

"Menghindar?" Susan membeku, jantungnya berdetak tidak karuan. Ia menggigit bibir bawahnya dengan takut.

Mampus, batinya menjerit.

"Lo kira gue nggak tau kalo lo sengaja bangun cepat-cepat terus berangkat lebih pagi, kenapa menghindar, hm?"

Susan sama sekali tidak berniat berbalik.

Verga tersenyum kecil melihat Susan yang tampaknya tidak ingin berbalik. Ia yang tadinya bersandar pada pohon mulai mendekat ke cewek yang rambutnya terurai itu.

"Lo takut sama gue?"

Susan melangkah mundur saat Verga tiba-tiba ada di depannya.

Mata Susan meliar dia terus-terus mengalihkan pandangannya ke tempat lain asal bukan ke mata Verga.

"Jawab, Susan." Verga menarik tangan Susan hingga cewek itu medekat padanya.

Susan berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Verga. "Lepas,"

"Gue nggak gigit, Susan." Verga mendengus geli. "Dengar lupain yang kemarin, anggap itu mimpi buruk lo."

Susan mengangguk, masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Verga. Ia menunduk tidak berani sama sekali menetap mata Verga. Terlalu menyeramkan.

"Hei, lihat gue." Pinta Verga. Tapi Susan tidak menurut. "Lihat.gue.Susan." tekan Verga dengan nada dingin. Yang langsung di turuti Susan, Verga bisa melihat jelas jika cewek itu ketakutan melihatnya.

Verga tersenyum kecil. "Gue nggak bakalan apa-apain elo, tenang aja." Susan masih menatap Verga dengan takut. "Gue belikan kacang, mau?"

Susan menggeleng. Pertama kalinya ia menolak kacang. Ia terlanjur takut.

"Gue nggak bakalan jahat kalo lo turuti apa kata gue." Verga mengusap rambut Susan dengan tangannya yang bebas. "Lo lagi sariawan makanya diam terus?"

Susan hanya diam.

"Susan," panggil Verga lembut sambil mengambil tangan Susan yang satu lagi. "Dengar, gue cuma akan keluarkan sisi gue yang kemarin kalau orang yang gue sayang diganggu, atau saat gue udah memendam benci sama orang itu."

"Lepas," Verga menghela nafas. Susan sepertinya benar-benar takut padanya.

Namun bukan melepaskan Verga semakin mendekat, satu sentakan di tariknya tangan Susan hingga Verga merengkuh gadis itu.

"Gue udah pernah bilang kalo lo itu penting bagi gue, dan gue nggak bakalan sakiti orang yang penting dalam hidup gue. Karena itu artinya gue dan itu diri sendiri." Verga mengusap rambut Susan.

Jantung Susan berdetak tidak karuan, ia tidak pernah menyangka Verga akan memeluknya. Dan... Pelukan Verga hangat. Susan perlahan membalas pelukan Verga, walau tangannya gemetar.

Verga tersenyum kecil. "Makasih, boneka Susan kesayanganku."

***

Karena kejadian tadi pagi, Susan terpaksa berangkat bersama Verga. Parahnya, saat dia dan Verga sampai di parkiran, mobil Dien yang notabenya sekarang pacar Verga ikut parkir di sana.

Yang Susan takutkan hanya satu. Ia di bully lagi karena dekat-dekat Verga saat cowok itu sudah punya pacar. Apalagi jika Dien melihat kejadian tadi pagi. Bisa-bisa Susan jadi bumbu kacang dibuatnya.

"Gue ke kelas duluan." Susan segera berlari masuk ke koridor.

"Kamu kok dekat-dekat sama dia?" Dien terlihat tidak suka akan kedekatan Verga dan Susan.

"Tadi aku nggak sengaja ketemu, dia teman kelas aku, tetangga lagi. Masa aku biarin cewek jalan sendiri, nanti di bilang nggak gentle lagi." Verga menarik tangan Dien agar ia genggam. "Kamu udah putus dari Febrian?"

Dien mengangguk membuat Verga tersenyum. "Oke, kita masuk yuk,"

Verga berjalan sambil merangkul Dien. Banyak yang berhenti atau sekedar melirik ke keduanya. Tapi mana mereka perduli. Apalagi Dien yang tampak begitu senang menempel pada lengan Verga.

"Aku ke kelas dulu." Dien tersenyum manis sebelum berjalan menaiki tangga meninju lantai tiga. Verga melambaikan tangannya.

"Gila lo pacar Febrian juga elo embat." Rizky memukul bahu Verga. "Lo nggak kasian sama mereka? Orang yang mereka sayang lo ambil terus."

Verga menggeleng. Ia melipat tangannya di dada. "Enggak. Dan nggak bakalan pernah kasian. Enggak cocok mereka dikasihani."

"Awas loh kalo mereka balas dendam, bisa hilang tuh." Rizky melirik Susan yang sedang bercanda ria dengan Sheva. "Bahaya."

Verga berdecak. "Tenang aja. Nggak bakalan gue biarin." Rizky memang tau perihal Verga dan Susan. Dan cowok jakung itu setuju-setuju saja.

Verga dan Rizky serempak mendelik saat tiga orang cowok tiba-tiba masuk, apalagi mengarah ke meja Susan.

Awalnya Susan terlihat bingung, tapi setelahnya dia mengangguk dan ikut berdiri. Yang membuat Verga semakin ingin memukuli wajah tiga orang itu karena Fajar dengan sengaja menarik tangan Susan keluar kelas. Dan itu semua membangkitkan sesuatu dari diri Verga.

Rizky bersiul. "Baru gue bilang, eh udah kejadian aja."

Verga berdiri segera menyusul Susan.

Rizky hanya melihat saja, ia juga tidak tertarik ikut campur dalam urusan Verga. Biarkan saja temannya itu menyelesaikannya sendiri.

"Verga kenapa?" Sheva tiba-tiba duduk di samping Rizky, membuat cowok yang tadinya melamun menoleh.

Rizky mengendikan bahunya. "Biasalah, Verga paling nggak suka apa yang dia sudah klaim miliknya di ganggu orang."

"Jadi Verga suka gitu sama Susan?"

Rizky mengangguk beberapa kali. "Bisa di bilang gitu. Tapi ini lebih kepemilikan. Lo tau 'kan kalo cowok satu kali dapat yang cowok yang pas, jangan pernah coba-coba ganggu. Bisa masalah nanti."

"Jadi Verga udah buat Susan jadi semacam miliknya gitu?" Sheva merasa agak geli mengucapkan kata miliknya pada kalimatnya. Rasanya aneh mengklaim sahabatnya sendiri jadi milik orang.

"Yap."

Susan manggut-manggut. "Kalo lo nggak ada yang lo klaim milik lo?"

Rizky tertawa geli. "Maunya sih bilang ada. Tapi takut lo cemburu."

"Ish! Apaan sih?" Sheva mendelik.

"Pastinya ada." Rizky tersenyum.

"Oh," balas Sheva dengan agak kecewa ternyata Rizky sudah mendapatkan apa yang dicarinya. Siapa juga sih yang nggak mau dengan Rizky. Ganteng gitu. Sayang bukan jodoh Sheva.

"Coba sini tangan lo." Rizky menengadahkan tangannya ke Sheva.

"Buat apa?" Alis Sheva tertaut.

"Gue mau tunjukan sesuatu." Perlahan Sheva meletakan tangannya di atas tangan Rizky. "Mulai sekarang lo punya gue. You're mine."

. . .

Typo, belum edit.

VersusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang