JANGAN LUPA VOTE DAN COMMENT.😙
○○○
Selamat tinggal, sayang. Aku akan selalu mencintai dan merindukan kamu disetiap hariku.
Bastian mulai berjalan menuju pintu. Langkahnya terasa begitu berat untuk meninggalkan ruangan penuh tangis ini. Tangannya hendak meraih gagang pintu. Tetapi..
Bip bip bip
"Dokter! Pasien sadar!"
Cowok itu langsung berbalik dengan wajah penuh keterkejutan. Mereka semua pun sama. Sama-sama terkejut atas apa yang diucapkan oleh suster itu barusan.
Bastian langsung berlari ke sisi ranjang. Cowok itu memandang Nathalie. Dada cewek itu masih bergerak naik turun walaupun pelan. Bastian menggamit tangan Nathalie dan mengecup punggung tangannya. Ia bisa merasakan jari itu bergerak secara perlahan.
"Nat? Bangun, sayang." Ujarnya di telinga Nathalie.
Perlahan, kelopak mata itu terbuka, menunjukkan mata amber yang selama ini selalu tertutup. Mereka semua tak bisa menahan rasa bahagianya kala mata itu berhasil terbuka sepenuhnya, termasuk Bastian.
"Syukurlah." Zio langsung mengenakan stetoskopnya dan memeriksa denyut jantung cewek itu, kemudian mengambil sebuah senter kecil dan mengarahkannya pada mata Nathalie. Cowok itu tersenyum kemudian beralih pada Devano dan Talita. "Terimakasih, om, tante. Kalian telah melahirkan anak yang begitu kuat."
Talita memeluk Devano dan menangis bahagia disana. Devano pun begitu. Ia mengusap bahu istrinya sembari terus memandang Nathalie yang masih terus memandangi segala arah.
"Terimakasih, nak." Ujar Devano pada Zio.
Bastian tersenyum sembari mengusap puncak kepala Nathalie. Cowok itu mendekatkan bibirnya pada telinga Nathalie kemudian berbisik, "I know you can. Thanks for coming back."
Entah bagaimana ceritanya, mata Nathalie yang tadinya seperti sedang mencari kini berhasil menatap manik mata abu milik Bastian.
"Hei."
Bola mata Nathalie berair. Sungguh. Ia tak menyangka dirinya masih diberi kesempatan hidup dan melihat wajah kekasih yang begitu ia sayangi. Nathalie rindu. Rindu pada sosok ini. Selama ia koma, dirinya hanya bisa mendengar suara Bastian yang terus memintanya untuk bangun. Sekarang justru ia bisa melihat sosoknya secara langsung disini. Mendengar suaranya yang selama ini selalu menggema di telinganya, dan merasakan perasaan rindu yang semakin nyata.
Ingin rasanya ia bangkit lalu memeluk tubuh cowok itu. Mengucapkan kata rindu dan maaf berkali-kali. Kata rindu untuk mewakili perasaannya, dan kata maaf karena telah membuat cowok itu menunggu cukup lama. Sayang. Tubuhnya terasa begitu kaku untuk bergerak.
"Kenapa nangis?" Ujar Bastian ketika melihat air mata itu menetes dari sudut mata Nathalie.
"Jangan nangis. Aku disini." Bastian tersenyum sembari mengusap air mata cewek itu. Namun bukannya mereda, air mata yang lain malah menyusul untuk jatuh membuat Bastian memandang Nathalie bingung.
"Kenapa? Ada yang sakit?"
Sebisa mungkin Nathalie berusaha untuk menggerakkan kepala bermaksud untuk menjawab tidak atas pertanyaan Bastian. Sayangnya, hanya gerakan kecil yang bisa tubuhnya lakukan sekarang.
"Nat," bola mata Nathalie beralih menatap Zio. "Jangan paksa bergerak dulu. Kamu masih lemah."
Pandangan Nathalie beralih pada kedua orangtuanya. Devano terlihat menatapnya dengan sorot seperti memancarkan kebahagian dan penyesalan.
"Pa-pa."
Bisikan itu berhasil membuat Bastian yang berada di sampingnya terkejut. Ia bisa mendengar dengan jelas bisikan itu. Bisikan yang begitu pelan sehingga hanya ia yang bisa mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Piece of Heart [Why?]
Novela JuvenilCOMPLETED! [Teenager stories only (15+)] ☡Be a smart readers. ○○○ Pernahkah kalian merasa bahwa kehidupan yang Tuhan berikan itu sangatlah sempurna? Pernahkah kalian merasa bahwa Tuhan begitu mencintai hamba-Nya? Pernahkah kalian merasa kehidupan ya...
![Piece of Heart [Why?]](https://img.wattpad.com/cover/128462631-64-k729929.jpg)