Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

15. Tenang

463 40 0
                                        

/te·nang/ 
1. kelihatan diam tidak bergerak-gerak atau tidak berombak (tentang air, laut);
2. diam tidak berubah-ubah (diam tidak bergerak-gerak);
3. tidak gelisah; tidak rusuh; tidak kacau; tidak ribut; aman dan tenteram (tentang perasaan hati, keadaan)

***

In the best conversations, you don't even remember what you talked about, only how it felt. It felt like we were in some place your body can't visit, some place with no ceiling and no walls and no floor and no instruments.

― John Green   

***

Malam harinya, Fira dan Dimas sepakat untuk bertemu.

Keduanya duduk di meja angkringan kosong. Tak ada yang membuka pembicaraan ketika Fira dan Dimas memilih menu makanan. Setelah seluruh menu dipesan, keduanya bertatapan. Sunyi tetap menguar hingga minuman pesanan diantar.

"Terima kasih," ujar Dimas pada pramusaji.

Keduanya bersitatap.

Fira menghela napas. Ia tak tahu topik pembuka untuk pertemuan mereka kali itu. Adel jelas mengusik hidupnya. Adel jelas mengganggu Dimas, walaupun Fira tak merasa bahwa Dimas merasa terganggu pada rekannya itu. Bahkan, Fira terperanjat kala Dimas mengusir Adel dari kelas. Mengapa Dimas, yang bahagia saja dengan keberadaan Adel, malah mengusirnya?

"Apa yang hendak kaukatakan?" tanya Dimas.

Fira balik bertanya, "Bukannya Kak Dimas juga mau bicara dengan saya, ya?"

Dimas mengernyit.

"Mengapa saya yang harus membuka pembicaraan?" sindir Dimas.

"Karena saya tak tahu hendak memulai dari mana," jawab Fira.

Jawaban Fira membuat Dimas mengunci mata gadis itu dalam-dalam. Tatap itu berbalas. Yang membuat Dimas heran adalah Fira tegas menatapnya balik, padahal gadis itu selalu benci mengangkat muka.

"Baiklah." Dimas menarik napas. "Sejak kapan Adel mengganggumu?"

Netra Fira membulat. Ia menduga Dimas akan bertanya tentang gangguan Adel, namun ia tak menyangka Dimas akan langsung menghajarnya dengan pertanyaan langsung.

"Sejak—entah?" gumam Fira.

"Tak bisakah kau mengingatnya?"

"Saya tak ingat tepatnya," aku Fira. "Seingat saya, gangguan pertama Adel adalah ketika kertas jawaban saya disiram dengan sesuatu.Saya tak ingat."

Dimas tak langsung menanggapi. Otaknya sayup-sayup mengingat Bu Irma yang kesal seharian karena alasan sepele mahasiswa. Apakah ia marah karena Fira hari itu?

"Sepertinya saya tahu, tapi saya tak ingat."

Senyap.

"Sungguh, nama Adel sudah begitu buruk kali ini." Dimas terkekeh. "Saya bahkan heran ketika Bu Irma bercerita keras tentang Adel, padahal ia tak pernah berpihak pada mahasiswa sebelumnya. Pak Firman juga tak suka jika dosen lain membicarakan mahasiswa dengan nada semarah itu, namun ia memilih bungkam."

Fira tak menjawab. Ia memandang gelas es tehnya.

"Tak ada lagi yang perlu kau khawatirkan. Bu Irma tak marah, Pak Firman mengerti posisimu, dan saya mengusir Adel dari kelas. Setidaknya, kau tak perlu duduk di pojok depan karena perlu menjaga jarak dari yang lain."

Fira, yang tengah meneguk teh, tersedak. Ia susah payah menahan batuknya. Setelah napasnya kembali normal, ia melontarkan tanya, "Kak Dimas sadar?"

[1/3] PrasamayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang