Merelakan orang yang dicintai bukanlah hal mudah, Joy menatap aliran sungai yang deras dan tubuh dibahasi dengan air hujan yang deras. Rasa dingin tidak dirasakan rasanya serba salah, kenapa takdir begitu menyakitkan bagi dirinya.
Derasnya air sungai membuat dirinya ingin bunuh diri dan melompat, tapi pikirannya bertentangan. Kenapa dia harus bunuh diri karena cinta. Bukankah dirinya harus membuktikan kepada orang tuanya, dia bisa bahagia meski bersama atau tidak bersama dengan Sehun.
Joy menghapus air matanya kasar, benar dirinya harus membuktikan kalau dia bisa bahagia atau setidaknya terlihat bahagia.
.
.
Joy memasuki rumahnya dalam keadaan basah kuyup, terlihat diruang tengah keluarga berkumpul merayakan pesta kecil-kecilan untuk Irene yang sudah sadar melewati masa kritisnya, terlihat semua orang bergembira dan tersenyum.
Dalam sudut hati Joy merasa iri, ini memang bukan pertama kalinya mereka mengadakan pesta untuk Irene. Tidak peduli seberapa keras dirinya berusaha tapi tetap Irene yang selalu dibanggakan.
Joy berjalan melewati mereka tapi tidak ada yang peduli dengan dirinya termasuk Sehun, Irene hendak memanggil Joy tapi diurungkan. Dirinya tahu egois tapi dirinya sungguh mencintai Sehun.
Maafkan aku, andai kamu diposisiku pasti kamu berbuat sama batin Irene
Joy mengunci kamarnya, merebahkan dirinya dikasur tanpa menganti baju, air mata menetes kembali. Rasanya benar-benar sesak sekali, Joy menepuk-nepuk dadanya agar rasa sesak itu hilang tapi mendengat tawa mereka seperti nyanyian kematian bagi dirinya.
Bukankah mereka berdua saudara kandung, tapi kenapa Irene yang dianak emaskan? Apa karena Irene itu sedang sakit? Kenapa Irene tidak mati saja sekalian, biar kalian merasakan sakit yang Joy rasakan selama ini.
Apakah jika dirinya meninggal mereka baru menyadari kehadiran dirinya, atau malah bersorak sorai mengadakan pesta karena bahagia atas hilangnya dirinya dari muka bumi ini.
.
.
Makin hari kondisi Irene makin baik, wajahnya kini semakin cerah. Irene bersyukur seakali dengan hal tersebut. Memiliki keluarga dan suami yang mendukungnya menemani disaat dirinya kesakitan.
Irene berjalan kekamar adiknya ingin mengucapkan terimakasih karena telah merelakan Sehun untuknya.
Tok
Tok
Irene membuka kamar Joy, Joy yang mendengar derit pintu kamarnya langsung melempar suntikan di tangannya ke bawah tempat tidur.
"Joy kamu sudah tidur?" suara lembut Irene memanggil Joy, Joy tersenyum fake melihat kakaknya masuk kamarnya.
"belum kak" ucap Joy menepuk-nepuk kasurnya agar kakaknya duduk, Irene melangkahkan kakinya lalu duduk disamping adiknya.
Irene tersenyum dan memeluk Joy, seakan luka lama yang diberi garam. Membuat Joy mengepalkan tangannya.
"maafkan kakak merebut Sehun dan terimakasih telah merelakan dia untukku" ucap Irene tulus
"aku tidak apa-apa kok kak, aku juga bersyukur kakak dalam keadaan baik-baik saja" ucap Joy
"terimakasih adikku" ucap Irene menteskan matanya dirinya bersyukur mempunyai adik yang berjiwa besar seperti Joy dan berharap kalau Joy mendapatkan kebahagiaan seperti namanya Joy.
"aku selalu berdoa untukmu, semoga kamu mendapatkan yang lebih baik dan selalu bahagia" ucap Irene dengan senyum lembutnya dan penuh ketulusan menatap adik satu-satunya. Pasti sangat sulit merelakan orang yang dicintainya.
