Rain ☔ 13

1.7K 94 2
                                        

Aku diam, tak berarti lampu hidupku padam. Jiwaku bahkan tak mati, hanya sekadar istirahat sebentar. Biarkan aku, biarkan saja aku hidup dengan dunia yang membuatku senang. Biarkan aku, biarkan saja aku hidup dengan dimensi yang kuciptakan sendiri. Jangan ikut campur, biar saja ini jadi urusanku.

—Pluviophille

***

Akhir-akhir ini Mentari merasa sangat terganggu dengan kehadiran orang-orang baru di hidupnya. Belum selesai Pandu mengganggu, kini Bara ikut-ikutan. Jangan tanya soal Helmi, dia sudah lebih dulu mengganggu Mentari sejak semester awal. Mentari hanya butuh ketenangan tanpa adanya campur tangan orang lain dalam hal-hal yang baginya menyenangkan. Mentari memang tidak suka keramaian, dia juga tidak akan dengan mudah menerima orang baru. Mentari sulit percaya pada orang lain. Entahlah, Mentari merasa dia pernah dikecewakan orang-orang di sekitarnya.

Untuk saat ini Mentari hanya ingin membatasi dirinya, tidak ingin dikecewakan untuk ke sekian kali. Cukup Mentari dengan lukanya yang belum juga sembuh, jangan disentuh apalagi ditambah lukanya.

Langkah kaki Mentari cepat-cepat menuju kelas. Setelah Bara tahu bahwa dia berbohong, Mentari benar-benar tidak nyaman karena merasa bahwa Bara sudah jauh mengusiknya. Mentari rasa ini sudah kelewatan atau mungkin Mentari yang terlalu berlebihan mengambil sikap.

Langkah Mentari mundur ketika mendapati Helmi di depan pintu menatapnya. Helmi memicingkan matanya seolah-olah Mentari adalah target yang tak boleh lepas.

"Tar, kamu sebenarnya nggak alergi kacang, kan? Aku denger kamu ngobrol sama Bara di pinggir lapangan." ucap Helmi lesu, dia menatap Mentari lagi. "Tari, kamu 'kan tahu aku suka sama Bara. Kamu juga pasti tahu kalau aku nggak suka kamu dekat sama dia. Kamu itu temanku, Tari."

"Maksudnya kamu ini lagi ngelabrak aku, Hel?"

Helmi mengangguk membuat Mentari menghela napasnya. "Iya, aku ngelabrak kamu. Jangan dekat-dekat Bara, ya, Tar. Kamu itu temanku."

"Teman?"

Helmi mengangguk lagi. Selama mengenal dan berbicara dengan Helmi, dia salah satu orang yang selalu jujur dan berkata tanpa basa-basi. Kalau memang Helmi menyukainya atau pun tidak, dia akan mengatakan yang sejujurnya. Satu hal yang Mentari tahu bahwa selama mengenal Helmi, dia belum pernah berbohong padanya.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Mentari masuk ke kelas diikuti Helmi di belakangnya. Helmi merogoh sesuatu di dalam laci meja dan memberikan sebuah sketchbook besar kepada Mentari.

"Apa?"

"Tadi ada Pandu ke sini cari kamu, terus karena kamu nggak ada, jadinya dia nitip ini buat kamu."

"Sketchbook?"

Mentari menerima sketchbook itu dengan penuh rasa heran. Dia tidak tahu alasan Pandu memberikan sketchbook kepadanya.

"Kamu terima tawaran Pandu, kan buat bantuin dia gambar sketsa acara sekolah?" tanya Helmi memastikan. Mentari menggeleng membuat Helmi kembali berbicara. "Lho, kok nggak?"

Mentari dengan tenang dan santai menjawab pertanyaan Helmi. "Ya, karena saya nggak mau." Lalu pandangannya tertuju kembali pada sketchbook dari Pandu. Mentari jadi bertanya-tanya tujuan Pandu apa memberinya sketchbook?

***

RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang