Dia Mentari. Kehidupannya yang tak lepas dari sketchbook dan menggambar. Mentari suka hujan. Katanya, dia bisa ikut menangis tanpa ketahuan oleh orang lain.
Di sekolah, Mentari tak punya banyak teman. Dia sudah biasa sendiri. Mentari tak suka teman...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hidupku adalah aku. Dan, hidupmu adalah kamu. Sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Aku, kamu, bukan kita. Jangan coba-coba melewati benteng milikku. Kecuali jika semesta kasih kejutan dan berkata lain, berarti aku yang salah menebak.
—Rain
***
"Aduh!"
Pandu meringis ketika seseorang menabraknya dari belakang. Pandu menoleh dan mendapati seorang perempuan yang akhir-akhir ini menantang dirinya. Mentari mempercepat langkahnya bahkan tak mengucapkan apa-apa setelah menabrak Pandu.
"Kenapa?" tanya salah satu anggota OSIS yang menyadari ringisan Pandu.
Pandu menggeleng, dia memberikan dua map berwarna hijau dan kuning kepada anggotanya itu. "Kamu bisa atasi semuanya sebagai ketua pelaksana, kan?"
Anggota OSIS bernama Piyan itu mengangguk paham. Piyan pamit untuk masuk ke ruang OSIS menemui rekan-rekannya yang lain untuk menyelesaikan rapat acara pekan olahraga yang akan dilaksanakan dua minggu mendatang.
Entah sengaja menabrak atau tidak, Pandu tidak tahu apa yang terjadi dengan Mentari. Namun, langkah kaki perempuan itu menandakan bahwa dia sedang kesal. Mentari sedang ingin sendirian. Ah, Mentari memang senang sendiri, sepi dari keramaian agar dia bisa berbicara pada hatinya sendiri. Memberikan ruang untuk dirinya dari segala kerumitan hidup yang dia jalani.
Suasana hati Mentari sedang tidak baik. Mendung, seperti cuaca di langit hari ini. Mungkin sebentar lagi akan hujan. Mungkin, belum berarti benar. Perasaan Mentari tidak senang, dia merasa buruk hari ini. Mentari tidak tahu mengapa akhir-akhir ini emosinya jadi tidak stabil.
Helaan napas keluar dari mulut Mentari. Matanya tak lepas dari sketchbook di hadapannya yang berhasil membuat suasana hatinya buruk. Mentari menyimpan pensil di atas sketchbook, gara-gara Bara dia jadi tidak ingin lagi melanjutkan gambar rumah pohonnya. Mentari tidak suka jika kesenangannya harus diganggu oleh orang lain. Baginya Bara tidak lebih dari orang asing yang baru saja dia temui kemarin.
"Sketchbook nggak menarik lagi untuk digambar sampai dilihatin terus?"
Suara seseorang membuat Mentari terkejut. Mentari mendongak mendapati Pandu yang kini ikut duduk di depannya. Entah dari mana lelaki itu asalnya tiba-tiba saja sudah ada di hadapan Mentari. Lagi dan lagi Mentari harus melihat Pandu. Orang yang ingin Mentari hindari.
Mentari diam, tidak membalas perkataan Pandu. Dia melihat sekeliling, hanya ada beberapa murid yang sedang membaca dan mencari buku. Perpustakaan seolah menjadi tempat pelarian Mentari. Tempat Mentari menenangkan diri dari hal-hal yang mengusiknya di sekolah. Selain karena jarang dilalui orang-orang, Mentari juga suka melihat banyak buku. Rasanya Mentari seperti ditarik oleh dimensi lain yang dia sendiri tidak paham isinya.
"Saya itu jadi penasaran sama kamu. Kamu satu-satunya orang aneh yang baru saya temui di bumi." Pandu bersuara lagi. "Kalau orang-orang akan senang jika karyanya diapresiasi, justru kamu menolak mentah-mentah. Ada yang salah dengan karya kamu?"
Pandu selalu berhasil memancing Mentari untuk menjawab perkataannya. Pandu selalu tahu cara membuat Mentari bergerak dari posisinya saat ini. Pandu hanya orang baru di hidup Mentari yang bahkan perannya hanya sebagai angin lalu; tidak berarti apa-apa.
"Bisa nggak untuk jangan ikut campur urusan saya?"
"Kamu nggak dengar saya bilang apa tadi? Saya penasaran sama perempuan aneh seperti kamu."
"Bisa kamu pergi?" Mentari masih berkata baik-baik. Berbicara dengan Pandu membuat dia harus lebih banyak mengalah daripada banyak berdebat yang pada akhirnya hanya berujung pada waktu sia-sia saja.
"Saya selalu senang dengan orang yang pandai berkarya. Melukis dan menulis, dua hal yang saya suka. Kenapa? Karena hati mereka nggak pernah dibuat main-main. Karya para seniman selalu ada arti yang nggak banyak orang tahu. Bahkan, bukan hanya seniman. Gambar ini," Pandu menunjuk sketchbook Mentari yang menampilkan gambar rumah pohon. "punya arti, kan?"
"Tahu apa kamu tentang seniman?" Mentari mengukir senyum sinis. "Bukannya yang kamu tahu cuma cari muka di depan banyak orang?"
"Kenapa saya harus cari muka kalau banyak yang bilang muka saya mirip aktor Korea?"
Baiklah, Pandu terlihat semakin menyebalkan di mata Mentari. Untuk saat ini Mentari sedang tidak ingin bercanda. Lagi pula memang Mentari selalu serius dan jarang bercanda. Jarang orang-orang melihatnya tersenyum.
"Mentari, saya cuma mau bilang kalau kamu berbakat. Tawaran saya kemarin bagus untuk nama kamu. Nggak ada salahnya untuk mencoba. Saya minta baik-baik sama kamu, berharap kamu membalas hal yang baik-baik juga. Saya nggak memaksa sih, tapi apa salahnya kalau saya terus memberikan iklan agar kamu mau menerima tawaran sekolah. Nggak banyak orang yang beruntung memiliki keistimewaan seperti kamu. Saya punya waktu sepuluh hari lagi untuk menawarkannya sama kamu. Setelah itu, saya nggak akan memaksa." Pandu tersenyum penuh arti. Pandu selalu pandai berbicara membuat lawan bicaranya tak bisa berkata-kata. Selain menjabat sebagai ketua OSIS, rupanya Pandu juga sering mengikuti banyak lomba di bidang akademik maupun non-akademik. Salah satunya lomba debat dan olahraga.
"Saya—"
"Melihat raut wajah kamu, saya tahu kamu akan menolak lagi. Nggak apa-apa," Pandu berdiri dari kursinya dan maju satu langkah mempersingkat jarak dengan Mentari. "Senyum itu gratis. Coba lebih banyak senyum biar kamu tahu arti bersyukur itu seperti apa."
Usai mengatakan itu Pandu berlalu begitu saja membuat Mentari mendengus sebal. Pandu memang bukan lawan yang pantas untuk Mentari. Harus Mentari akui bahwa Pandu memiliki aura yang bisa mematikan ucapan lawan. Pandu cukup pandai berbicara.