Sungguh, aku tidak pernah menginginkan apa pun selain ketenangan dalam hidup.
—Pluviophille
***
Mentari tidak menyangka jika namanya akan disebut untuk mewakili sekolah dalam perlombaan seni melukis. Setelah dua kali seleksi dan itu pun Mentari tidak begitu niat, tidak berusaha keras, dia hanya melakukan tugasnya tanpa mengharapkan apa-apa. Namun, Mentari terpaksa harus mau menerimanya, terlebih lagi Bapak Kepala Sekolah yang ikut turun tangan memberikan apresiasi kepada murid-murid terpilih.
Sejak awal, Mentari tidak suka menjadi pusat perhatian. Jika kebanyakan orang ingin dikenal oleh orang lain, tapi tidak dengan Mentari. Mentari hanya ingin menjadi minoritas, bukan mayoritas. Dia juga tidak tahu apa yang sedang semesta kerjakan untuk perjalanan hidup selanjutnya. Mentari selalu berharap bahwa dia tidak akan pernah menyesal dengan apa pun keputusannya.
Usia tujuh belas tahun tentu saja bukan hal yang mudah mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Usia paling produktif untuk insecure, tidak percaya diri, pesimis dan labil. Rasa-rasanya bagi Mentari tidak menyenangkan menjadi remaja. Remaja itu tidak pasti. Menjadi anak-anak tidak, menjadi dewasa juga tidak. Namun, pikirannya harus terbagi. Banyaknya masalah yang perlahan-lahan menyakitkan dan semakin berat bebannya.
"Bengong aja,"
Mentari tersentak ketika mendapati Helmi menepuk pundaknya. Mentari menghela napas, menegak air mineral miliknya hingga sisa setengah. Cuaca hari ini sedang terik, padahal Mentari ingin sekali melihat hujan.
"Cie, ikut lomba kamu, ya, Tar?" Helmi sudah sibuk mengunyah keripik. Dia ikut duduk di sebelah Mentari. Mungkin hanya Helmi satu-satunya orang yang mau duduk di samping Mentari. Bahkan di bawah pohon dekat lapangan sekali pun, Helmi selalu berada duduk di samping Mentari.
"Tahu dari siapa?"
"Bara,"
Mentari hanya menganggukkan kepalanya saja, tidak begitu tertarik dengan ucapan Helmi. Sejenak Mentari memikirkan mengapa Helmi selalu saja berada di dekatnya. Mengapa Helmi tidak menjauh dan menyerah untuk berteman dengan Mentari seperti teman yang lain?
"Enak deh kamu bisa ketemu Bara, dia juga ikut lomba. Aku yakin sih kalian berdua pasti menang. Yang satu jago gambar, yang satu lagi jago nyanyi."
"Nyanyi?"
Helmi mengangguk dengan mulutnya yang penuh keripik. Dia menyeruput es teh dalam plastik, lalu memakan keripiknya kembali. "Iya, Bara 'kan suaranya bagus, Tar. Aku 'kan udah bilang kalau dia itu Youtuber, suka cover lagu-lagu gitu. Nggak heran sih kalau murid baru udah diajak lomba. Pasti menanglah."
Dahi Mentari berkerut mendengar ucapan Helmi. Melihat hal itu, Helmi cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dengan keripik yang masih di tangan. "Nih, aku tunjukin sama kamu kalau nggak percaya."
Mentari membiarkan Helmi sibuk menggulir layar ponselnya, sementara fokus Mentari saat ini melihat lapangan yang kosong. Tiba-tiba saja mata Mentari menangkap seseorang dengan almamater berwarna abu-abu tengah melewati lapangan sendirian dengan beberapa map di tangannya. Dia Pandu, lelaki itu terlihat tergesa-gesa melewati lapangan.
"Nih, liat deh!" Seruan Helmi membuat fokus Mentari kembali kepadanya. Helmi menunjukkan salah satu channel Youtube yang katanya milik Barameru dan memutar salah satu video yang berada dalam unggahan channel tersebut.
Terputar cover lagu Waktu yang Salah milik Fiersa Besari yang sedang dinyanyikan oleh Bara. Sebuah gitar berwarna cokelat muda melengkapi lagunya sebagai cover akustik.
Awalnya Mentari kira Bara hanya seorang vlogger atau apalah itu, tapi ternyata Bara juga pandai menyanyi dan memiliki suara yang cukup bagus. Mentari tidak mengomentari apa-apa, dia tidak menyangka saja seorang Barameru yang senang mengganggunya itu ternyata memiliki suara yang bagus. Pantas saja banyak teman-teman satu sekolah yang sudah mengenalnya dan mengangguminya—apalagi siswi perempuan.
"Suaranya enak 'kan, Tar? Sumpah ini yang bikin aku jatuh cinta, Tar. Pas dia masuk kelas pertama kali, aku udah kagum gitu. Ditambah lagi pas aku tahu kalau dia jago nyanyi, meleleh aku, Tari." Helmi heboh dengan gaya ceriwisnya. Matanya berbinar-binar seolah Bara adalah sosok paling sempurna untuk diceritakannya. "Dia punya sembilan ribu subscribers, emang belum boom banget, tapi aku percaya sih dia bakal jadi penyanyi keren."
Mentari hanya bisa mengangguk saja ketika tahu siapa Bara sebenarnya. Lalu, untuk apa Bara harus memilih bekerja juga di sebuah kedai kopi jalan Braga? Bukankah penghasilan dari channel-nya juga lumayan untuk tambahan uang jajan? Ah, entahlah, Mentari juga tidak ingin tahu dan tidak mau tahu.
"Eh, tapi setelah aku tunjukkin video Bara lagi nyanyi tadi, kamu nggak akan suka 'kan, Tar?"
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain
Teen FictionDia Mentari. Kehidupannya yang tak lepas dari sketchbook dan menggambar. Mentari suka hujan. Katanya, dia bisa ikut menangis tanpa ketahuan oleh orang lain. Di sekolah, Mentari tak punya banyak teman. Dia sudah biasa sendiri. Mentari tak suka teman...
