Kali ini aku menyerah. Hanya kali ini saja, tidak tahu kalau besok. Biarkan saja semesta bekerja dengan caranya. Karena aku yakin selalu ada rahasia yang tidak pernah kita tahu.
—Rain
***
Semua mata yang ada di dalam ruang OSIS tertuju pada Pandu yang baru saja masuk. Wajah Pandu terlihat muram tidak seperti biasanya. Mungkin Pandu sedang banyak pikiran terlebih lagi akhir-akhir ini pikirannya sedang kacau sekali. Pandu duduk di kursi kebesarannya sebagai Ketua OSIS untuk kembali mempimpin rapat. Almamater OSIS SMAN 19 Bandung melekat di tubuhnya yang terlihat semakin berkarisma. Siapa pun tidak akan bisa mengelak karisma dan wibawa seorang Pandu Elangga Gerhana. Pandu memang cocok dijadikan pemimpin. Bahasa tubuhnya pun mengatakan hal yang demikian.
Pandu mulai membuka rapat dan langsung ke inti yang akan didiskusikan hari ini. Dia juga tidak suka jika harus berlama-lama diskusi, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Maka dari itu, Pandu selalu mengatur bicaranya untuk langsung ke inti.
"Kegiatan pekan olahraga sekolah tahun ini saya serahkan kepada Intan sebagai Ketua Pelaksana. Apa pun keputusan yang akan Intan lakukan, saya setuju." Pandu menarik napas, memastikan bahwa ucapannya setelah ini adalah keputusan yang tepat. "Termasuk orang yang akan membuat sketsa untuk banner raksasa tahun ini, saya setuju dengan adik kelas yang sudah Intan pilih untuk membuatnya."
Hening.
Tidak ada yang berani menjawab setelah berhari-hari lamanya masalah mereka tak kunjung selesai hanya karena siapa yang akan membuat sketsa untuk banner raksasa. Semua dibuat bungkam karena bingung dengan keputusan mendadak dari Sang Ketua OSIS yang terkenal nyaris tak pernah lalai.
Intan mengangkat tangan untuk menginterupsi pembicaraan. "Mentari menolak lagi 'kan?"
Hening lagi. Tidak ada yang berani berbicara karena suasana semakin menegangkan apalagi mengingat Pandu sampai berdebat hebat dengan Intan hanya karena masalah membuat sketsa.
"Saya ingin acara tahun ini berjalan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah tahun pertama kita semua diberi kesempatan untuk memegang acara pekan olahraga sekolah yang akan dilaksanakan empat hari lagi. Saya sudah dapat laporan dari sekretaris bahwa proposal sedang ditinjau oleh pihak sekolah, kemungkinan hari ini saya akan minta untuk segera disetujui. Kepada seluruh anggota yang ditugaskan menjadi panitia dimohon untuk melakukan tugasnya dengan baik. Segera lapor kepada ketua pelaksana jika ada kendala, saya akan memantau perkembangan ini lebih lanjut. Semoga besok bisa selesai semuanya."
Baru kali ini Pandu telat memberikan keputusan. Teguran dari pihak sekolah sempat membuat mereka semua bingung. Beberapa rekan OSIS yang merupakan anggota inti sempat protes dan memberikan pendapat kepada Pandu. Dan, inilah hasil dari kesepakatan dan keputusan dari Pandu si Ketua OSIS.
"Saya minta maaf karena terlambat memutuskan. Maaf karena saya sudah lalai dengan tugas kali ini. Saya berharap bahwa semua bisa berjalan dengan semestinya." Lalu Pandu menutup rapat hari ini dengan permintaan maaf atas kelalaiannya dalam bertugas. Pandu tidak punya pilihan lagi setelah tadi pagi harus mendapat teguran kembali dari pihak sekolah.
Semua anggota dibubarkan, tersisa anggota inti saja yang masih mendiskusikan beberapa hal. Sedangkan Pandu justru hanya diam, mengusap wajahnya yang terlihat lelah sekali.
"Kamu itu cuma buang-buang waktu, Pandu. Aku udah bilang berkali-kali kalau kamu nggak seharusnya nunggu Mentari mau terima tawaran kamu. Percuma 'kan? Nggak ada hasilnya setelah lama kita semua nunggu?"
Pandu mendongak dan mendapati Intan sudah ada di hadapannya. "Kalau ada kendala apa-apa, langsung lapor sama saya." Bukannya membalas perkataan Intan, justru Pandu mengalihkannya dengan topik lain.
"Gitu, tuh, kalau udah kelamaan berharap sama orang. Lain kali nggak usah deh minta sampai ngemis-ngemis si Mentari. Sumpah, buang-buang waktu."
"Tan, urus aja tugas kamu. Nggak usah bahas itu lagi. Semua udah clear 'kan?" Pandu mengangkat alis. "Saya udah setuju semua permintaan kamu. Terus sekarang apalagi?"
"Intinya kamu jangan campur tugas kamu sebagai ketua OSIS dengan orang yang nggak penting-penting amat kayak dia." Intan semakin sewot dan terus saja menyinggung permasalahan yang berkaitan dengan Mentari.
"Dan, intinya jangan kebanyakan ngomong. Lanjut aja selesaikan tugas kamu sebagai ketua pelaksana." Pandu melanjutkan perkataan Intan membuat perempuan itu bungkam seribu bahasa. Jangan lupakan Pandu yang selalu pandai mematikan ucapan lawan. Dan, jangan salahkan Pandu jika dia bisa saja membuat lawannya berpikir banyak untuk membalas perkataan Pandu.
Pandu kok dilawan.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain
Teen FictionDia Mentari. Kehidupannya yang tak lepas dari sketchbook dan menggambar. Mentari suka hujan. Katanya, dia bisa ikut menangis tanpa ketahuan oleh orang lain. Di sekolah, Mentari tak punya banyak teman. Dia sudah biasa sendiri. Mentari tak suka teman...
