Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"
"Sejak dua tahun lalu. Pertemuan pertama kami sungguh unik. Saya yang waktu itu dikejar fans dan Siyeon yang salah orang, dia mengira saya adalah pencuri tasnya. Sejak hari itu kami menjadi dekat, lalu ... berpacaran."
"Menurut kabar yang beredar, Siyeon-ssi merupakan penggemar Seventeen. Apakah benar?"
"Ne, saya adalah Carat, penggemar Seventeen sejak mereka baru saja memulai debutnya."
"Impian para penggemar adalah bisa dekat dengan idola mereka. Dan anda, Siyeon-ssi, anda tidak hanya dekat namun menjalin hubungan spesial dengan idola anda. Bagaimana perasaan anda?"
"Tentu saja saya merasa sangat beruntung. Menjadi kekasih seorang idol, jujur saja, saya belum pernah membayangkannya sebelumnya. Dulu harapan saya hanya sebatas semoga idola saya mengenali dan mengingat saya sebagai salah satu penggemar yang selalu memberikannya dukungan. Tapi ternyata takdir mengabulkan lebih dari apa yang saya harapkan, saya sangat bahagia dan bersyukur."
"Beberapa hari belakangan tersebar rumor yang mengatakan Kim Mingyu adalah—maaf—seorang gay, bagaimana kalian menanggapinya?"
"Saya akan meluruskannya di sini bahwa rumor tersebut tidak benar. Lelaki di foto itu adalah sahabat saya sejak sekolah menengah pertama. Hari itu saya mengunjunginya setelah sekian lama tidak bertemu. Kami melakukan hal yang normal terjadi di dalam persahabatan seperti berpelukan untuk melepas rindu maupun bercanda. Mungkin di mata orang lain, kami kelewat akrab atau mungkin bisa dikatakan mesra, tapi begitulah cara kami bersahabat. Saya harap orang-orang bisa memaklumi."
"Ne, saat saya melihat rumor itu di internet, saya sangat kaget. Tapi saya tahu itu tidak benar. Selama kami menjalin hubungan, saya dapat merasakan Mingyu menyayangi saya secara tulus. Dia benar-benar lelaki yang pandai memperlakukan pasangannya dengan manis, dia lelaki sejati. Jadi bagi orang-orang di luar sana yang mempercayai rumor itu, mereka salah besar."
Aku menjeda video yang terputar di ponselku. Ternyata durasinya cukup lama, aku bahkan belum setengah menyaksikannya.
Kuedarkan pandanganku ke sekitar. Kini aku tengah berada di kafetaria gedung Pledis, konferensi pers sudah berakhir beberapa saat lalu. Mingyu mengatakan ia masih ada kepentingan, jadi ia memintaku menunggunya. Ruangan yang cukup luas dengan beberapa meja makan dilengkapi dengan kursi-kursi bergaya simple tapi cukup elegan dan sebuah meja bar di depan sana—menjadi pilihanku sebagai tempat menunggu sekaligus beristirahat.
Kafetaria ini sepi, hanya ada aku dan seorang waitress yang sibuk dengan kegiatannya di meja bar. Untuk menghabiskan waktu, aku memutuskan searching video konferensi pers tadi di internet. Aku penasaran apakah aku melakukannya dengan baik tadi, dan setelah menyaksikannya aku cukup terkesan dengan diriku. Aku bisa mengendalikan rasa gugupku dan menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dengan baik. Syukurlah.