Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Perlahan aku membuka kedua kelopak mataku. Kepalaku terasa berdenyut ketika cahaya dari lampu di langit-langit menyapa retinaku. Membiasakan penglihatan terhadap cahaya di sekitar, aku menemukan tubuhku terbaring di sebuah tempat tidur besar bersprei putih. Aku masih mengenakan pakaian yang sama dengan seperti yang terakhir kukenakan—sweater turtleneck dan celana panjang berbahan katun.
Mulanya aku berpikir aku berada di kamarku. Namun setelah pandanganku mengedar ke sekeliling, aku sadar kamar yang saat ini kutempati begitu asing. Aku mendudukkan diri meski semua terasa berkunang-kunang akibat nyeri di kepala. Tak banyak perabotan yang kutemukan di sini. Hanya ada sebuah nakas di samping ranjang, lemari berukuran cukup besar di sisi kanan ruangan, sementara di sisi kiri nampak kosong karena hanya diisi dengan satu sofa tunggal yang menghadap ke arah ranjang.
Kilasan kejadian sebelum aku mendapati diriku berada di sini terbayang jelas di otakku. Lelaki J membekapku dengan sapu tangannya, lalu semua gelap dan aku tidak tahu apa saja yang terjadi setelah itu. Dari sana aku tahu, besar kemungkinan aku tengah diculik. Bersyukurnya aku tidak menemukan diriku dalam kondisi terikat atau mulut yang tertutup lakban.
Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Tidak ada jam dinding yang terpasang di kamar ini. Berniat mengecek ponsel namun kenyataan menamparku bahwa aku meninggalkan benda itu di atas kasurku. Artinya, aku tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta pertolongan. Jika benar aku diculik maka aku harus segera menyelamatkan diri dan pergi secepatnya dari sini.
Aku berjalan menuju pintu. Meraih handle dan menggerakkannya, namun pintu ini sengaja di kunci dari luar. Aku memutuskan berhenti sebelum aksiku menimbulkan keributan. Langkahku kemudian tertuju pada jendela yang tertutup tirai biru gelap tak jauh dari kepala ranjang. Tidak bisa keluar melalui pintu karena terkunci, setidaknya kuharap jendela ini bisa menjadi satu-satunya jalan keluar untukku.
Kondisi gelap di luar sana dengan salju yang turun deras adalah hal pertama yang kulihat usai menyibak tirai. Aku menemukan beberapa titik cahaya dari lampu-lampu yang menyala, kemudian aku sadar kamar ini tidak berada di lantai satu karena aku bisa melihat atap perumahan di sekitar letaknya lebih rendah dari yang seharusnya. Ini persis seperti kondisi di unit apartemen yang kutinggali.