30. Change Up

1.7K 212 30
                                        

🎉 Happy 11K reads 🎉
Makasih buat kalian yg masih bertahan sampe chapter ini.
사랑해 ♥

Sebenarnya pengen update dari kemaren tapi jaringan lemotㅠㅠ Keep vomment yhaa

Happy reading!

Happy reading!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Siyeon's POV

Tanganku bergerak membereskan alat tulis dan buku-buku di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas. Kuliah hari ini sudah berakhir, dosen yang terjadwal menyampaikan materi di jam terakhir baru saja keluar kelas. Mataku memandang ke arah jam dua, memandangi punggung Mina yang duduk di sana tengah membereskan buku-bukunya.

Semua masih sama.

Tak ada komunikasi antara kami, bahkan senyum atau sapa pun tak pernah terjadi. Mina masih menjauhiku dan aku masih menuruti kemauannya untuk tidak berusaha mendekatinya. Kami benar-benar seperti orang asing. Entah sudah berapa hari terlewati dengan hubungan kami yang semakin merenggang ini. Selama itu pula aku selalu menghabiskan waktu sendirian di kampus, terkecuali jika ada tugas atau keperluan yang mengharuskanku berbaur dengan teman-teman lain. Aku tidak tahu mengapa teman-teman di kelas tidak pernah mengungkit mengenai aku dan Mina yang tidak pernah dekat lagi. Mungkin mereka sudah tahu tanpa harus diperjelas, atau mungkin mereka tidak mau tahu dan memilih bersikap tak peduli.

Aku beranjak setelah menyampirkan tasku, lalu berjalan keluar kelas. Mina sudah pergi lebih dulu bersama teman-temannya—teman-teman yang setiap hari selalu menghabiskan waktu bersamanya sejak pertemanan kami merenggang. Aku hanya bisa tersenyum miris menatap punggung mereka yang nampak saling bercanda itu. Tawa Mina bahkan terdengar hingga telingaku. Dulu posisi itu aku yang mengisinya, posisi di mana aku bisa membuat Mina tertawa hanya dengan candaan garingku. Kepalaku tertunduk begitu saja, menyadari betapa menyedihkannya aku.

Sendirian, tanpa teman.

Dengan mata yang memandangi sneakers putih yang terpasang di kedua kakiku, aku menyusuri koridor menuju perpustakaan, mencari buku paket yang kuperlukan di sana.

Tak perlu berlama-lama berada di ruangan dengan banyak rak yang diisi berbagai macam buku itu, kini aku sudah berjalan di koridor dengan dua buku cukup tebal yang kudekap di depan dada. Mataku refleks menyipit saat kakiku menapak di area tepi lapangan yang sore ini cukup ramai karena beberapa mahasiswa bermain basket di sana, padahal terik matahari benar-benar silau dan menyengat. Berjalan di tepi lapangan seperti ini adalah jalan pintas bagiku, daripada harus menyusuri koridor yang berbelok-belok. Aku melangkah cepat, mengabaikan hawa gerah yang mulai terasa di permukaan kulit.

WHY YOU? || KIM MINGYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang