38. I Miss You

1.7K 209 57
                                        

Mingyu's POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mingyu's POV

Aku sungguh merasa bersalah pada Siyeon. Bukannya aku marah dan menyalahkan penggemarku sepenuhnya, hanya saja tidak bisakah mereka bertindak sedikit lebih dewasa? Aku cukup tahu banyak Carat yang patah hati karena berita datingku yang mengejutkan, aku juga tahu beberapa diantara mereka ada yang berhenti mengidolakanku karena itu, dan sejak awal aku juga tahu jika Siyeon berada di posisi yang tak aman karena statusnya sebagai kekasihku. Tapi itu semua bukan alasan untuk mereka bisa menghakimi dan melakukan hal buruk pada Siyeon. Mereka boleh membenciku dan juga Siyeon, namun bukan berarti mereka bebas melampiaskan kebencian mereka dengan cara melukainya seperti itu. Apa yang mereka lakukan sungguh tidak benar.

Aku duduk di tepi ranjang setelah sedari tadi terus berdiri ketika menelepon Siyeon. Kedua tanganku memegang kepala—frustasi. Ya Tuhan, aku sungguh merasa bersalah dan tak tenang. Kenapa aku harus berada di Jepang ketika Siyeon kesulitan? Aku mengingkari janjiku.

"Sesuatu terjadi pada Siyeon?"

Suara itu membuatku tersentak dan refleks menoleh. Mataku melebar melihat Jeonghan Hyung berdiri tak jauh di belakangku, entah kapan dia masuk ke sini karena aku sama sekali tidak mendengar suara pintu dibuka.

"Kau ... mendengarnya, Hyung?" tanyaku ragu ketika ia mendekat dan berdiri di sampingku.

Jeonghan Hyung mengangguk, "Maaf, aku menguping." Ia menghembuskan napas berat—nampak berpikir, "Nanti setelah makan malam, mari lakukan video call dengan Siyeon. Kita bertiga belas."

"M-mwo?" Aku mengernyit, kaget sekaligus benar-benar tak paham maksudnya. Kupikir Jeonghan Hyung akan menyalahkanku atas apa yang terjadi pada Siyeon, ternyata tidak. Ia justru mengatakan ajakan yang kurasa tidak ada hubungannya dengan topik awal pembicaraan kami tadi. (Apa?)

"Dia terluka karena penggemar kita, kau tidak berpikir kita harus melakukan sesuatu untuk menghibur dan menyembuhkannya?" Jeonghan Hyung melipat tangan di depan dada, menatapku dengan ekspresi yang sangat serius.

Mendengarnya, otakku seketika mendapat pencerahan. Benar juga, aku yakin Siyeon pasti akan senang bahkan hanya karena melihat kami di layar ponselnya. Setidaknya dengan kami yang menghiburnya, ia bisa melupakan kejadian buruk yang menimpanya—meski sejenak.

"Kau benar, Hyung. Terima kasih atas ide cemerlangnya. Kau memang yang terbaik." Kuacungkan dua jempolku, membuat Jeonghan Hyung mengangguk-angguk dengan bangga.

⭐ ⭐ ⭐

Siyeon's POV

Ponselku di atas kasur tiba-tiba berbunyi. Aku mempause drama yang tengah kutonton di komputer, lalu segera melompat ke kasur dan meraih ponselku yang masih berkedip-kedip di sana.

Mata melebar dengan mulut yang terbuka adalah reaksi spontanku ketika mendapati layar ponsel di tanganku menampilkan satu panggilan video dari Mingyu.

WHY YOU? || KIM MINGYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang