Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Harusnya ini updatekemaren, tapikarenaakupengen ngepasin(?) sama hariultahnyasigantengmasa depan q aliasKimMingyu, jadilahupdatenyadiundurhariinihehe😚😚
Voteduluyuksebelummembaca:)))
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan masker berwarna putih menutupi dagu hingga bawah mata, aku berjalan menyusuri trotoar menuju halte dengan langkah tenang. Seperti biasa, aku akan pulang naik bus karena Jungri tidak bisa menjemput.
Tanganku bergerak masuk ke dalam saku jaket yang kukenakan hari ini. Sambil mendengarkan lagu-lagu favoritku yang terputar melalui earphone, aku mengangguk-angguk kecil mengikuti irama. Lengkap rasanya menikmati malam yang indah ini dengan mendengarkan lagu romantis.
Semuanya terasa tenang di sepanjang perjalanan, sampai aku menyadari ada yang aneh. Sebuah mobil terus berjalan di samping kiriku seakan mengikuti langkahku. Aku mempercepat langkah, berusaha mengabaikan kehadiran mobil tersebut. Namun tanpa menoleh pun, aku bisa melihat dari ujung mataku bahwa mobil itu juga berusaha menyamakan kecepatannya dengan langkahku.
Aku mulai merasa risih dan tak tenang. Pikiran negatif mulai memenuhi otakku. Jika benar pengemudi mobil ini mengikutiku, apa motifnya? Apa media sejenis Dispatch yang mencari bahan untuk dijadikan informasi karena aku kekasih idol? Atau sasaeng fans yang membenciku dan berniat buruk padaku?
Ya Tuhan, seketika aku merasa takut. Kuperlebar langkahku agar bisa berjalan secepat yang kubisa menuju halte. Suara notifikasi ponsel yang tersalurkan melalui earphone menuju telingaku, sukses membuatku tersentak kaget. Kulepas benda kecil itu dari kedua telingaku dan buru-buru mengambil ponsel di dalam saku lalu mencabut colokan earphone. Sambil memasukkan earphone ke dalam tas, tanganku yang lain bergerak menggesek layar—menemukan sebuah pesan di sana.
MingyuK : Masuklah ke mobil yang berhenti tak jauh di belakangmu.
Aku mengernyit. Apa maksudnya?
Sedetik kemudian aku sadar bahwa mobil yang berjalan di sampingku tadi sudah tidak nampak lagi, hanya saja sorot cahaya lampu mobil itu masih menyinari jalan di sebelahku. Aku berhenti melangkah dan menoleh sekilas ke belakang, menemukan mobil tadi berhenti dengan jarak sekitar lima meter dari tempatku berdiri.
Ah, jadi itu mobil Mingyu? Astaga, padahal aku sudah berpikir macam-macam. Karena sudah berpikir macam-macam, aku tidak menyadari bahwa mobil itu memang familiar.