Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hal yang pertama kurasakan saat bangun tidur adalah tubuhku terasa hangat—demam. Kepalaku berdenyut nyeri, begitu juga dengan pipiku. Pasti efek akibat jambakan pada rambut dan tamparan keras di pipiku semalam. Aku menyibak selimut lalu bangun perlahan. Duduk di tepi kasur dengan kaki menggantung, aku merasa tubuhku benar-benar lemas tak bertenaga. Sempat kulihat pantulan wajahku yang pucat dari cermin di seberang.
Ya, dengan kondisi seperti ini, sudah terlihat jelas. I'm sick. Syukurnya hari ini adalah hari Minggu, tidak ada jadwal kuliah.
Aku berjalan gontai keluar kamar. Membasuh wajah di wastafel—mengabaikan perih yang terasa saat air mengenai lukaku—lalu menuju dapur. Aku merasa lapar tapi aku sedang tidak ingin makan, lebih tepatnya tidak nafsu. Lagipula tidak ada makanan yang bisa kusantap. Kuputuskan memanaskan sekotak susu dari kulkas dan meminumnya sebagai sarapan. Setelahnya aku duduk di sofa, bersandar dengan mata terpejam berharap pusing dikepalaku bisa sedikit berkurang.
Kejadian kemarin malam kembali terputar di otakku tanpa kuminta. Bahkan aku bisa merasakan betapa sakitnya rambutku dijambak, betapa perihnya kuku-kuku itu mencakar permukaan kulit wajahku, betapa kasarnya mereka mendorong dan menamparku. Semua terbayang dengan jelas dipikiranku. Mungkin kejadian itu akan menjadi kejadian paling menakutkan dan mengerikan dalam hidupku, kejadian yang entah sampai kapan akan meninggalkan rasa trauma bagiku. Rasanya aku takut berada diluar rumah, semua tempat seakan menjadi tidak aman.
Kuhembuskan napas berat, mengusap mataku yang mulai tergenang air. Aku tidak boleh menangis lagi. Cukuplah kejadian kemarin malam menjadi pelajaran bagiku untuk lebih berhati-hati dan waspada. Tanganku lantas meraih remote TV di atas meja. Setidaknya aku harus mencari hiburan agar tidak terus-terusan berada dalam kondisi tertekan seperti ini.
Apa yang kulihat tepat ketika TV menyala, sukses membuatku membungkam mulutku dengan tangan—terperanjat luar biasa.
"... tiga remaja yang merupakan siswi kelas 3 SMA Gwangjin tersebut ditemukan tak sadarkan diri di sebuah lorong sempit di kawasan Dongdaemun. Setelah mendapat laporan dari saksi mata, polisi segera menuju TKP dan membawa korban ke rumah sakit terdekat.
Berdasarkan hasil diagnosis, dokter menyatakan korban berada dibawah pengaruh obat bius. Selain itu, dokter juga menemukan adanya memar di kepala bagian belakang korban akibat pukulan benda tumpul. Polisi yang menyisir lokasi kejadian melaporkan bahwa mereka menemukan sebuah balok kayu serta sehelai sapu tangan yang diduga merupakan alat yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya.
Para korban belum sadarkan diri karena efek obat bius masih bertahan hingga dua jam ke depan sehingga interogasi pun belum bisa dilakukan. Salah satu ibu korban mengungkapkan bahwa anaknya memang tidak pulang ke rumah setelah mengikuti kelas hagwon tadi malam, beliau baru saja ingin menghubungi polisi untuk laporan anak hilang ketika ada telepon masuk mengatakan bahwa anaknya ditemukan tak sadarkan diri dengan kondisi basah kuyup akibat hujan.