Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Entahkenapatahun 2020 aku jadi malesbangetupdatepadahalstokdraftmencukupi, sekarang paling rajin 2 minggu sekali padahal dulu rutin tiap minggu😥 Can uguysgivemeasupportbiar aku lebih semangatmenyelesaikanceritaini huhu😭
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mingyu's POV
Aku sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari—mengajak Siyeon pergi ke suatu tempat ketika ujian akhir semesternya berakhir. Pilihanku jatuh pada pantai yang berjarak sekitar 2,5 jam dari pusat kota Seoul, salah satu pantai dengan pemandangan matahari terbenam yang indah.
Nyaris seminggu tak bertemu, jujur, aku merindukannya. Rasanya banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya—membicarakan hal-hal menyenangkan dan melihat ia tersenyum. Namun faktanya aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri di sepanjang perjalanan, berakhir dengan suasana hening dan canggung menyelimuti mobil yang membawa kami ke tempat tujuan.
Perkataan Jeonghan Hyung malam itu masih terngiang, bahkan sehari pun tak pernah menyingkir dari benakku. Terlampau jelas kuingat sampai-sampai aku menghafalnya di luar kepala.
"Kupikir, kau dan Siyeon cocok bersanding. Aku mendukungmu. Jadikan hubungan kontrak itu menjadi hubungan yang nyata. Karena aku percaya, dibanding diriku, kau lebih mampu menjaga dan melindunginya."
Apa benar begitu? Apa aku benar-benar bisa menjaga dan melindunginya? Dan yang lebih penting di antara semuanya, bagaimana caraku menjadikan hubungan kontrak itu menjadi nyata jika Siyeon tak memiliki perasaan yang sama padaku?
Ya, sepertinya itu mustahil. Sepertinya aku tidak bisa merealisasikan apa yang dikatakan Jeonghan Hyung. Aku tahu betul itu, tapi ... kenapa aku tetap berharap bahwa suatu saat nanti gadis yang tengah tertidur di kursi sampingku ini berkenan membalas perasaanku? Kenapa aku masih berusaha padahal apa yang kuusahakan sudah jelas akan berakhir sia-sia?