29. Don't Fall

1.8K 198 19
                                        

Mingyu's POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mingyu's POV

"Aku sudah berjanji akan menjadi tameng yang selalu melindungimu. Apapun yang terjadi aku akan menepatinya. Kau percaya padaku, kan?" ucapku dengan tangan yang sudah mendarat di kedua bahu Siyeon.

Siyeon mengangguk-angguk. Entahlah, ekspresi yang ia tunjukkan nampak seperti orang kebingungan.

"Kita harus melaporkan lelaki itu ke polisi. Besok, aku akan menghubungi dan menjemputmu." Kuturunkan tanganku dari bahu Siyeon. Lalu entah dorongan dari mana, tangan kananku refleks bergerak menuju puncak kepalanya yang masih mengenakan topi. "Sekarang pulang dan beristirahatlah, kau pasti lelah," lanjutku lalu mengusap singkat puncak topi putihnya itu. Demi apapun, aku juga tidak mengerti mengapa aku melakukan hal ini padanya.

"Te-terima kasih sudah mengantarku. Kalau begitu ... aku pulang. Em, sampai jumpa ... besok!"

Siyeon berbicara terbata-bata, dia terlihat salah tingkah. Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum, berusaha menahan tawa geli melihatnya seperti itu. Lalu ia segera melesat keluar dari mobil. Mataku masih memandangi Siyeon yang memasuki halaman apartemennya. Aku terkekeh pelan mengingat ekspresi yang ia tampilkan setelah kuusap puncak kepalanya tadi.

Dia terlihat ... menggemaskan.

Setelah Siyeon tak terlihat lagi dalam pandanganku, kuhembuskan napas berat. Perasaan bersalah seketika menyelimuti diriku. Aku merasa bersalah pada Siyeon. Selama beberapa hari ini aku merasa lega karena rumor burukku sudah mereda. Setelah konferensi pers itu dilaksanakan, aku merasa semuanya kembali normal. Comeback kami berjalan lancar tanpa adanya komentar-komentar negatif seperti sebelumnya. Meskipun masih ada beberapa penggemar yang belum bisa menerima keadaan bahwa aku sudah memiliki seorang kekasih, setidaknya sejauh ini kurasa semua baik-baik saja.

Tapi, tidak dengan Siyeon.

Dia selama ini menjalani hari yang sulit. Hidupnya tidak tenang karena statusnya sebagai kekasihku. Dia menanggung banyak beban di pundaknya. Dan bodohnya aku, aku baru sadar bahwa selama ini aku seakan menutup mata. Aku tidak pernah bertanya bagaimana keadaannya, aku tidak pernah menanyakan apakah dia ada masalah. Jika saja hari ini aku tidak melihat surat yang dijatuhkan seseorang di basement tadi, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa ada orang misterius yang selama ini menguntit Siyeon.

Ketika melihatnya menangis, merasa ketakutan, dan terus melamun seperti beberapa saat lalu, aku sungguh merasa bersalah. Seharusnya kami berhasil mengejar lelaki itu, menginterogasinya, membawanya ke kantor polisi. Tapi sayang kami terlambat dan kehilangan jejaknya.

Tak ada banyak hal yang bisa kulakukan selain mengajak Siyeon untuk melaporkan lelaki misterius itu ke polisi. Aku lantas mengangguk tipis, meyakinkan diri. Sebenarnya besok jadwal Seventeen bisa dibilang padat—fansign, pemotretan, dan juga interview di dua majalah yang berbeda—tapi tidak apa-apa, aku akan meluangkan waktuku.

WHY YOU? || KIM MINGYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang