Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Emerald Cafe.
Di sinilah aku berada sekarang. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku berkunjung ke kafe yang hanya berjarak beberapa meter dari kampusku. Jadwalku dan jadwal Jungri yang tidak pernah sinkron akhir-akhir ini, membuatku selalu pulang naik bus. Namun karena hari ini jadwal pulang kami cukup berdekatan, Jungri bilang dia akan menjemputku. Seperti yang biasa kulakukan, aku selalu menunggu jemputannya di kafe ini.
Lagu Kill This Love milik Blackpink mengalun ke seisi ruangan ketika aku baru saja memasuki kafe, kini lagu sudah berganti menjadi lagu Nuest - Segno. Jika aku sedang beruntung, terkadang lagu Seventeen ikut mengalun dan tentu saja, hal kecil seperti mendengarkan lagu grup favoritmu diputar di tempat umum dapat membuat moodku menjadi lebih cerah seketika. Kuharap dari sekian banyak lagu random yang dimiliki music player kafe ini, akan ada satu lagu Seventeen yang terputar selama aku berada di sini.
"Selamat menikmati." Seorang waitress menghampiri mejaku dan meletakkan menu yang kupesan beberapa saat lalu—segelas lemonsquash dan satu porsi berisi dua slicesandwich beserta potato fries.
"Kamsahamnida," ucapku, tersenyum pada waitress tersebut meskipun aku tahu senyumanku tidak terlihat karena aku yang mengenakan masker. (Terima kasih)
"Ah ya, seseorang menitipkan ini untuk diberikan kepada anda." Waitress yang masih berdiri di samping mejaku ini tiba-tiba menyodorkan sebuah amplop padaku.
Aku menerima amplop itu sambil mengernyit, "Seseorang? Nuguseyo?" (Siapa?)
"Laki-laki. Dia tidak menyebutkan identitasnya dan hanya menitipkan amplop itu untuk diberikan kepada pengunjung di meja nomor 13, setelah itu dia pergi," jelas si waitress, membuatku melirik papan nomor di atas mejaku—nomor 13. "Mungkin anda bisa mengetahui siapa pengirimnya setelah membaca isi surat itu."
"Kuharap begitu," ucapku ragu. Setelahnya si waitress pamit pergi dari hadapanku. Aku lantas menarik gelas lemon squashku mendekat, mengaduk-aduknya sejenak lalu menyesapnya sedikit. Tanganku segera membuka amplop dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya. Aku sungguh penasaran dan bertanya-tanya. Orang ini bisa saja memberikannya langsung padaku, kenapa harus menitipkannya pada orang lain?
Lipatan dari kertas itu kubuka dengan cekatan. Gerakan tanganku yang terkesan buru-buru perlahan melambat ketika mataku mulai menangkap goresan pena di atas kertas tersebut. Tulisan tangan yang familiar.
Dari ... lelaki J?
Aku melupakan eksistensi sandwich dan juga potato fries yang menggiurkan di hadapanku, sekarang fokusku benar-benar hanya tertuju pada isi surat ini.
Hey, long time no see?
Apakah kau sudah melihat berita? Orang-orang yang mengganggumu waktu itu tidak akan berani menyentuhmu lagi karena aku sudah memberi mereka pelajaran, jadi kau tidak perlu khawatir.