56. Letting Go

1.4K 160 30
                                        

Mingyu's POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mingyu's POV

Demi apapun, tidak ada yang lebih mengejutkan daripada apa yang terjadi barusan.

Siyeon.

Dia tiba-tiba memelukku ketika aku baru saja menginjakkan kaki di halaman apartemennya.

Sudah hampir seminggu aku dan dirinya tak bertemu, terakhir kali sejak di tempat rental waktu itu—tempat yang menjadi saksi bisu ketika aku nekat mengungkapkan perasaanku padanya, tanpa persiapan.

Kupikir ia tiba-tiba memelukku karena ia merindukanku. Kupikir dengan perlakuan mengejutkannya itu, ia sudah mempertimbangkan perasaannya padaku—mempertimbangkan menjadikanku seseorang yang spesial di hatinya. Tapi ternyata aku salah. Siyeon memelukku tidak tanpa alasan. Ia memelukku bukan karena rindu atau karena ia sudah mempertimbangkan ucapanku tempo hari. Seharusnya aku tahu, ia takkan semudah itu membuka hatinya padaku.

"Terima kasih ... karena kau baik-baik saja."

Aku sempat membeku di tempat, merasakan tangannya dengan cepat melewati kedua lenganku untuk memeluk punggungku. Sikapnya yang berbeda seperti ini membuatku yakin ada yang tidak beres. "Siyeon-ah, w-wae geurae?" Dan perlahan aku melakukan hal yang sama, menggerakkan lenganku untuk meraih punggungnya—membalas pelukannya. (Ada apa?)

"Aku mendapat pesan bahwa kau dalam bahaya dan nomormu tidak bisa dihubungi. Aku takut terjadi hal buruk lagi padamu," suaranya pelan.

Seketika aku merasa ada desiran hangat yang mengalir di tubuhku, mengetahui dari mulutnya langsung bahwa ia melakukan ini karena mengkhawatirkanku.

"Maaf, aku memang tidak sempat mengaktifkan ponsel tadi. Aku baik-baik saja, tidak ada hal buruk yang terjadi." Secara refleks tanganku terangkat mengusap kepalanya yang tertutupi tudung hoodie. Aku merasa bersalah karena membuatnya khawatir, kuharap dengan begini aku bisa menenangkannya. "Maaf dan terima kasih sudah mengkhawatirkanku."

Aku memeluknya lebih erat, dengan satu tanganku masih mengusap lembut kepalanya yang bersandar di dadaku.

Entah berapa detik berlalu. Siyeon diam, begitu juga aku. Aku tidak tahu harus bagaimana karena jujur, ini pertama kalinya aku dihadapkan dengan situasi seperti ini.

Aku berdeham canggung memecah hening, "Siyeon-ah, maaf, tapi apa kau sudah puas memelukku?" tanyaku asal. Masalahnya jika lama-lama seperti ini, aku tidak yakin jantungku akan baik-baik saja.

Tepat setelah itu kurasakan Siyeon menarik tubuhnya mundur, dan pelukan di antara kami berakhir begitu saja.

"Ma-maaf, aku tidak bermaksud." Ia mengalihkan wajahnya ke samping, nampak jelas menghindar untuk bertatapan denganku. Aku memandang langit sambil mengusap leherku, entah kenapa rasanya atmosfir di sini menjadi begitu canggung.

"Kenapa kau ke sini?"

Tawaku pecah detik itu juga ketika kutemukan Siyeon sengaja menutupi setengah wajah—dari dahi sampai bawah matanya—menggunakan tudung hoodie.

WHY YOU? || KIM MINGYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang