16. Highlight

2K 244 5
                                        

Siyeon's POV

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Siyeon's POV

Kemarin malam aku tiba di rumah hampir pukul 11 PM—Mingyu mengantarku dengan mobilnya. Untungnya Jungri belum pulang waktu itu, jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaannya mengenai mengapa aku pulang begitu larut. Karena begitu lelah, aku memutuskan langsung tidur setelah berganti pakaian.

Pagi ini aku bangun kesiangan, ketika jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 09.10 AM. Seharusnya alarm ponselku berbunyi satu jam sepuluh menit yang lalu, namun aku sama sekali tidak mendengarnya. Dengan mata masih mengerjap-ngerjap, kuambil ponsel di atas nakas dan mencoba mengaktifkannya namun nihil. Ponselku masih saja menampilkan layar hitamnya. Saat itu juga aku baru ingat ponselku kehabisan daya semalam dan aku belum menchargernya.

Aku sontak buru-buru menyibak selimut tebal di atas tubuhku lalu segera beranjak dari ranjang ketika otakku menginformasikan satu hal.

Hari ini adalah hari H. Konferensi pers akan dilaksanakan tepat pukul 11.00 AM, dua jam kurang dari sekarang. Aku harus lekas bersiap-siap.

Suasana di luar kamar sepi, sepertinya Jungri sudah pergi pagi-pagi sekali. Mataku tak sengaja melihat sebuah sticky note berwarna orange tertempel di pintu kulkas.

Hangatkanlah makanan di panci sebagai sarapanmu. Oh ya, hari ini hari Minggu, jangan lupa bersih-bersih jika kau tak sibuk. Oke, adikku?~
-Dr. Jeon

Aku tersenyum tipis setelah membacanya. Baiklah, aku akan membersihkan rumah setelah pulang dari gedung Pledis nanti, semoga konferensi pers-nya tidak memakan banyak waktu. Oh, dan semoga Jungri tidak memainkan ponselnya atau menonton TV hari ini. Aku belum siap jika dia melihat wajahku tiba-tiba ada di berita sebagai kekasih dari seorang idol, aku tidak mau dia syok di tempatnya bekerja—di rumah sakit.

Setelah mandi dan menyantap sarapan, aku menuju kamar. Cukup lama aku memandangi isi lemari pakaianku. Padahal hanya ada empat buah dress di sana dan sisanya adalah pakaian kasual, namun aku sedikit bingung harus memilih dress yang mana.

Sepuluh menit kemudian, kupandangi diriku di depan cermin yang melekat pada lemari pakaian. Aku memutuskan mengenakan dress lace berwarna putih selutut—kurasa itu adalah dress terbaik yang kumiliki. Memoleskan bedak tipis di wajah, lipstick pink muda di bibir, dan sedikit blush on di kedua pipi, aku pun sudah siap dengan penampilanku.

Ponselku yang tengah dicharger berbunyi, aku segera mengeceknya dan mendapati pesan bahwa Mingyu sudah menungguku di depan gerbang. Kuberi sentuhan terakhir pada rambutku yang terurai seperti biasa dan tidak lupa menyampirkan slingbag di bahu kanan. Aku memilih menggunakan heels setinggi 8 cm hari ini, untuk apalagi kalau bukan untuk menyeimbangkan tinggiku dengan tinggi Mingyu—aku tidak ingin terlihat begitu pendek di sampingnya. Setelah semua siap aku lalu melangkah keluar dan mengunci kamar apartemenku.

WHY YOU? || KIM MINGYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang