Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Siyeon's POV
Tatapan dan bisikan-bisikan itu semakin menjadi serta lebih terang-terangan kudapat dari mereka yang kulewati sepanjang perjalananku menuju kampus. Mulai dari halte, di dalam bus, sepanjang koridor, hingga di dalam kelas, aku benar-benar menjadi pusat perhatian. Semua itu karena apalagi jika bukan karena artikel 'kencanku dan Mingyu'. Kekuatan internet serta jejaring sosial memang memiliki pengaruh luar biasa. Rasanya percuma aku menutupi wajahku dengan masker, karena nyatanya orang-orang itu tetap mengenaliku bahkan dari radius beberapa meter. Aku merasa seakan menjadi buronan di manapun aku berada.
"Siyeon-ah, ayo pulang. Sudah jam segini, kurasa koridor sudah sepi." Mina yang duduk di seberangku mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan wajah membujuk mengajakku pulang setelah sempat melirik sekilas jam tangannya.
Jam kuliah sudah berakhir sekitar setengah jam lalu sebenarnya—atau mungkin lebih, namun aku memilih pulang terlambat dan bertahan di perpustakaan demi menghindari keramaian di sepanjang koridor saat jam pulang. Jujur, aku lelah menjadi pusat perhatian di antara orang-orang. Itulah yang membuatku menunggu di sini sampai sekiranya kondisi di luar sana sepi oleh mahasiswa-mahasiswi yang berkeliaran. Dan Mina dengan baik hati menemaniku meskipun sebenarnya ia tidak terlalu suka berada di perpustakaan—terlalu hening dan membosankan, katanya.
"Aku akan menyelesaikan setengah bab lagi," ucapku memperlihatkan pada Mina beberapa lembar lagi yang harus selesai kubaca dari buku di hadapanku. Mina menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya. Aku menipiskan bibir, "Sudah kubilang kau pulang duluan saja," lanjutku, merasa tak tega padanya yang sejak beberapa saat lalu sudah terlihat bosan. Ia sempat membaca novel, namun berakhir dengan kantuk yang menyerang dan membuatnya menumpukan kepalanya di atas meja dengan tangan.
"Kau mau pulang jam berapa?" Ia menatapku tak habis pikir.
Setelah diam sejenak, akhirnya aku menutup buku tebal di hadapanku. "Aku akan meminjam buku ini. Kaja." Aku beranjak sambil memasukkan alat tulis ke dalam tas, memutuskan pulang. Mina tersenyum cerah memandangku. (Ayo)
Setelah selesai memproses peminjaman buku, kami pun keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan rak-rak yang berjejer itu, menyusuri koridor yang nampak lengang.
"Mina," panggilku ketika kami menuruni tangga, membuat Mina menoleh ke arahku dengan alisnya yang terangkat. Aku menarik napas pelan sebelum melanjutkan, "Artikel itu ... kau mengetahuinya, kan?"
Mina mengangguk tipis, matanya memandang lurus ke depan, "Artikel kau dan Mingyu? Semua orang membicarakannya, bagaimana bisa aku tidak tahu."
"Kenapa kau tidak membahasnya? Maksudku, kenapa kau tidak bertanya apapun padaku?" tanyaku lagi. Karena memang sejak siang tadi kami bertemu hingga detik ini, Mina sama sekali tidak membahas mengenai artikel itu. Mina yang biasanya tingkat ingin tahunya tinggi, hari ini tidak terlalu banyak bicara. Rasanya begitu aneh. Aku takut ia diam-diam marah padaku. Bagaimana pun, Mingyu dulu pernah menjadi bias Mina.