28. Again and Again

1.8K 217 16
                                        


Sebuah dinding dengan sedikit lantai semen dan beberapa pot bunga di depannya menjadi tempat pilihanku untuk menunggu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebuah dinding dengan sedikit lantai semen dan beberapa pot bunga di depannya menjadi tempat pilihanku untuk menunggu. Aku berjongkok dan menyandar di sana, menunggu Mingyu yang masuk kembali ke dalam basement untuk membawa mobilnya ke sini. Mataku tertuju pada sneakers yang membalut kakiku. Aku melamun, memikirkan banyak hal yang hari ini terjadi.

Beberapa saat lalu, aku dan Mingyu terus berlari dengan harapan dapat menyusul lelaki yang tak sengaja bertabrakkan denganku dan meninggalkan sebuah surat di parkir basement tadi. Kami keluar basement dan tiba di halaman gedung bagian samping, namun tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu masih berada di sekitar sini. Aku dan Mingyu sama-sama lelah ditambah keberadaan kami di halaman secara terang-terangan yang mungkin saja akan diketahui orang-orang, membuat kami memutuskan untuk berhenti mencari lelaki itu. Kemungkinan terbesar, lelaki tersebut memang sudah meninggalkan area gedung ini.

Tangisku sudah berhenti sejak berlari tadi. Setidaknya dengan menangis aku merasa agak lebih baik, meskipun masih ada rasa was-was dalam diriku. Rasanya aku ingin cepat pulang, tapi di sisi lain aku juga takut. Bagaimana jika lelaki itu ada di sekitar apartemenku?

Mengingat tentang surat-surat yang terhitung sudah dua kali kutemukan di bawah pintu unit apartemenku, lalu surat yang tadi kutemukan setelah bertabrakkan dengan lelaki itu. Goresan pena di permukaan surat-surat tersebut sama persis—aku mengingatnya dengan baik. Lelaki tadi adalah jawaban dari semua pertanyaan yang bersarang di benakku. Dialah si pengirim surat, dialah orang yang melalui suratnya itu mengaku sebagai penggemarku, namun aku bahkan tidak sempat melihat keseluruhan wajahnya.

Selain itu, fakta-fakta lainnya membuatku bergidik. Lelaki itu tahu tempat tinggalku. Dia sangat pandai mengambil kesempatan untuk meletakkan surat-suratnya tanpa sepengetahuanku. Dia pergi begitu saja seakan tertangkap basah ketika Jung Ahjumma melihatnya di depan apartemenku waktu itu. Dia ada di bus yang sama denganku dan mendengarkan percakapanku dengan Jungri mengenai aku yang akan pergi ke acara musik. Dia sengaja pergi ke gedung ini dan ikut menyaksikan acara musik agar bertemu denganku.

Aku sungguh tidak mengerti mengapa ia melakukan itu semua.

"Siyeon."

Aku tersentak, menemukan sepasang sneakers cokelat berada tak jauh di depan sneakers putih yang kugunakan. Tangan Mingyu yang terulur menjadi pemandangan pertama yang kulihat saat kudongakkan kepalaku.

"Kau melamun," ucapnya sambil menggerakkan tangannya yang terulur itu—menyuruhku segera berdiri dengan bantuan tangannya. "Ayo pulang."

Aku meraih tangannya dan berdiri. Mataku melihat ke belakang tubuhnya dan menemukan mobil berwarna hitam yang familiar berada disana. Heol. Bagaimana bisa aku tidak menyadari kedatangan mobil itu dan terus melamun?

Aku hanya perlu berjalan lurus beberapa langkah menuju kursi penumpang tanpa perlu repot mengitari mobil. Syukurlah, karena rasanya aku terlalu malas berjalan lebih jauh. Setelah duduk dan menutup pintu, aku bersandar lalu menghela napas panjang.

WHY YOU? || KIM MINGYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang