Jeon Siyeon tidak pernah menduga bahwa insiden penjambretan yang menimpanya justru mempertemukan dirinya dengan Kim Mingyu-idol papan atas yang tengah berada di puncak kesuksesan bersama grupnya, SEVENTEEN. Siyeon juga sama sekali tidak menduga bahw...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeonghan's POV
Yah, katakanlah aku modus karena meminta bantuan Siyeon dengan alasan tidak bisa melepas sendiri choker yang terkalung di leherku. Aku hanya ingin mencari kesempatan agar setidaknya aku bisa mengobrol dengannya. Face to face, hanya kami berdua.
Sudah kuduga Siyeon pasti tidak keberatan. Meskipun member lain seakan menghalangi agar dia tidak perlu repot-repot membantuku, Siyeon tetap beranjak dari duduknya dan mendekatiku. Kami berdiri berhadapan dan tangannya bergerak ke belakang leherku.
Aku mengulum bibir, menahan gerakan bibirku yang ingin tersenyum. Tinggi Siyeon sejajar dengan hidungku, membuat aroma shampoo dari rambutnya samar-samar tercium.
"Kau tahu tipe idealku adalah gadis yang membeli album-album Seventeen?" ucapku mencari bahan obrolan, karena aneh rasanya jika kami terus berdiam diri seperti ini.
Siyeon mengangguk dua kali sebagai jawaban tanpa mengalihkan pandangannya dari choker di leherku.
"Aku juga suka gadis yang cekatan. Dan—" Kujeda kalimatku sejenak, memastikan Siyeon masih mendengarkan apa yang kukatakan, "—kau adalah Carat yang selalu membeli album kami, kau juga cekatan seperti saat ini."
Siyeon mendongak setelah berhasil melepaskan chokerku. Ia menatapku dengan ekspresi bingung.
Aku menatap tepat ke arah matanya, "Kau ... tipe idealku," bisikku kemudian, agar member yang berada di sekitar kami tidak mendengarnya.
Aku tidak bercanda. She is my ideal type. For real.
Siyeon menatapku dengan mata yang melebar. Ekspresi terkejut seterkejut-kejutnya terlihat jelas di wajahnya. Ia tetap bergeming kaku di tempat, sampai suara seseorang mengalihkan atensinya dan membuatnya refleks menoleh.
"Hei Kim Mingyu, kenapa kau lama sekali di dalam?"
Aku menatap datar ke arah Dokyeom. Ck, menganggu saja.
Tak ada yang bisa kulakukan selain diam ketika Siyeon terlibat obrolan dengan Mingyu yang sudah selesai berganti pakaian itu. Ketika Mingyu sibuk memasukkan busana performenya tadi ke dalam keranjang pakaian, aku mencuri kesempatan mengambil alih perhatian Siyeon agar kembali padaku.
"Gomawo—"
Satu kata itu cukup membuatnya tersentak dan refleks membalikkan badan ke arahku. Ekspresi blank kentara di wajahnya dan ia seakan sengaja menghindari tatapanku. Sementara Mingyu sudah menjauh, tanganku mengambil choker yang sedari tadi masih digenggam Siyeon, lalu meletakkannya di atas meja rias. Setelahnya, aku kembali menatapnya, "—honey," bisikku di samping telinganya, melanjutkan kata sebelumnya yang memang sengaja kupotong.
Aku tersenyum tipis, lalu duduk dan merapikan rambutku di depan meja rias. Dapat kulihat dari pantulan cermin, Siyeon berdiri kaku di posisinya dengan ekspresi blank. Ia lantas melangkah buru-buru menghampiri Mingyu ketika lelaki itu bertanya apakah ia ingin pulang.