"Duh capek amat"
"Ho oh. Bagi minum dong Ki"
"Beli sendiri Sono. Tuh si Fano masih ada satu botol" Rizky meneguk air minum nya tanpa memedulikan Aji yang mengeluh kehabisan air.
Rangga menyeka keringatnya yang bercucuran. Menyaksikan hal yang sering terjadi dalam pertemanan mereka.
"Ngga. Lo malah ajak kita latian di outdoor gini. Panas tau" ucap Fano bersuara setelah sedari tadi diam.
"Iya tuh si Rangga. Bikin kulit jadi item aja" sahut Rizky melirik Aji. Memang diantara mereka berempat, Aji yang mempunyai kulit gelap. Namun membuatnya terlihat manis.
"Rempong lu berdua. Nggak gentle banget jadi cowok, pake takut item" ucap Aji menyadari bahwa ucapan Rizky tersirat menyindirnya.
Rangga masih diam. Mata elangnya menelisik ke arah parkiran samping pintu masuk lapangan. Rahangnya mengeras.
Tiga temannya mengamati Rangga yang sedari tadi diam dengan atmosfer yang mulai berubah. Lalu mengikuti arah pandang mata Rangga.
"Loh. Itu bukannya si pendek ya" cetus Rizky saat matanya menangkap sosok Ara.
"Ho oh. Ngapain dia kesini" ucap Fano masih mengamati Ara yang tengah melepas helm bogo pinknya.
"Sama cowok lagi" sahut Aji menambah suasana makin memanas.
Namun Rangga masih duduk tenang. Masih mengamati gadis cantik itu tanpa menghampiri. Dirinya masih percaya dengan Ara nya.
Ara berjalan disamping Oika. Tangannya membawa tas yang berisi keperluan Oika. Jika orang yang tidak tahu, mereka berdua pasti dikira sepasang kekasih. Bukan hanya tampilan Oika yang seperti laki-laki. Namun juga tinggi Oika yang seratus enam sembilan dan dia mempunyai otot lengan yang besar seperti laki laki lah yang mendukung pemikiran orang lain .
"Tuh temen gue. Lo tunggu gue di atas aja" ucap Oika sambil menunjuk teman temannya.
Ara bergegas menuju ke atas. Namun sebelum suara memanggilnya.
"Ara" panggil Aji. Mata Ara membulat. Di sana ada Fano yang melambaikan tangannya , Rizky yang menatapnya dan Rangga yang nampak diam dengan raut wajah dingin.
Ara melangkah mendekat. Mengabaikan tatapan menusuk Rangga.
"Siapa tadi Ra?" Tanya Rizky mewakili rasa penasaran ketiganya.
"Oh. Itu tetangga baru—" jawabnya ragu.
Ara menegang. Tangannya digenggam erat Rangga. Perasaannya tak enak. Rangga pasti salah paham melihatnya dengan Oika.
Rangga membawa Ara keluar dari lapangan. Membawanya ke penjual air kelapa muda di seberang jalan .
Setelah memesan, Rangga mengajak Ara duduk dibangku penjual.
"Tadi siapa" tanya Rangga datar.
Tuh kan Rangga nya salah paham.
Ara menghela nafas panjang.
"Itu tadi namanya Oika. Tetangga baru aku. Rumahnya diseberang rumah Aku" Rangga diam. Masih menyimak , menunggu kelanjutan ucapan Ara .
"Satu hal yang harus kakak tau. She is girl"
Rangga kaget tentu saja. Dia kira yang bersama gadisnya tadi itu laki laki. Karena dari wajahnya— okelah, bisa dibilang cukup tampan. Tapi mendengar penuturan Ara tadi sedikit membuatnya tak menyangka.
"Kak Rangga kaget ya? Aku juga kak. Masa tadi pagi waktu Oika Dateng ke rumah aku panggil dia mas" ucap Ara tertawa geli mengingat kekeliruan tadi pagi. Rangga tertular. Senyum manis sekali. Bukan karena kelucuan cerita itu. Namun melihat gadis itu tersenyum, Rangga jadi ikut ikutan. Seperti ada semacam virus cinta gitu. Oke- maklumi kadar kebucinan si Rangga ganteng yang sangat tinggi itu .
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimples
Teen Fiction"Kak~" rengek seorang gadis bermata bulat. "Hm?" gumam seorang pemuda. "Jangan liatin, malu" cicit gadis itu, sedangkan pemuda didepannya malah tersenyum. Manis sekali. "Kak Rangga~" rengek gadis itu lagi. "Apa Ara sayang?" Rangga mencubit pipi gadi...
