34. Pesan Oika 🦉

5.7K 457 25
                                        

Jangan lupa mampir di cerita saya yang satunya ya.

Vote jangan lupa. Setiap saya update cerita yang vote dikit 😫. Nyesek udah mikir udah ngetik jerih payah tapi dukungan dari pembaca nothing😢. Oke deh----

Happy reading!

__________________________________

Siang ini Ara tengah bersantai di ruang keluarga. Duduk di sofa empuk dengan katalog di pangkuannya. Tayangan tv tidak menarik perhatiannya. Gadis itu menajamkan pendengaran nya saat menangkap suara ketika pintu.

Benar. Memang ada yang mengetuk pintu, tapi siapa ya. Ara pun keluar lalu membuka pintu rumah.

Grep!

"Maafin Gue Ra".

Ara mengernyit bingung. Dia masih terdiam mencerna semuanya. Tubuh mungil nya masih di peluk erat oleh orang tinggi dan besar di depannya. Sesak sih, tapi gimana caranya Ara melepas.

"Oika? Kenapa?". Tanya Ara sambil melepas pelan kungkungan tubuhnya.

Oika sudah mulai tenang. Cewek tomboy itu tidak menangis, tidak juga terisak. Hanya bergumam terus-menerus mengucapkan kata maaf. Kalaupun menangis, malu lah dengan penampilan sangar nya. Preman nangis? Hahaha, mungkin julukan itu cocok kali ya untuk disematkan kepada Oika. Tapi sayang, Oika itu jantan.

Ara mengajak Oika untuk duduk. Beberapa menit keheningan, tau bahwa Oika belum ingin berucap, Ara berdiri hendak ke dapur membuat kan minum.

"Siapa?". Suara serak basah itu membuat Ara yang tengah membuat teh menoleh. Didapatinya Rangga dengan wajah bantal berdiri di pertengahan anak tangga. Memang semalam Rangga jadi menginap bersama Rizky, keduanya begadang sampai larut malam. Bisa ditebak saat ini Rizky masih berada di alam mimpi.

"Oika". Ara berucap tanpa suara, tapi Rangga bisa menangkap itu.

"Tunggu sebentar". Rangga langsung naik ke atas lagi.

Ceritanya ini, Ara suruh nunggu gitu? Tapi kasian tamunya, nanti nunggu lama. Tapi ini kan Rangga yang minta, Ara menarik kursi meja makan dan duduk sebentar.

Rangga kembali dengan wajah yang fresh, celana pendeknya sudah diganti menjadi yang panjang.

"Ohh, jadi Aku disuruh nunggu karena Kak Rangga mau tampil ganteng di depan Oika gitu, iya?!". Ara melotot marah.

Rangga tersenyum, menatap geli sang pacar yang tengah cembokur dengannya. Tapi gadis gadisnya itu salah paham.

"Kamu salah paham, masa iya sih ketemu tamu berantakan gini. Kan nggak sopan". ucap Rangga memberi pengertian.

"Tapi sama Ara Kak Rangga enggak tuh".

Rangga menghela napas. "Iya, salah nih? Minta maaf ya". Rangga mengalah, daripada semakin runyam. "Yaudah, mendingan kita temui Oika dulu".

Ara menurut, dia mengambil nampan yang berisi minuman itu dan membawanya ke depan.

"Udah lama?", tanya Rangga basa-basi. Ara meletakkan minuman di meja kemudian duduk disamping sang pacar.

Oika menggeleng. "Sorry. Lo bisa pergi bentar nggak?". Suara berat Oika menginterupi.

Rangga yang merasa disindir menatap tajam perempuan cover laki-laki itu. Rangga ada di sana sebab dia ingin, bukan tidak mungkin kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Rangga menggenggam jemari lentik gadisnya.

Ara mengangguk dan menatap punggung tegap kekasihnya yang menghilang dibalik pintu. Dia tau kalau Rangga terpaksa, terlihat dari tatapan mengalah nya.

"Jadi?". Tanya Ara tak sabar.

Orang didepannya ini malah menunduk. Oika terlihat beda dari biasanya. Tak ada aura preman yang menguar. Yang ada hanya Oika tomboy seperti awal pertemuan mereka.

"Gue mau minta maaf". Oika menghela napas panjang kemudian menatap dalam manik Ara. "Please Ra. Gue mohon sama Lo, apapun yang terjadi nanti Lo harus kuat". Ujar Oika ambigu.

"Bentar deh, ini maksudnya apa ya?". Tanya Ara tak mengerti, andai Rangga ada di sini. Pasti pacarnya itu akan tau apa maksud Oika ini.

Oika belum menjawab. Dia mengambil minuman di atas meja dan meminumnya hingga habis. Setelah itu Oika tersenyum menatap Ara. "Lo hanya perlu tau kalau Gue sayang sama Lo Ra. Kalau gitu gue pamit, thanks minumannya, manis kayak yang buat".

Ara terhenyak dalam lamunannya. Hingga Oika pergi dari rumahnya pun Ara masih belum menyadarinya. Rangga datang dengan raut wajah dingin. Laki-laki itu tak bertanya, hanya merasa mengerti dan menggenggam tanganku kekasihnya lembut seolah menguatkan.

Sebenarnya Rangga tak benar-benar pergi. Dia berada di balik tembok, terdengar kurang ajar memang karena menguping pembicaraan orang lain. Tapi jika itu menyangkut gadisnya, lain cerita.

Rangga merasa harus mengambil tindakan. Dia tak bisa diam saja seperti ini. Orang itu sudah kelewatan, dan ini batas kesabarannya. Orang diam bukan berarti dia bodoh. Tapi karena dia tau sesuatu. Bukan berarti juga kalau diam adalah emas. Orang jika terlalu diam tak berani bertanya juga tak akan jadi apa-apa.

Semua itu ada takarannya sendiri-sendiri. Tiap orang masing-masing memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah.

Baiklah kita lihat saja apa yang aka Rangga lakukan nantinya.

"Kak?".

Ara mengambil bekas minuman di meja kemudian membawanya ke tempat cuci piring.

Rangga mengikuti Ara pergi. Sebenarnya Ara risih, tapi mau bagaimana lagi. Rangga itu kalau dicegah malah seperti disuruh. Selalu melanggar apapun yang dia perintah.

"Kak Rangga sariawan ya?".

Rangga menggeleng. "Kok diem aja". Ucap Ara heran.

"Nggak papa". Rangga mendekat dan memeluk pinggang sang pacar dari belakang. Menumpukan dagunya di pundak Ara membuat sang empu merasa geli.

Ara sih agak salah tingkah. Orang lagi nyuci piring diganggu aja. Ingin menolak tapi ia tak kuasa, tak kuasa kehilangan maksudnya hehe.

Kalau tak segera dicegah bisa-bisa barabe nih. Ara sudah mendapat alarm bahaya. Mengingat pelukan dari Rangga yang makin mengerat. Apalagi laki-laki itu menghirup dalam ceruk leher Ara.

'Omaygat! Bahaya nih', Ara meracau panik dalam batinnya.

Rangga tersenyum smirk, mangsanya sudah pasrah.

"Derrrr!".

Keduanya tampak seperti maling yang tertangkap basah, langsung melepaskan diri masing-masing dan menatap orang yang balik menatap keduanya polos.

"S*rimi dog dog der. Pedesnya njederr!". Rizky berlagak meneruskan nyanyiannya.

Padahal Rangga tau betul jika sahabatnya itu sengaja berlaku demikian. Dasar curut satu itu, membuatnya geram saja.

Rikzy dengan rasa tak bersalahnya turun di anakan tangga terakhir. Lalu melewati Ara dan Rangga dan membuka tudung saji di meja makan.

"Wah, ada nasgor nih". Rizky menarik kursi dan duduk. Laki-laki itu menatap Ara dan Rangga.

"Yuk makan yuk. Makan itu bisa meredakan kekesalan loh. Terutama buat lo ,brother". Rizky menarik kaos Rangga agar ikut duduk bersamanya.

Rangga mendengus kasar. Namun dia menarik kursi di sampingnya dan menuntun sang pacar untuk duduk.

Rizky makan dengan wajah muramnya melihat kemesraan keduanya. Suap-suapan, mesra-mesraan dan mengabaikan dirinya. Nasi goreng yang menggunggah selera nya tadi kini hanya bisa ia aduk-aduk sembari sesekali ia suap. Rizky tampak sekali tengah meratapi nasibnya.

"Ini mah yang dinamakan 'The power of obat nyamuk'".

***
TBC

My DimplesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang