Happy reading!
______________________________________
Malam ini malam Jumat. Tak ada yang spesial sih. Selain dengan hal mistisnya. Namun malam Jumat ini sedikit berbeda dari malam malam sebelumnya. Rangga berniat mengajak Ara keluar.
Besok hari libur nasional. Bagi yang lima hari kerja ini adalah nikmat dunia. Jumat , Sabtu dan Minggu libur. Taman kota yang biasanya ramai di malam Minggu kini dipadati oleh orang orang.
Ara menatap penuh binar keramaian taman kota. Ara menurunkan kaca mobil menghirup hiruk pikuk kota. Asap makanan dari berbagai kulineran mengudara. Rangga tersenyum tipis melihat keantusiasan gadis itu.
Gara bertepuk tangan riang diatas pangkuan Ara. Dot yang masih dalam mulut mungilnya terjatuh. Saking gembiranya melihat lampu warna warni di sepanjang jalan.
Yap. Mereka memutuskan mengajak Gara. Karena Ara tau jika bi Yati tak setiap saat bisa menjaga Gara. Selain karena kelincahan dan keaktifannya saat bisa berjalan. Bayi itu sangat penasaran dengan dunia luar sehingga bi Yati seringkali kewalahan.
Ara yang mendapat ajakan Rangga keluarpun tak menolak dua kali. Tapi dengan Gara juga. Sepertinya Gara sudah mulai klop dengan Rangga. Buktinya waktu pemuda itu datang batita itu langsung mengulurkan tangannya untuk masuk dalam dekapan hangat pemuda tampan itu.
"Lap lip" (kelap kelip), Gara menunjuk jajaran lampu dijalanan.
Ara membenarkan letak Gara dipangkuannya, "Iya lampunya kelap kelip. Nanti kita kesana,".
Rangga melirik mereka sekilas, "Bentar ya, cari parkir dulu".
Ara tersenyum, "siap komandan" Ara mengambil tangan kanan Gara ke dahi mungilnya lalu dibentuk hormat.
"Yap Ndan"
Ara dan Rangga tertawa mendengar perkataan polos Gara yang masih belepotan.
Rangga menginjak rem mobil. Setelah mendapatkan tempat parkir, mereka bertiga keluar dari mobil. Gara, bocah kecil itu meronta dalam pelukan Ara. Kakinya menggapai gapai tanah. Rangga mengambil alih Gara, digendongnya ke posisi depan sehingga Gara merasa nyaman.
"Nanti ya kalau mau turun. Di sini ramai" ucap Rangga mengajak Gara berbicara. Bocah itu hanya berceloteh tak jelas jadi Rangga sudah menyimpulkan bahwa Gara menjawab ya.
Mereka menjadi bahan sorotan. Layaknya pasangan muda yang berkeluarga kecil. Nampak adem dipandang.
Bagaimana tidak, Rangga pemuda tampan menggandeng seorang perempuan cantik disebelahnya. Dan jangan lupakan bocah lucu digendongannya. Nampak seperti hot Daddy kan.
Rangga menatap lembut perempuan cantik disebelahnya. Dirinya harus menunduk mengingat tinggi Ara yang jauh lebih pendek dari dirinya, atau memang dirinya saja yang terlalu ketinggian.
"Kita mau kemana dulu?" Tanya Rangga saat tersadar bahwa sedari tadi hanya berjalan tak tentu arah.
Ara tampak berpikir, membuatnya terlihat imut dan manis disaat yang bersamaan. "Kulineran dulu gimana? Mumpung Gara juga lagi anteng sama dunianya sendiri, susunya juga belum abis", Rangga langsung menyetujuinya.
Mereka berdua akhirnya berhenti di tempat penjual sate.
"Pak, dua porsi ya". Penjual sate itu mengangguk.
Mereka mencari tempat untuk menyantap makanan. Mereka memilih lesehan, karena Gara juga butuh sedikit tempat untuk dunianya.
Satu jam terlewati dengan kulineran di beberapa tempat, masih dikawasan taman kota. Ara merasa perutnya penuh. Rangga masih betah menggendong bayi gempal yang ajaibnya anteng sedari tadi. Tak merengek ataupun mengganggu acara kulineran mereka berdua. Memang bocah the best lah. Tau sikon harus berbuat apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimples
Fiksi Remaja"Kak~" rengek seorang gadis bermata bulat. "Hm?" gumam seorang pemuda. "Jangan liatin, malu" cicit gadis itu, sedangkan pemuda didepannya malah tersenyum. Manis sekali. "Kak Rangga~" rengek gadis itu lagi. "Apa Ara sayang?" Rangga mencubit pipi gadi...
