"Aunty sekolah dulu ya. Nanti kalau udah pulang, kita main lagi"
"Ain?"(main)
"He um main. Nanti jalan jalan deh ke rumah Abang kembar sama Abang Kiki" ucap Ara menatap bayi gemuk yang berada dalam gendongan kain bi Yati.
Bayi itu tertawa lepas. Mulut kecilnya menggigit biskuit susu gemas. Sepertinya giginya akan bertambah.
Ara mengecup pipi tembam Gara saat pendengarannya menangkap suara motor Rangga. "Aku berangkat ya bi".
"Iya Mbak Ara. Ati ati nggih"
Ara mengangguk, "Dadah Gara, sampai ketemu nanti. Muach" Ara melambaikan tangannya kepada Gara.
"Muahh" Gara membalas Ara dengan ungkapan kiss bye.
Ara berjalan keluar rumahnya. Di depan sudah ada Rangga dengan wajah tampannya. Hemm, pagi pagi udah ada asupan cogan. Lumayan buat pengganti sarapan, hehe.
Ara naik ke atas motor besar Rangga. Namun Rangga tak segera juga menjalankan. Malah hanya keheningan yang terjadi.
"Kok nggak jalan kak?"
Rangga terdiam sejenak,"Kamu bau bayi."
"Oh. Tadi aku bantu bi Yati mandiin Gara, bantu makein baju. Jadi bau bayi deh" tutur Ara, "Kak Rangga nggak suka baunya ya?".
Rangga menggeleng,"Suka. Wanginya nenangin".
Ara hanya ber'oh'ria. Dia kira Rangga kenapa, pasalnya agak aneh saja. Ara anggap masalah tadi selesai. Namun , Rangga tak jua menjalankan motornya. Ara melirik jam tangannya, masih setengah tujuh. Lama lama Ara merasa jengah dengan Rangga yang hanya diam saja. Apakah dia membuat kesalahan? Tapi apa.
"Kak? Kenapa sih, kok diem aja"
Rangga masih diam. Sedetik kemudian pemuda itu malah menghembuskan nafasnya kasar.
"Hari ini kamu pake seragam apaan?"
Pertanyaan Rangga malah membuat Ara bertanya kepada dirinya sendiri. Memang ada apa dengan seragamnya. Ini seragam identitas sekolahnya, dari SMA Syailendra.
"Ini seragam dari sekolah kita kok Kak. Bukan dari sekolah lain" ucap Ara masih tak mengerti.
"Kemana rok kamu yang kemarin. Kenapa pake yang segitu, mau pamer?" ucap Rangga datar namun penuh ketegasan.
Ara terbelalak. Iya juga ya. Pantesan tadi waktu makai agak terasa beda. Rasanya seperti tak muat dengan ukuran Ara. Ara pikir karena pola makannya yang naik. Tapi kenapa bisa secepat itu. Padahal Minggu kemarin roknya belum seketat itu. Tapi Ara mencoba cuek saja. Namun sepertinya Rangga sangat murka melihatnya menggunakan rok yang memang menampakkan bagian tubuhnya.
Mereka masih dalam posisi diam. Ara mencoba untuk mengingat. God! Hari Rabu identik dengan tas nya yang berat. Dan itu karena kaos olahraga nya. Berbicara tentang olahraga—
"Ara tau kak! Pasti ketuker deh. Tapi sama siapa ya?" Ara masih mencoba mengingat kejadian minggu lalu.
Rangga menolehkan kepalanya ke belakang. Tersenyum dengan ucapan antusias Ara yang terlihat polos.
"Lupaaaa—" ucap Ara merengek kesal.
Rangga berdecak kecil, "Nggak papa. Nggak usah dipaksa. Nanti beli lagi, yang ini dibuang nggak usah dipake " ucap Rangga mengusap poni gadis cantik itu.
Ara mengangguk menurut. Ucapan Rangga adalah perintah. Titah yang tak boleh dibantah.
"Sekarang tutupin paha kamu pake ini" Rangga melepas jaket yang melekat di tubuh atletisnya lalu diberikannya dipangkuan Ara. Ara segera mengikatnya di pinggang rampingnya. Lalu menutupi setengah paha yang terbuka dengan jaket Rangga.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimples
Fiksi Remaja"Kak~" rengek seorang gadis bermata bulat. "Hm?" gumam seorang pemuda. "Jangan liatin, malu" cicit gadis itu, sedangkan pemuda didepannya malah tersenyum. Manis sekali. "Kak Rangga~" rengek gadis itu lagi. "Apa Ara sayang?" Rangga mencubit pipi gadi...
