22. Gagal -again?🚦

9.7K 654 21
                                        

Libur. Satu kata yang membuat Ara bahagia. Bisa rebahan, tapi itu dulu waktu masih jomblo. Sekarang libur bisa jalan sama pacar. Tapi tidak untuk hari ini. Karena, pukul delapan nanti Ara ingin menanti kepulangan Abang kembar.

Rangga juga tak keberatan. Karena sebenarnya dia juga punya jadwal kerja dengan ibunya.

Ara sudah mandi. Setelah berpakaian, gadis itu duduk di depan meja riasnya. Menaburkan bedak bayi di wajahnya. Lalu memoleskan lipmatte bewarna soft dibibir mungilnya yang sebenarnya sudah bewarna pink alami.

Ara memakai flatshoes  putihnya. Menyampirkan Tote bag hitam di pundak kirinya. Gadis itu segera menuju kediaman Rizky yang mungkin tengah menunggu dirinya.

Dan benar saja. Sudah ada papa Rizky, mama Ira dan Rizky si tengil. Ara menyengir lalu meminta maaf atas keterlambatannya.

Sampai di bandara mereka melihat dari kejauhan, terlihat dua laki laki dewasa yang berjalan mendekati. Satu orang dengan rambut gondrong yang diperkirakan bisa diikat. Dan sebelahnya ada laki laki dengan wajah seiras namun potongan rambutnya rapi namun sedikit bewarna coklat terang.

Rizky merentangkan kedua tangannya menyambut kedua Abangnya.

"Dek!" Kedua Abang kembar itu berhambur ke pelukan.

Rizky berdecak kesal. Di sini yang adiknya itu siapa sih. Bukannya melepas rindu dengan dia yang jelas jelas adik kandungnya. Malah langsung meluk si tetangga.

Mereka mah ngerti aja sama yang bening dikit. Mama Ira dan sang suami hanya tertawa melihat kelakuan anak anaknya.

Ara yang dipeluk erat oleh dua orang sekaligus berusaha melepaskan diri. Dirinya benar-benar butuh oksigen yang cukup.

Setelah berhasil lepas, kedua orang itu hanya nyengir lebar. Melihat Rizky yang tengah merajuk, membuat Abang kembar itu tergelak. Aldi dan Aldo lalu memeluk adik kandungnya  itu ala lelaki. Kemudian beralih ke orang tuanya.

Setelah melepas kerinduan, mereka langsung kembali ke rumah. Mengingat perjalanan si kembar yang memakan waktu belasan jam.

"Ini sebenarnya bang Aldi mana yang bang Aldo mana sih. Kok Ara tetep nggak bisa bedain" ucap Ara mengunyah anggur . Kan lumayan, dari London lagi.

"Aldo yang rambutnya kayak Tarzan. Gue yang ganteng gini dong" ucap Aldi menyisir rambutnya yang bewarna coklat terang.

Aldo mendengus tak terima dikatai adik selang sepuluh menitnya itu. Laki laki itu mengumpulkan rambut gondrongnya menjadi satu lalu mengikatnya dengan tali rambut.

" Mending mending gue gini, jadi keliatan macho. Timbang dia mentang mentang lingkungan kita bule. Sok ikut ikutan bule, pake rambut dicat segala"

"Ah iri kan Lo karena gue jadi lebih ganteng daripada elo" Aldi melempar kulit kacang ke arah Aldo.

"Eh lancang banget sama abangnya. Lagian najis banget deh gue iri segala. Yang ada elo, nggak punya pendirian sukanya ikut ikutan" balas Aldo tak mau kalah.

"Abang? Sudi banget gue panggil Lo Abang. Lagian cuma beda sepuluh menit doang. "

Jika sudah seperti ini. Tak mungkin ada yang mau mengalah. Ara sampai heran dengan keluarga ini. Mengapa tak ada sifat papa Ferdi yang menurun ke anak anaknya. Semua menurun dari mama Ira . Tidak Rizky, tidak Abang kembar. Kalau bicara tak akan ada habisnya.

Rizky menatap malas perdebatan alot kedua Abangnya itu. Dirinya sibuk membuka paper bag yang bisa dipastikan oleh oleh dari abangnya.

Ara menggeleng kecil dengan Aldo dan Aldi yang tak henti hentinya mengoceh.

My DimplesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang