Happy reading!
——————————————————
Ruang keluarga itu nampak berserakan. Karena bayi laki laki bertubuh gempalah ulah nya.
"Mimimi"
"Gara mau minum? Nih minum ini aja", Ara menepis lemon tea miliknya yang diminta Gara dan diganti dengan sus formula bayi itu.
Gara menerima walaupun mukanya cemberut.
"Mbak, besok udah puasa loh", ucap bi Yati yang datang dari dapur.
Ara meneguk lemon tea nya. "Berarti, abis ini kita tarawih ya bi?", ucap Ara senang.
Bi Yati mengangguk, "Iya mbak. Tarawih bareng siapa?", tanya bi Yati yang sudah memakai mukena putih nya.
Ara merengut kesal, "Ya bareng bibi lah. Sama siapa lagi, Ara kan nggak ada temen-" ucap Ara merengek. Gadis itu masuk ke dalam kamarnya. Tak lama kemudian keluar dengan mukena yang telah terpakai menutupi tubuh mungilnya.
"Ayo bi", ajak Ara.
Bi Yati tersenyum jahil. "Yakin nih? Nggak sama den bagus itu?".
Ara mengernyit bingung, "Siapa sih bik?" tanya Ara tak mengerti. Bi yati menatap sejenak ke arah pintu. Membuat Ara mengikuti arah pandang bi Yati.
Ara terkejut. Malaikat— bukan! Pangeran darimana itu. Rangga dengan rambut sedikit basahnya yang tersiram air wudhu. Baju koko abu abu yang melekat di tubuh atletisnya. Dengan memakai kain sarung hitam kotak. Duh! Serasa pengen segera dihalalin aja.
Ara mengerjab, tersadar dengan lamunannya. Rangga terkekeh gemas. Ingin mencubit pipi tembam gadisnya namun takut wudhunya batal.
"Bi Yati ikut juga ya", ucap Ara kikuk. Gagal fokus dengan akhi akhi didepannya ini. Bi hati mengangguk. Ara menggandeng lengan kana bi Yati manja.
Keluar rumah Ara, mereka berpapasan dengan keluarga Rizky. Mama Ira yang memang perempuan sendiripun lantas bergabung dengan Ara dan bi Yati.
Setelah pulang dari masjid, kini tinggal Ara dan Rangga yang tengah menonton tv.
Ara mengunyah keripiknya pelan. Lalu melirik manusia di sampingnya yang seenaknya merangkul bahu nya.
Ara menurunkan toples makanan dari pangkuannya. Mata bulatnya menatap tajam Rangga yang menatapnya polos,"Besok puasa loh kak".
Rangga mengangkat sebelah alisnya, "Iya. Terus?", ucapnya acuh.
"Nggak boleh kesini. Dosa", ucap Ara melepas kasar tangan Rangga dari bahunya.
Rangga membelalak kaget, "Ya nggak bisa lak dek. Puasa nahan makan sama minum bisa. Tapi puasa nggak lihat kamu mana kuat".
"Ih kak Rangga mah".
Belum sempat Rangga menjawab suara krasak krusuk menganggu. Hingga perhatian mereka teralihkan.
"Woi Ngga. Bantuin napa", suara Rizky berteriak.
Rangga berdiri, lalu keluar rumah untuk memastikan.
Terlihat Rizky dan abang kembar yang mengangkat beduk dan teman temannya yang ia pikir untuk membangunkan warga kompleks sahur. Rangga sontak ikut mengangkatnya.
"Taruh mana nih", tanya Aldi kewalahan.
Aldo mengelap keringat nya, "Tuh depan rumah aja. Nggak bakalan ilang juga".
Setelah selesai mereka masuk ke dalam rumah Ara. Gadis itu membawa nampan berisi minuman dingin.
"Lu ngapa bawa mic segala"tanya Rangga melihat temannya memegang mic.
"Nggak papa biar afdol. Nanti kalau nggak pake mic pada nggak kedengeran. Gue nitip sound nya di sini ya Ra. Udah terhubung sama ini mic", ucap Rizky mengotak atik mic.
Rizky mengaktifkan pengeras suara itu, dan tak lama terdengar.
Cek cek.
"Bener juga ya", timpal Aldi.
"Yaudin. Kita balik yah. Udah jam sepuluh, besok harus bangun pagi buta buat ngebangunin orang sahur", potong Aldo menarik kasar adik kembarnya agar pulang .
Mereka semua beranjak.
Rangga mengikuti ara yang hendak ke kama, "Ngga! Mau kemana Lo!. Lo tidur sama Gue", Rizky menarik belakang kaos Rangga.
Ara tertawa menatap wajah memelas kekasihnya itu.
"Padahal mumpung belum puasa".
Plak!
Duh sakit banget tuh pasti. Poor Rangga.
.
.
.
"Bangun woi. Katanya mau ngebangunin orang orang", ucap Aldo membangunkan ketiga laki laki.
Para laki laki akhirnya tidur bersama. Beralaskan karpet bulu tebal. Mereka tidur di kamar Rizky yang memang tak banyak berisikan perabotan. Alasannya sih satu, paksaan Rangga. Karena kamar Rizky berhadapan dengan kamar Ara. Dan kalau mereka tak mengizinkan, Rangga mengancam akan tidur bersama Ara. Licik bukan.
Rangga mengucek matanya. Pemuda itu orang yang paling muda dibangunkan. Tidak seperti Aldi dan Rizky. Seberapa keras suara tak akan dapat membangunkan keduanya.
"Ambil mic Ngga. Biar bangun tuh bedua", ucap Aldo pasrah karena keduanya tak kunjung bangun.
Rangga mengambil mic yang Rizky bawa semalam. Lalu mengaktifkannya. Aldo mengambil mic itu lalu berteriak kencang, "Woi bangun!!!".
Namun Aldo dan Rangga justru mematung. Bertatapan lalu menghitung dalam hati.
Satu——
Dua——
Ti——
"BANG ALDO!!! Ara udah denger ini!. NGGAK USAH PAKE PENGERAS SUARA SEGALA!!!" Ara membuka pintu balkonnya kasar. Dengan wajah garangnya yang membuat Aldo menelan salivanya susah payah.
Sebelum Ara marah, Rangga buru buru menyambar mic dari Aldo.
"Maaf sayang. Kita lupa kalau ternyata sound nya masih di dalam rumah kamu", ucap Rangga pelan. Namun terdengar sampai Ara karena menggunakan pengeras suara.
Aldo meringis dalam hati. Melihat Ara yang tak lagi marah. Namun dengan kasar masuk kamar dan menutup pintu keras keras.
Rangga menghela napas lega.
Aldo berbalik dan ternyata kembaran nya dan adik bungsunya sudah terbangun dengan cengiran khas keduanya. Benar benar menyebalkan sekali bukan. Rangga berjalan cuek.
"Mau kemana Lo Ngga? Kita harus keliling nih", teriak Rizky serak.
Rangga mengangkat tangan kirinya, "Kalian aja. Gue mau bujuk cewek gue yang lagi ngambek", ucapnya lalu pergi.
"Ah ini semua gegara Lo sih bang. Pake Speaker segala", ucap Rizky menyalahkan Aldo.
Aldo mendelik tak terima, "Salahin kalian. Tidur kayak orang mati, dibangunin susah banget", tukas Aldo.
Aldi menguap lebar, "Alah nggak jadi aja deh. Tidur juga enak!" ucap Aldi menaikkan selimut tanpa memedulikan saudaranya yang melotot garang.
"Aldi!!!"
.
.
.
Dikit aja dulu. Males mikir bahan😫
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimples
Ficção Adolescente"Kak~" rengek seorang gadis bermata bulat. "Hm?" gumam seorang pemuda. "Jangan liatin, malu" cicit gadis itu, sedangkan pemuda didepannya malah tersenyum. Manis sekali. "Kak Rangga~" rengek gadis itu lagi. "Apa Ara sayang?" Rangga mencubit pipi gadi...
