23. Gara (Rangga❤️Ara)

9.6K 657 6
                                        

Pagi ini, cuaca sedikit mendung. Bisa jadi nanti akan turun hujan. Ara memasuki kelasnya yang lumayan ramai. Dilihatnya bangkunya yang masih kosong. Otomatis Oliv belum tiba.

Sebelum sampai mejanya, Ara harus melewati meja Doni dan Tito yang berada tepat didepannya. Meja depannya sudah dihuni sosok pemuda berkaca mata dan rambut menutupi dahinya.

Tito. Cowok itu masih saja terlihat enggan berbicara dengannya. Entah karena penolakan cinta tempo lalu atau masalah lain mungkin. Namun jika Ara pikir pikir Tito semakin jauh dengannya kala Oliv keceplosan bilang kalau Ara sudah jadian dengan Rangga.

Mulai saat itu Tito menjadi dingin. Namun Ara mencoba tenang dan berfikir positif. Dirinya masih mengumbar senyum walaupun dibalas dengan tatapan datar. Setidaknya Ara sudah mengajak hal baik bukan.

Ara melihat sahabatnya yang datang dengan wajah kusut. Oliv meletakkan tasnya asal hingga jatuh kelantai. Namun gadis itu justru malah membiarkannya. Ara berdecak kecil. Tangannya meraih tas milik sahabatnya itu lalu diletakkannya ke dalam laci.

Ara melepas Hoodie bewarna biru Dongker dari tubuh mungilnya . Gadis itu melipatnya dengan rapi. Dihirupnya aroma yang menguar dari Hoodie itu. Membuatnya tersenyum manis mengingatnya.

Itu adalah Hoodie milik Rangga. Katanya, karena cuaca mendung Ara harus berjaga-jaga agar tidak kedinginan bila sewaktu-waktu hujan. Rangga dengan segala keoverprotectifannya. Ah sungguh manis sekali.

Back to reality. Ara masih melihat Oliv dengan wajah tertekuk. Seperti merasa putus asa.

"Liv kenapa sih. Pagi pagi kok udah lesu"

Oliv mendongak, mengangkat wajahnya. "Aku tu kesel Ra. Kamu tau kan. Aku udah nabung sebulan lalu buat ketemu ayank Juno. Tapi uangnya ilang Ra. Ilang!"

Ara tentu kaget mendengar Oliv yang bersungut-sungut itu. Mengingat sahabatnya itu jika sudah ada niat pasti akan diseriusin.

"Kok bisa Liv. Kamu nyimpennya di mana?"

"Aku tabung sih. Tapi udah aku ambil, mau bawa pulang malah ilang. Udah aku susurin di jalan tempat aku lewat nggak ada."

Ara mengangguk mengerti. "Yaudah. Besok Aku danain aja Liv. Kan kita satu tujuan" ucap Ara berusaha menenangkan Oliv yang sempat termenung.

"Eh. Ntar malah ngerepotin lagi Ra. Lagian buat satu orang aja nggak sedikit loh" Oliv sedikit terkejut mendengar penuturan Ara.

Ara menggeleng kecil, " Nggak papa Liv. Kayak kita temenan baru kemarin aja. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau kita harus tampil secantik mungkin buat ini" ucap Ara semangat agar Oliv menerima bantuannya.

Oliv terdiam sejenak. Namun akhirnya mengangguk. Mereka berteriak lalu berpelukan dan tertawa.

"Duh duh. Pagi pagi udah kaya Teletubbies aja. Ikut dong"

"Jangan!" teriak Oliv dan Ara bersamaan saat Doni ingin nimbrung peluk dengan mereka.

Doni menyengir lebar. Menyebalkan sekali makhluk perusak suasana ini. Oliv mendengus, memasang wajah tak suka. Doni mengangkat kedua tangannya menyerah.

Cowok itu berbalik membelakangi mereka. Lalu berbicara serius dengan teman bangkunya, Tito.

Oliv sudah berkutat dengan ponselnya. Dengan sepasang handset terpasang di telinganya tanda tak mau diganggu. Ara merasa gabut sekarang. Katakanlah Ara orang yang tidak sopan. Tapi sebenarnya dia tak ada maksud. Dia hanya penasaran, walau secara tersirat artinya sama hehe.

Ara melihat didepannya Doni tengah berbicara serius dengan Tito. Sayup sayup dia mendengar karena punggung Doni menempel di meja depannya. Jadi Ara bisa mendengar apa yang tengah dibicarakan.

My DimplesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang