Rintikan gerimis membasahi bumi, menciptakan bau tanah yang khas. Sama halnya dengan awan gelap yang menggumpal, suasana hati Rangga malam ini juga demikian. Ditemani gitar dipangkuannya, ia duduk di balkon kamarnya mengamati derasnya tetesan air yang jatuh dari langit.
Pikirannya menerawang. Hingga tepukan dibahunya menyadarkannya dari lamunannya.
"Kok belum tidur?" Feni- ibunda Rangga seraya tersenyum lembut pada anak semata wayangnya.
Rangga menggeleng singkat. Kembali menatap tetesan hujan. Dirinya cukup terkejut dengan kedatangan bundanya di kamarnya. Biasanya, saat ini Feni masih sibuk mengurus bisnisnya.
"Bunda tadi datang," ucap Feni lirih memulai pembicaraan saat beberapa waktu terjadi keheningan.
Rangga menoleh , ia tau kemana arah pembicaraan ibunya itu , "Rangga tau" balas Rangga tersenyum tipis lalu meletakkan kepalanya ke pangkuan ibunya, seperti kebiasaannya waktu kecil.
"Nilai kamu gimana nak?" tanya Feni mengelus rambut anaknya sayang.
"Stabil Bun" ucap Rangga singkat. Rangga memejamkan matanya. Merasakan elusan Ibunya yang membuatnya nyaman. Jujur ia sangat rindu saat saat seperti ini. Namun karena keadaan semuanya berubah.
"Bagus, tingkatkan lagi nak. Agar kamu besok bisa jadi apa aja yang kamu mau" ucap Feni yang membuat Rangga mendudukkan diri kembali.
"Enggak Bun. Rangga mau ngegantiin Bunda aja. Biar Bunda nggak capek lagi ngurus perusahaan Ayah. Bunda seharusnya istirahat" ucap Rangga tegas membuat Feni menggeleng.
"Bunda nggak papa. Kejar mimpi kamu. Kamu pengen jadi pilot kan? Kejar cita cita kamu Rangga" balas Feni menatap putra semata wayangnya .
Rangga memang sedari kecil ingin menjadi seorang pilot. Di kamarnya juga banyak miniatur pesawat. Namun setelah Ayah Rangga meninggal, ia berpikir siapa lagi kalau bukan Rangga yang meneruskan perusahaan? Apa iya Bundanya akan terus menerus mengurus perusahaan sedangkan usia terus berkurang.
" Udah Bun. Rangga nggak papa. Bunda tinggal dukung Rangga." ucap Rangga final membuat Feni terharu dengan Rangga yang mampu berpikir dewasa dan sangat pengertian .
Setelah Ayahnya meninggal, Rangga memang berubah. Menjadi irit bicara, irit senyuman, dan sedikit membangkang. Namun itu wajar saja. Rangga tidak merokok, tidak minum alkohol. Kalau masalah berkelahi, jika ada yang mencari masalah dengannya, baru Rangga hadapi.
"Ternyata kamu udah dewasa. Pasti Ayah bangga kalau-" ucapan Feni terpotong ,"Udah Bun. Yang lalu biar berlalu. Ikhlaskan Ayah." ucap Rangga pelan .
Rangga menoleh ke ibunya yang mulai meneteskan air matanya. Rangga berusaha menahan air matanya, ia harus kuat. Sekarang ia pelindung ibunya. Ibunya tidak boleh sedih.
Feni memeluk Rangga. Mengelus bahunya pelan. Setelah tangisannya mulai reda, ia melepas pelukannya. Mengusap sisa air matanya kemudian berdiri, "Yaudah. Ini hampir larut malam. Bunda kembali ke kamar ya" ucap Feni dengan suara serak yang di angguki Rangga.
Rangga membawa gitarnya lalu beranjak masuk ke dalam kamar. Tak lupa tangannya mengunci pintu. Rangga mengambil handphone nya di atas nakas. Terdapat notif berasal dari para sahabatnya.
Cowok perfect
Kiki:
Tes
Nanonano:
Cek cek
Jiji':
Kuker banget lo berdua
Kiki:
Semut rang rang mana?
Nanonano:
Iya nih. Udah molor kali
Kiki:
Nggak mungkinlah udah molor
Jiji':
Iya tuh. Rangga bukan elo, jam lapan udah molor
Nanonano:
Nggak tuh. Buktinya gue masih bales pesan kalian
Kiki:
Ngelindur kali
Jiji':
Iya tuh pasti
Nanonano:
Udah pada ngerjain fisika belum?
Kiki:
Emang ada ya?
Jiji':
Yang mana?
Nanonano:
Berhubung sudah memasuki waktu tidur, saya undur diri. Selamat malam
Kiki:
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimples
Ficção Adolescente"Kak~" rengek seorang gadis bermata bulat. "Hm?" gumam seorang pemuda. "Jangan liatin, malu" cicit gadis itu, sedangkan pemuda didepannya malah tersenyum. Manis sekali. "Kak Rangga~" rengek gadis itu lagi. "Apa Ara sayang?" Rangga mencubit pipi gadi...
