Rangga mengepalkan tangannya erat. Rahangnya jelas mengeras. Hal itu tak luput dari penglihatan Aldo. Pemuda dua puluh satu tahun itu menepuk bahu Rangga. Dirinya juga merasa cemas. Tapi ia harus berpikir jernih.
"Gue tau apa yang lo pikirin. Tapi nanti dulu. Yang utama kesembuhan Ara".
Rangga diam. Mengingat tubuh Ara yang berguncang akibat kejang kejang. Rangga tak bisa dengan mudah lupa. Gadis itu. Terkulai lemah di pangkuannya. Mulutnya berbusa, matanya ikut terpejam erat.
Siapa yang tega melihatnya seperti itu. Tega lagi siapa yang berani melakukan itu semua. Ingatkan Rangga untuk memberi ganjaran kepada orang yang berani nya melakukan itu.
Sandi keluar dari ruang rawat. Tersenyum tipis kepada Rangga.
"Sana kalau mau masuk".
Rangga berdiri. Langkahnya terasa ringan. Tangannya memutar daun pintu, tatapannya sayu menatap gadis yang terbaring lemah di ranjang pasien. Tangan mulusnya tertancap jarum infus. Lubang hidungnya di pasang selang pernafasan.
Coba saja kalau dia tak segera menemukan Ara. Entah apa yang akan terjadi.Segera Rangga enyah tak ingin membayangkan nya lebih jauh.
"Kak..."
Rangga tersenyum tipis. Mengelus pelan waja Ara yang nampak tidak nyaman.
"Perut aku sakit--".
Rangga membeku. Rasanya tak segan segan ia ingin segera menuntaskan masalah ini. Melihat gadis nya kesakitan membuatnya tak tega.
"Iya, sabar dulu ya". Ara mengangguk kecil. Ia tak bisa berkata kata. Sakit diperutnya amat menyiksa.
"Kak".
"Hmm?", Rangga hendak menyiapkan butir obat itu terhenti.
"Obatnya digerus ya".
Rangga mengangguk, pikirannya bercabang sekarang. Masalah tentang Ara belum selesai. Di tambah kasus di perusahaan ibunya, apalagi tadi ia mendapat telpon mengenai study nya.
Ara sedikit merasa tak enak hati. Ia memang sangat manja jika sakit. Pasti Rangga diam karena muak dengan sikapnya. Uh! Gadis itu segera mengusap pipinya sebelum air mata itu jatuh. Bisa bisa, Rangga pergi meninggalkannya.
Dia memejamkan matanya saat obat itu masuk kedalam mulutnya. Menelannya cepat agar rasa pahitnya tak begitu terasa.
"Kak. Aku nggak papa kok kalau di tinggal. Lagian itu juga buat kebaikan bersama", Ara tersenyum manis. Walaupun dalam hati ia merasa berat.
Mendengarnya, Rangga mendekat. Mengecup puncak kepala sang pacar sambil menggumamkan kata maaf. Mungkin ini sebuah cobaan yang harus dihadapi.
Seberapa kuat mereka mengahalau berbagai rintangan yang datang silih berganti.
"Tapi, untuk racun itu. Aku harus bisa mengupas sampai tuntas".
Ara tersenyum dan mengangguk.
"Mau apel?", tawar Rangga dengan mengangkat apel merah.
"Enggak".
"Jeruk?", tawarnya lagi.
Ara menggeleng tak mau.
"Anggur? Pear? Pisang?", tanyanya lagi.
"Enggak. Aku mau kismis", jawab Ara seraya bersedekap dada.
Rangga mengangkat satu alisnya, "Oke", ucapnya girang.
Ara gelagapan kala wajah Rangga yang semakin mendekat. Pemuda itu tersenyum amat lebar.
Buk!
"Awww. Kok di dorong sih dek?", Rangga mengusap bokongnya yang ngilu.
Ternyata saat sakit pun tenaga Ara masih ada. Ara meringis melihat Rangga yang nampak kesakitan.
"Maaf kak. Ara reflek aja. Lagian wajah kak Rangga deket banget sama aku", ucapnya cemberut.
"Lah kan kamu sendiri yang minta cium".
"Apa!?", mata bulat itu terbelalak. Apa apaan deh. Siapa juga yang minta cium.
"Kan tadi aku minta kismis. Mas nya gimana sih".
Pemuda itu menegakkan tubuhnya . Merasa aneh dengan pendengaran nya, "Apa, Kismis? Bukannya Kiss me ya?!".
Plak!
"Duh. Kdrt banget sih yang. Sakit tau", Ara merasa malu Rangga memanggilnya sayang. Padahal sih seharusnya biasa saja, toh juga udah kebiasaan nya. Tapi tetap saja ia merasa merona.
"Telinga kakak yang bermasalah deh", alibinya.
"Lagian kakak kasih tawaran apa mintanya apa".
Ara tertawa, "Yaudah deh, iya. Maaf ya mas nya--".
Rangga berdehem singkat. Telinganya memerah melihat sang gadis yang berada didepan wajahnya.
Tuk!
"Awww! Kak Rangga kok sentil dahi Ara sih", dia mengusap dahinya yang nampaknya akan merah.
Rangga sedikit merasa bersalah. Ia refleks menyentil dahi Ara agar tak merasa canggung yang kentara. Aneh saja, padahal tadi dia sendiri yang ngebet ingin mencium. Malah dirinya sendiri yang gugup.
Cup
Rangga mengecup dahi Ara sayang, "Udah nggak sakit lagi kan?".
"Ihhh kak Rangga nakal", ucap Ara pelan.
Pipinya semerah tomat. Kali pertama setelah official mereka bersentuhan. Dalam artian standar sih ya. Mungkin bagi sebagian pasangan itu kecil, karena hanya dahi. Tapi bagi keduanya, ini hal baru. Sejenak, mereka bisa melepaskan masalah yang melanda.
"Ternyata bener ya. Kalau udah pernah coba sekali, bakal ketagihan".
Ara menautkan alisnya bingung, "Maksud Kak Rangga?".
Rangga malah menggeleng. Percuma saja menjelaskan panjang lebar kepada kekasih polosnya itu. Ujung ujungnya pasti bertanya lagi. Tapi Rangga tak bosan kok, hal itu malah menjadi kesenangan tersendiri baginya.
"Sekali lagi ya?", Rangga menatap memohon.
"No no no. Tadi kan ud--".
Cup!
"Manisnya", Rangga tertawa manis.
"Bagus ya, om tinggal keluar sebentar udah berani", Rangga menoleh menatap Sandi yang menatapnya garang. Sedangkan sang pacar hanya menatap keduanya polos. Kini dia bingung harus menjelaskannya seperti apa.
Rangga bodoh!
_o0o_
Voment baru lanjuttt
Mohon koreksinya bila ada typo ya
No edit soalnya😉
Juga ucapan terima kasih untuk Bektir_ , teman satu jurusan dan satu kelas saya yang sudah membuatkan cover wattpad ini untuk saya😀. Yang buatin ketua IPM loh ini. Tentu saya sangat senang sekali, hehe. Sekali lagi makasih ya Bu Ketu.🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimples
Подростковая литература"Kak~" rengek seorang gadis bermata bulat. "Hm?" gumam seorang pemuda. "Jangan liatin, malu" cicit gadis itu, sedangkan pemuda didepannya malah tersenyum. Manis sekali. "Kak Rangga~" rengek gadis itu lagi. "Apa Ara sayang?" Rangga mencubit pipi gadi...
