Hoamm!
Ara menguap kecil. Sekarang pukul sembilan malam. Hawa dingin dipegunungan membuat bulu kuduknya meremang. Gadis itu menaikkan suhu AC.
Ara menaikkan selimut sebatas dada. Berbaring miring sebelah kanan menatap jendela bergorden tipis.
Tok tok tok!
Ara terlonjak mendengar ketukan jendela. Terlihat sosok makhluk yang samar samar. Itu darimana, pasalnya Ara menempati lantai dua. Dan luar jendela itu hanya balkon kecil. Ara merinding sesaat.
Tok tok tok!
Gadis itu menelan salivanya susah payah. Pelan pelan bangkit, mengintip di balik gorden.
"Aaaaaaaaa!"
Ara berteriak kencang. Lalu buru buru menenggelamkan tubuhnya dalam selimut.
Tok tok tok!
"Dek, ini Aku Rangga," terdengar suara Rangga diikuti gedoran jendela.
Ara menetralkan detak jantungnya. Mengambil nafas banyak lalu ia buang. Ara membuka jendela itu, lalu masuklah seorang Rangga dengan cengiran jailnya.
"Gitu aja teriak. Nanti kalau Tante Lena mikir yang iya iya gimana?" tanya Rangga berucap santai sambil menidurkan tubuhnya di atas ranjang.
"Harusnya kakak tuh yang kenapa. Aku kagetlah, pake nakutin segala," ucap Ara dengan napas memburu.
Pasalnya, saat Ara menggeser gordennya Rangga dengan keisengannya menghidupkan lampu senter diwajahnya. Membuatnya terlihat bersinar seperti hantu. Makanya Ara teriak bukan kepalang.
Rangga terkekeh. Pemuda itu bangkit lalu mengambil Ara masuk kedalam pelukannya. Rangga mengelus rambut gadisnya sayang, "Maaf ya dek. Nggak lagi deh. Abisnya gemes sama Tante, nempatin kamarnya jauhan," ucap Rangga pelan.
Ara menutup mulutnya saat menguap. Matanya tinggal 5 watt. Namun telinganya masih sanggup mendengar curhatan Rangga.
"Kamu tau nggak, Aku harus manjat pohon loh. Untung aja sampe, kalau nggak paling malam ini nggak bisa tidur karena kebayang kamu mulu," Rangga tersenyum dengan dirinya sendiri mengapa ia jadi bucin sekali.
"Lagian, jarang jarang kan kita bisa gini. Ya walaupun dalam kata lain Aku modus. Tapi emang sih," Rangga terkekeh geli. Namun suara dengkuran halus terdengar.
Rangga berdecak kecil, ternyata gadisnya itu sudah terlelap. Pantas saja ia berbicara panjang namun tak ada yang menyaut.
Rangga menepikan rambut yang menutupi wajah Ara. Bulu mata lentik, hidung kecil, bibir merah alami, dan pipi chubby yang membuat Rangga gemas sekali.
Cantik. Pacarnya itu memang cantik.
Rangga membenarkan posisi tidur Ara. Menyelimutinya hingga sebatas dada. Pemuda itu mengecup dahi Ara lama. Setelah itu keluar dari kamar gadisnya dan kembali ke kamarnya.
Sedangkan didepan pintu kamar seorang wanita berusaha berpikir keras, "Aneh. Tadi ada yang teriak kenceng, pas didatengin kok nggak ada ya?" Pikirnya sambil berlalu dari kamar itu.
Bersyukurlah Rangga atas dewi keberuntungan yang berpihak padanya.
***
"Yang ini mau dibuat apa tante?".
Lena melihat tumpukan kertas origami yang ditunjuk Ara, "Oh yang itu dibentuk burung aja. Anak anak di sini suka bentuk bentuk lucu gitu", ucapnya seraya menggunting potongan lipat.
Ara mengangguk, "Nanti Ara ikut ke sana ya tan?".
Lena mengangguk membuat Ara merasa senang. Anak kecil di desa sebelah lucu lucu. Ara suka anak kecil. Dia tau pasti banyak yang suka dengan berbagai hiasan yang ia buat. Hiasan ini nantinya akan ditempatkan di pondok baca.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dimples
Novela Juvenil"Kak~" rengek seorang gadis bermata bulat. "Hm?" gumam seorang pemuda. "Jangan liatin, malu" cicit gadis itu, sedangkan pemuda didepannya malah tersenyum. Manis sekali. "Kak Rangga~" rengek gadis itu lagi. "Apa Ara sayang?" Rangga mencubit pipi gadi...
