2

3K 301 14
                                        

Semburat cahaya menembus masuk melewati celah-celah jendela yang masih tertutup dengan tirai, ditambah bunyi burung laut yang berterbangan melewati kapal membuat Akara terbangun dari tidurnya setelah tengah malam tadi ia terbangun dan memilih untuk berbincang dengan Shanks yang kebetulan juga tak bisa tidur.

Gadis itu menguap lebar, kemudian merapikan kasur dan memilih untuk mandi dikamar mandi kapal yang kebetulan memang selalu disiapkan oleh kru kapal secara bergantian, jadi yang belum mandi tinggal memakainya, dan satu lagi, jika sudah kelar mandi jangan lupa siapkan bak berisi air bersih biar yang mandi selanjutnya juga demikian.

Pintu kamar terbuka, matanya mengerjap beberapa kali, berusaha memfokuskan kornea matanya dengan keadaan luar kamar yang sudah terang dipukul sembilan pagi saat ini.

Sudah lebih dari seminggu sejak perjalanannya dimulai dari New York, namun ia masih saja suka terkesima dengan keadaan laut yang saat ini sedang di arunginya dengan rombongan Akagami.

Rambut panjangnya yang masih terurai itu bergoyang lembut karena desiran angin laut sembari ia menyelipkan rambut sisi kanannya ke belakang telinga tangan.

"Yo, gadis kecil. Sudah bangun? Mau mandi?"

Teguran itu membuat Akara menoleh ke atasnya dan mendapati Benn Beckman, wakil ketua bajak laut Akagami, melihatnya keluar kamar.

Akara tersenyum.

"Selamat pagi, Benn. Yaaah, kau sudah bisa menebak jika aku menenteng benda ini bukan?" sapanya sembari mengangkat sebelah bahunya yang tersangkut handuk.

"Sudah ku bilang, panggil Beckman. Dasar gadis kecil, terlalu sopan sekali."

Dan respon Akara pun hanya bisa nyengir lebar.

"Kan dari dulu juga udah kebiasaan begitu dari pertama kali kita kenal pas di bar Makino ketika dia mengenalkanku pada kalian semua, kenapa kau baru protes sekarang? Udah belasan tahun loh kenal, dari umurku masih empat tahun, dan baru sekarang kau protes karena aku memanggil nama belakangmu."

Beckman mengangkat bahunya.

"Aku sendiri heran kenapa baru protes sekarang padahal seharusnya bisa dari dulu."

Akara menatapnya flat, kemudian ia menatap ke arah pintu yang menembus ke ruang kumpul pun langsung meloncat mundur dan menjaga jarak lumayan jauh, bertepatan dengan Roo serta kru lainnya yang langsung keluar dari balik pintu sembari terjatuh dan menimpa satu sama lain.

Ia menatap kerumunan itu bingung karena heboh.

"Ini pagi-pagi udah ribut, kenapa lagi coba?"

Mereka mendongak dan menatap Akara secara serentak begitu suara gadis itu muncul yang saat ini sedang memperhatikan mereka sembari berkacak pinggang dengan salah satu tangannya, membuat yang diperhatikan pun hanya menatap mereka bingung.

"Kenapa melihatku begitu? Jawab pertanyaanku. Ada apa?"

Tim yang tersadar kemudian segera berdiri dan Yassop yang kebetulan ayah biologis dari sosok Usopp, si penembak jitu andalan tim Topi Jerami kemudian mendekati Akara dan memberikan selembaran poster buronan yang tak di perhatikan sama sekali oleh Akara yang hanya fokus memperhatikan wajah ayah dari calon rekannya itu.

"Poster buronanmu."

Akara yang ngeh karena tak memperhatikan kertas itu kemudian melihat setelah mengambilnya, dan betapa terkejutnya Akara jika ia sudah diberi harga kepala yang cukup tinggi di awal minggu keduanya berlayar.

"HAAAH!?"

Yep, poster itu memang poster buronan Akara, dan kepalanya bernilai seratus juta berry untuk awal perjalanannya.

Akara's Journey [One Piece x Original Char]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang