6

2.3K 280 10
                                        

Setelah tadi malam hanya bisa meraung-raung, Akara yang masih berdiam diri dikamar sejak pagi setelah beres-beres dan sarapan pun masih menatap lekat halaman terakhir surat tersebut, karena ada nomor Sabo disana.

Ditambah Vivre Card yang ada di dalam gelangnya saat ini sudah ia jahit agar tidak hilang dengan mudah.

"Telfon nggak ya ..." tanyanya pada diri sendiri dengan bingung.

Belum lagi memutuskan hal itu, Akara dikejutkan oleh Denden Mushi nya yang mendadak berbunyi, dia kesal karena dari kemarin entah kenapa dia selalu mendapat telepon asing, setiap kali dijawab, pasti yang menelepon tidak menjawab, setelah beberapa detik berlalu pun telepon langsung dimatikan secara sepihak oleh si penelepon.

Siapa yang nggak naik darah coba.

"Dengan Shirayuki—"

"Akara?"

Ucapan Akara terhenti ketika si penelepon memanggil namanya, gadis itu diam, berusaha mencerna ketika si penelepon memanggil namanya.

"Siapa?" tanya Akara balik.

"Nggak sadar, ya?" tanyanya sedikit kecewa.

Suara berat, dan entah kenapa Akara merasa suara itu terdengar sangat bersahabat, namun entah kenapa dia ragu.

"Barang-barang yang dikirim setengah tahun lalu sudah kau terima kan? Sudah dibuka semua?"

Deg!

Mendengar pertanyaan itu, kontan Akara langsung memekik dan menahan suaranya.

"Sa ... Sabo!?" tanyanya terkejut sembari melempar denden mushinya ke seberang kasur yang masih lengang bukan main, yang diseberang pun terbahak.

"Kenapa reaksimu begitu? Aku sudah tunggu kabar darimu setengah tahun belakangan ini tapi nihil semenjak aku mengirim jam dan kotak surat itu. Apa kau lupa? Atau bagaimana?" tanyanya lagi.

"Kampret! Jangan bilang beberapa waktu belakangan ini yang meneleponku itu kau!?"

Sabo tertawa.

"Ketauan juga."

"Lagian siapa sih yang kelakuannya goblok begitu kalau bukan kau, orang juga gak mau repot-repot kali usil sampai segitunya."

Akara menghela nafas, ia merasa bodoh karena pada akhirnya sang kakak lah yang menghubunginya lebih dulu.

"Lama tak jumpa, Akara." ucap Sabo sambil tersenyum.

"Hm, lama tak jumpa. Ku kira kau tidak selamat pas insiden waktu itu, kami patah hati nasional pas masih kecil."

Jawaban adiknya kontan mengundang gelak tawa Sabo.

"Kenapa begitu?"

Akara mendelik kesal ke arah alat telepon yang baru saja diraihnya kembali.

"Bolot apa bolot, hah!? Mikir, bego! Malah ketawa lagi!"

Sabo yang diomeli pun hanya bisa tersenyum begitu mendengar adik kecil nya sudah bisa ngomel sekarang.

"Maaf, tapi kan tau sendiri habis itu aku amnesia."

Suara helaan nafas terdengar.

"Aku tau. Sulit, bukan? Tidak bisa mengingat kami sama sekali biarpun hanya sedikit saja?"

Sabo berdeham, mengiyakan pertanyaan adik perempuannya.

"Ku dengar dari Shanks-san dulu, kau berniat gabung dengan Luffy?" tanya Sabo yang teringat dengan perkataan Shanks setelah ia melihat kertas buronan milik Akara.

"Memangnya aku harus bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan lain. Lebih baik aku merelakan karirku itu daripada aku harus kehilangan kakakku lagi, aku nggak mau titik. Harta bisa dicari lagi kapan-kapan."

"Sepertinya ada benarnya. Setengah tahun lagi, kan?"

"Iya, dan kurasa ... Aku akan merahasiakan bagaimana keadaan Luffy nanti padamu. Kau jangan kepo, ya!"

Dia mendengus.

"Kenapa kau mendadak pelit? Aku mau tau bagaimana keadaan si bodoh itu."

Akara mencibir.

"Ogah deh, yaaaa!"

Kekehan terdengar.

"Baiklah, aku ada urusan. Kita ngobrol lagi lain waktu. Hati-hati ya, adik kecilku. Jaga dirimu baik-baik sampai hari H tim itu berkumpul lagi. Kurasa aku akan mengikuti perkembangan kalian melalui surat kabar."

Adiknya mengangguk.

"Tunggu saja! Aku yakin tokoh utamanya disurat kabar seperti biasa."

"Aku tau. Dah, sampai nanti lagi, Akara."

"Sampai nanti, Sabo."

Telepon berakhir, Akara menatap alat komunikasi itu sejenak sebelum akhirnya dia membereskan semua barang lalu menelentangkan tubuhnya kembali di atas kasur.

Gadis itu melepas salah satu gelang karetnya dan menatap kertas Vivre Card yang ternyata tidak dijahit, namun ia selipkan diantara lipatan di balik gelangnya.

Ia tersenyum lebar.

"Aku jadi nggak sabar!"

* * *

Maaf, chapter ini sedikit karena otak sedang buntu😂

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Akara's Journey [One Piece x Original Char]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang