56

531 59 0
                                        

"Tangkap merekaaa!!!!"

Akara dan Sabo berhasil memancing keributan sembari berlari tunggang langgang meninggalkan kerumunan penjaga yang tengah mengejar mereka, kini Kuma sudah bersama mereka dimana lelaki itu tengah digendong oleh Sabo yang sudah terbiasa mengangkat beban berat selama latihannya sejak dua belas tahun silam, jadi Akara berusaha menyamakan langkah jenjang dan cepat milik sang kakak dengan kaki kecilnya.

Ketika sedang berfokus kedepan, jalan mereka dihadang oleh sekerumunan penjaga yang muncul dari arah yang mereka tuju saat ini.

"Akara! Tidak ada jalan lain!?" pekik Sabo.

"Tidak ada! Hajar saja!"

Gadis itu kemudian menepuk punggung sang kakak pelan, mengalirkan sedikit energi agar ia tak cepat lelah. Dalam hitungan ketiga, keduanya langsung melompat tinggi tanpa ragu dengan Kuma yang sudah berhasil mereka selamatkan, Akara sudah berhasil melepaskan kalung pengekang kepemilikan yang melingkar di leher rekan sang kakak, begitupun dengan seluruh budak yang ada di Reverie saat ini berhasil ia hancurkan segel serta bom yang aktif pada kalung itu yang bertepatan ketika kalung milik Kuma lepas.

Ketika kaki keduanya mendarat kembali ke tanah, Akara menjaga keseimbangan sang kakak dengan cepat agar ia tak terjatuh lalu mereka kembali melangkah dengan langkah seribu, kecepatan lari mereka benar-benar tak bisa ditandingi mengingat Akara ketika kecil sering ikut ketiganya berlarian di hutan hingga Sabo terpisah dari mereka saat itu. Bahkan ketika di New York, kebiasaan anehnya sejak kecil itu selalu terbawa. Bahkan kecepatan lari Akara bisa menyentuh 100 km per jam jika ia sedang seorang diri dan bahkan bisa lebih dari itu, walau dengan beban berat sekalipun, langkahnya tetap tak goyah sama sekali.

Sekarang ia hanya berusaha menyamakan langkah sang kakak yang hanya bisa menempuh sekitar 50 km per jam dan itu sudah termasuk cepat untuk pemilik genetika normal. Akara bisa menyentuh seratus karena genetikanya memang aneh sejak dulu.

"Kita sudah dekat pintu keluar, jangan sakiti siapapun yang ada didalam gedung, cukup yang di luar sudah terluka karena yang lain memang tak bisa diam ketika melakukan keributan seperti biasanya. Apalagi si tolol itu." ucap Akara tenang sembari menyanggul rambutnya dengan cepat dan sigap.

Sabo terkekeh, tak menjawab, mengingat ia harus menjaga nafasnya karena ia sedang menggendong rekannya ditambah ia tidak segila kedua adiknya itu. Pandangan kedua kakak adik itu kemudian terpaku ke arah sosok yang mereka sayangi yang kini tengah menghadang pintu keluar. Membuat keduanya melebarkan mata sejenak.

"Kakek!?" pekik mereka.

"Lepaskan budak itu! Dan serahkan diri kalian! Menyerahlah! Bajak Laut dan Pasukan Revolusi!!!"

Teriakan beliau memang tak berubah, keduanya hanya bisa terbahak tanpa memperlambat langkah kaki, namun semakin cepat mendekati sosok lelaki paruh baya yang sangat mereka sayangi itu.

Ketika jarak sudah dekat, Akara memberikan hentakan lebih kepada Sabo ketika lelaki itu melompat ke atas, lain halnya dengan Akara yang tetap berlari lurus ke arah sang kakek. Keduanya tetap tak ragu berlari karena tau, kejadian Ace dulu sudah membekas di otak benak serta hati mereka masing-masing. Hardikan sang kakek tadi tidak di anggap serius karena mereka tau, beliau tak akan menangkap keduanya begitu saja.

Garp yang merasa bingung dengan kedua cucu angkatnya karena yang satu melompat, sedangkan yang satu lagi tetap pada langkahnya pun merasa sedikit kikuk, namun tetap tersenyum lebar tanpa bertindak lebih dari pada posisi siap untuk menghadang, namun sesuai dugaan, ia tak menangkap mereka.

Bahkan Akara dengan gerakan sigapnya dia masih sempat memberikan pelukan singkat padanya, mewakili pelukan kedua saudaranya yang lain karena Sabo dengan menggendong Kuma, ditambah Luffy berada di luar gedung.

Akara's Journey [One Piece x Original Char]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang