29

3.2K 449 71
                                        

Sudah dua hari Yuna tidak sekolah. Dia harus istirahat total karena kondisinya yang sebenarnya tidak terlalu berbahaya. Hanya saja Kakaknya yang over protective membuat Yuna harus beristirahat dengan benar, sampai Yuna benar-benar sembuh.

Selama dua hari ini, Yuna sering sekali bertemu dengan Midam di pusat terapis kesehatan. Midam selalu datang sepulang sekolah untuk bertemu dengan Yuna juga merawat Mama Yuna.

Selama dua hari itu, karena Midam, Yuna benar-benar melupakan Junkyu. Dia tidak pernah memikirkan Junkyu sama sekali, meskipun setiap menit Junkyu selalu mengirimkan pesan padanya yang berakhir dengan hanya dibaca saja oleh Yuna.

"Gimana kondisi lo, Yun?" Tanya Midam.

Yuna yang sedang membaca buku langsung menutup bukunya dan beralih menatap Midam.

"Seperti yang lo bisa lihat, gue sebenernya baik-baik aja. Emang dasar aja kakak gue lebay." Ujar Yuna.

Midam tersenyum, kemudian duduk disamping Yuna. "Bukan lebay. Kak Yoyo tuh khawatir sama lo, Yun. Lo sih belajar gatau waktu banget sampe bisa drop kayak gini." Ujar Midam.

Yuna hanya tersenyum. "Kalo gue gak belajar, nanti gue gak bisa ngerjain soal-soal ujian." Ujar Yuna. "Lagian gue mau nunjukin sama si Junkyu kalo gue itu bisa ngalahin dia sama Yeji juga." Tukas Yuna.

Midam tersenyum, kemudian mengusap pucuk kepala Yuna lembut. "Kalau gitu, gue dukung lo, Yun." Ujar Midam dengan suara yang sangat manis, membuat jantung Yuna berdebar sangat kencang.

Yuna benar-benar tidak bisa berkata-kata. Mungkin Midam dapat melihat dengan jelas bagaimana wajah Yuna yang memerah karena perlakuannya yang seperti itu.

Awalnya, Yuna tidak pernah merasakan apa-apa saat di dekat Midam. Tapi, sejak Midam memberitahunya bahwa Yunalah cinta pertamanya, semuanya berubah. Jantung Yuna bergetar sangat hebat setiap di dekat Midam.

Hebat juga rasanya jadi cinta pertama seseorang. Apalagi orangnya itu lo, Dam. Tapi, gue bingung. Gue gak tahu harus balas perasaan lo atau nggak. Jauh dilubuk hati gue, gue sayang banget sama Junkyu. Sebangsat apapun anak itu.- Yuna.

"Oh, ya, Mama lo kemana? Kok gak kelihatan?" Tanya Midam saat menyadari Mamanya Yuna tidak berada di tempat tidurnya.

"Mama diajak pergi katanya sama Kak Yoyo. Pas gue kesini, dia udah gak ada." Ujar Yuna.

"Oh, gitu." Kata Midam lirih. "Kalau kita keluar gimana? Nonton?" Tanya Midam.

Mata Yuna langsung berbinar. "Boleh tuh. Gue udah bosen banget ini." Jawab Yuna.

Midam tersenyum. Kemudian dia berdiri dari tempatnya duduk dan menjulurkan tangannya pada Yuna. Yuna tersenyum dan membalas uluran tangannya.

Gue gak nyangka, disaat Junkyu mau jujur tentang hubungannya, gue malah jadi lebih deket sama lo, Midam. -Yuna.

🌟🌟🌟

Junkyu menatap ponselnya dengan raut wajah kesal. Sudah dua hari dia tidak mendapatkan balasan pesan dari Yuna, padahal dia membacanya. Junkyu juga berusaha untuk menelepon Yuna, tapi Yuna tetap mengabaikannya.

Junkyu juga sudah berusaha untuk mendatangi rumah Yuna, tapi tidak menemukan secuil kehidupan disana. Tidak ada Yuna, kakaknya, atau Papanya. Rumahnya benar-benar kosong.

Junkyu sangat merindukan Yuna.

"Jun, masih belum dibalas?" Tanya Minju. Junkyu sedang menemani Minju untuk berbelanja beberapa alat komestiknya. Sebenarnya Junkyu ingin menolak, tapi tidak baik menolak teman yang akan menraktirnya makan dan juga menonton, bukan?

Hide and Seek (Kim Junkyu)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang