Happy reading🎉
Cuaca hari ini tidak mendukung semua manusia yang melakukan aktivitas mereka di kota ini karena hujan yang cukup yang deras. Untung saja aku sudah sampai di kampus barulah hujan turun.
Sekarang aku sudah selesai kelas dan hujan belum juga reda. Kedua sahabatku Lira dan Abel hari ini tidak masuk katanya ada urusan yang entah urusan apa. Jadinya aku sendiri duduk di kantin menunggu hujan reda.
"Alya" suara panggilan seseorang membuatku mengalihkan pandanganku.
"Eh Salsa" Salsa pun menghampiriku dan duduk semeja denganku
"Lira sama Abel mana?" Tanyanya
"Ngak masuk katanya ada urusan"
"Kamu ngak kerja Al?"
"Kerja kok" Salsa hanya mengangguk
Lama kami terdiam aku baru menyadari kalau Salsa kesini tidak bersama Alvin kan biasanya mereka selalu berdua.
"Alvin mana Sal?" Tiba tiba raut wajah Salsa berubah ia terlihat sedih saat aku bertanya. Apa aku salah bicara
"Aku sama Alvin udah putus Al" aku terlonjak mendengar apa kata Salsa barusan. Putus?
"Haa Ya ampun sal maaf yah aku gak tau"
"Gak apa apa Al" Salsa tersenyum kepadaku tapi senyumnya seperti dipaksakan mungkin dia masih bersedih.
"Tapi kenapa kalian bisa putus? Kalian kayak gak ada masalah apa apa"
"Hmm aku capek Al aku gak mau bertahan dengan orang egois seperti dia"
"Egois? Maksud kamu Alvin egois?"
"Iya Al dia cuma mau pikirkan kebahagiaan dia aja apa apa harus aku yang duluan aku sudah selalu mengalah tapi tetap saja dia ngak bisa berubah"
Aku jadi ikutan sedih mendengarnya tapi kenapa Alvin bisa secuek itu?
"Mungkin Alvin kayak gitu ada alasannya sendiri sal"
"Mungkin aja Al tapi aku udah gak bisa lagi pertahanin hubungan yang hanya aku saja yang berjuang"
"Hm iya juga sih" aku mengangguk anggukan kepala saja
"Al aku duluan yah kayaknya udah gak hujan dan maaf aku jadi curhat sama kamu"
"Ah iya ngakpapa kok sal" aku tersenyum yang dibalas senyuman pula olehnya. Aku menatap punggung Salsa yang sudah menghilang dari balik pintu kantin.
Hujan ternyata sudah berhenti aku segera pergi ke caffe untuk kembali bekerja.
🍒🍒🍒
Pengunjung caffe hari ini tidak terlalu ramai karena cuaca yang gerimis dan mendung. Hanya ada beberapa pengunjung yang merupakan para pekerja kantoran yang mampir untuk minum kopi.
Aku bisa bekerja lebih santai karena jumlah pengunjung yang sedikit.
"Alya Alyaaaaa" itu suara Rena yang selain Lira dia juga suka teriak teriak memanggilku.
"Apa sih teriak teriak ini bukan di hutan kali ren" aku menatapnya kesal
"Hehe maaf kebiasaan" Rena hanya cengir tak jelas
"Kenapa? Kalau ngak penting gak usah cerita" Aku tau persis kebiasaan temanku satu ini kalau tiba tiba menghmapiriku pasti ada gosip gosip hoax yang akan disampaikannya.
"Ya ampun Al kamu harus liat kedepan ada malaikat kesini" aku mengangkat alisku bingung. Malaikat? Yang benar saja Rena ini.
"Halusinasi banget kamu. Mana ada malaikat turun kebumi"
"Ada Alya tapi malaikat kali ini gak ada sayapnya"
"Udah sana kerja kebanyakan nonton film sih kamu" aku terkekeh. Rena menekuk wajahnya lalu pergi ke dapur meninggalkanku yang terus terkekeh karena pikiran halusinasinya itu.
Aku kembali beristirahat lagi. Namun lagi lagi ada saja penggangu.
"Alya Mba boleh minta tolong ngak?" Tanya Mba Anes yang sudah ada didepanku.
"Apaan Mba?"
"Tolong anterin kopi ini ke meja nomor 3 Mba lagi masak sup takutnya nanti malah gosong"
Aku mengangguk lalu mengambil nampan dari Mba Anes dan berjalan ke arah meja nomor 3. Aku meletakkan kopi itu ke atas meja dan ku lihat pria didepanku ini seperti tidak asing karena ia menunduk kebawah.
Aku langsung berbalik namun langkahku terhenti karena suara panggilan yang aku sangat mengenal suara itu. Aku menatap kebelakang lagi dan terkejut melihat siapa pria itu.
"Levin!"
"Kemari!" Aku menurutinya dan mengambil tempat duduk didepannya.
"Ehm kenapa?"
"Besok kamu ada ujian Ekonomi kan?" Aku menatapnya lalu mengangguk.
"Ini kisi kisi soal dan ada caranya kamu bisa belajar" aku mengambil 2 lembar kertas yang disodorkan Levin. Lalu kembali menatapnya
"Aku repotin kamu lagi yah?" Aku jadi tak enak selalu Levin bersikap seperti ini padaku. Aku merasa aku menjadi penganggu ketenangannya.
"Ngakpapa" jawabnya singkat.
"Tapi kan aku selalu marah marah sama kamu kok kamu masih mau baik sama aku?"
"Jangan dipikirkan"
"Coba aja kamu gak nyeselin pasti aku bisa baik sama kamu"
Levin terkekeh namun sangat pelan.
"Maaf" katanya kemudian.
"Ehmm makasih yah aku nanti bakal belajar kok" aku tersenyum tulus ke arahnya.
Levin menatapku lama aku jadi buru buru mengalihkan pandanganku ke arah lain karena malu
"Kenapa?" Tanyanya tiba tiba ketika menyadari aku yang salah tingkah.
"Ha? Ngak apa apa yaudah aku pergi dulu aku harus kerja"
Secepat kilat aku segera meninggalkan Levin yang kebingungan karena melihat tingkahku.
Ketika sampai di dapur Rena datang menghampiriku dengan raut kesal.
"Kamu ngapain duduk sama maaikat tak bersayap aku ha?" Aku mengernyitkan dahi. Ternyata halusinasi Rena belum juga selesai selesai.
"Halu kamu kok ngak selesai selesai sih"
" aku ngak halu Alya itu malaikat aku yang duduk barusan sama kamu dimeja nomor 3"
Meja nomor 3? Yang duduk sama aku barusan? Ohh jadi maksud Rena si Manusia es itu malaikatnya. Aku baru sadar
"Oh itu Levin kakak senior aku di kampus" balasku acuh
"Ha? Kamu kenal sama dia? Wahh kenalin aku juga dong Al"
"Iyaa nanti dikenalin sama bang sudem" sambung Mba Anes tiba tiba aku tertawa dan Rena semakin kesal.
Bang sudem itu tukang ojek yang sering mangkal di depan caffe ia ojek setia Mba Anes kalau lagi dalam situasi mendadak.
"Eh iya kamu kayaknya cocok sama Bang sudem deh ren" aku terkikik geli.
"Mimpi!" Balas Rena dengan kesal.
"Kamu tuh maunya yang ganteng aja tapi muka pas pasan ngarep kamu ren" sahut Mba anes yang membuat aku tak bisa menahan tawa.
Rena menghentakkan kaki menjauh dari Aku dan Mba Anes yang terus menertawainya.
Haloo gaess aku update lagi😂
Maaf kalo kurang panjang part kali ini tapi seneng ngak Alvin sama Salsa udah putus😂😂
Jgn lupa vote and komennya yah😘
Fllw ig: lhalamamonto
KAMU SEDANG MEMBACA
SORRY!
De TodoBerharap yang tak pernah bisa aku dapatkan adalah sakit yang sudah sering ku rasakan. Sejauh jauhnya aku melangkah hati ini selalu ingin kembali berlabuh pada sesuatu yang sudah pasti dan sangat mustahil ku raih Maaf! Kata yang ingin ku ucapkan saat...
